Kamis, 09 Juni 2011

Halo Halo Bandung Ndung ... Gembelengan*

Sudah dua kali perjalanan BOL BRUTU tak aku tulis kisahnya, pertama waktu perjalanan ke muntilan dengan tragedi hujan dan lahar dingin itu, serta perjalanan mencari jejak cinta Rara Mendut-Pranacitra yang berakhir dengan pelarungan sepatu tercinta karena robek di makam pleret. Bandung di 20an Januari: sebuah perjalanan dinas, tentu saja selalu ada bonus blusukan mencari jejak prasasti masa lalu. Perjalanan menuju ke Bandung dengan Lodaya pagi pada 20 pagi, sehari selepas Zora berulang tahun, kujalani dengan sepatu baru, obat flu pancaroba lima macam dan tentu saja: Pecel Combrang di Stasiun Kroya.

Menjelang tiba di Bumi Priangan, kabar unik menyeruak: tawaran untuk menikmati gerimis senja bersama Sinta Ridwan. Aku mengiyakan, sekaligus menepati janjiku padanya untuk membiarkan ia memilih kado ulangtahunnya dariku: Buku! Kali ini kami ditemani oleh Fuad, seorang mahasiswa Antropolog UNPAD yang sedang dipersimpangan jalan, mau memilih untuk menjadi Sarjana atau Do-randus :p Akupun membeli untuk diriku sendiri: Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha serta Arkeologi Islam Nusantara, sepertinya buku yang menarik, meski melihat ketebalannya aku sudah mulai mual. Sinta pun mengiyakan ketika kusodori "Pengakuan Pariyem", salah satu buku wajib untuk membaca "perempuan jawa", meski yang selalu kuingat hanyalah fantasi Pariyem pada Kang Kliwon. Senja itu kami tutup di pojok Cihampelas, dengan rupa-rupa sesaji.

Jumat 21 Januari 2011, kumulai pagi dengan menunggu sekitar 15 menit untuk tersedianya sarapan di penginapan. Selepas 1,5 piring Nasgor-Migor, akupun plesiran di kampung belakang Cihampelas, keluar masuk gang kecil yang kadang hanya cukup untuk tubuhku, seorang. Bertanya sana sini, ini itu hingga pada sebuah pohon di kampung Cimaung, teronggok batu prasasti yang sejak 1959 telah menemani pak Oong Rusmana hingga saat ini. Perjalanan kemudian kulanjutkan ke Lembang, bersama-sama dengan sahabat KUBCA SAMAKTA yang concern pada mereka dengan Hearing Impairmant, aku menyaksikan "bunga-bunga" di Cisarua Lembang ... sangat cantik apa yang telah dilakukan para sahabat itu, untuk mendukung kawan Hearing Impairmant lainnya, bahwa mereka tidak kesepian dan sendiri. Selepas Jumatan pada sebuah masjid kecil, akupun menyudahi siang dengan "melakukan" Jalan Salib di Biara Karmel dan ditutup dengan Bandros Karmel ... alias Gandos Rangin !

Selepas sampai Cihampelas kembali, akupun bergegas menuju sebuah tempat dengan menggunakan angkot berwarna biru: Ledeng - Margahayu: menuju kantor SEMAK. Setelah mendengarkan rapat secara roaming, maka perjalanan senjapun dimulai. Kami pun menuju rumah seorang perempuan yang luar biasa: Inggit Garnasih (bukan Gandarsih!). Rumah Inggit Garnasih di Jl Inggit Garnasih (dulu namanya Ciateul), sebuah rumah tembok hasil renovasi dari rumah aslinya (rumah panggung), yang menyimpan kisah romantisme Nggit & Ngkus (nama kesayangan Inggit kepada Soekarno). Beberapa foto masa lalu, menampilkan kisah manis (sekaligus pilu) itu. Berikutnya adalah rumah abadi Inggit Garnasih di Porib Caringin, sedang direnovasi, untuk pelindung makam ibu Inggit ditutup dengan terpal warna biru, meski merah putih tetap berkibar di kompleks cungkup beliau. Kami mendapatkan bonus disini: ziarah makam Popo Hartopo, pembalap legendaris kota Bandung.

Senja mulai gelap, namun kami tak hendak berhenti, maka sejak maghrib hingga menjelang Isya kami kongkow-kongkow di dalam kompleks makam Para Bupati Bandoeng, selain para Bupati dilokasi tersebut bersemayam pula Hasan Sadikin, Dewi Sartika dan Suaminya, serta berbagai tokoh pemerintahan dari Jawa Barat seperti para demang, adipati, bupati dari Tasikmalaya, Sumedang, Garut dan sebagainya. Terdapat pula kompleks berpagar yang menurut pak alias adalah makam keluarga dari "palembang", makam tertua dicungkup tersebut bertarikh 1901. Selepas melewatkan Situs Dewi Sartika dan Kopi Aroma, akupun mengisi malam dengan packing, karena esok perjalanan ziarah situs belum selesai. Akupun tak sempat lagi ke Gedung Indonesia Menggugat untuk mengikuti kelas aksara sunda kuno bersama Sinta Ridwan.

Setelah pagi menikmati masjid Mungsolkanas di Cihampelas, sebuah nama yang unik untuk sebuah masjid, maka akupun siap untuk cek-out. Sabtu, 22 Januari 2011, sebuah tanggal penting untuk Iwan Fals hingga lahir sebuah lagu. Hari ini juga menjadi cukup penting, karena aku merasa terhormatbermotor ria bersama Tatang, ia meninggalkan mertuanya yang sedang berkunjung hanya untuk menemaniku jalan. Berboncengan dengan Tatang Rahman juga selalu mengasyikkan, aku menjadi sangat relijius, karena selalu berdoa sepanjang jalan, kami tak pernah berada di jalur kiri, selalu di kanan, byuh he he he semoga Tatang tidak kapok untuk menemaniku jalan-jalan lagi di Bandung dan sekitarnya. Perjalanan pertama adalah menuju ke Padalarang untuk menyaksikan perkampungan purba di Gua Pawon, sebuah gua yang pernah dihuni oleh manusia Bandung Purba yang letaknya satu bagian dari danau Bandung Purba. Nama Pawon sendiri merujuk pada kisah legenda Sangkuriang, salah satu ruang di Gua dianggap sebagai dapur dari Dayang Sumbi. Alhamdulillah bisa keringatan, kunang-kunang dan mengkis-mengkis, cukuplah membakar kalori, untuk itulah kami kemudian merasa wajib untuk menikmati Kupat Tahu Padalarang!

Kami kemudian menuju Kerkhof Leuwigajah, ada Ereveld dan tentu saja tak boleh masuk tanpa ijin resmi Kedutaan Belanda bagian Ereveld. Namun karena dari pagar jaraknya dekat, maka lumayanlah bisa ambil zooming sedikit. Makam Belanda di kompleks luar, hanya sedikit, kebanyakan adalah makam Kristen dan Tionghoa "masa kini". Kami kemudian menuju Cigondewah, namun bukan untuk beli kain tapi menuju Makom Mahmud, sebuah makam yang berada di kampung adat yang bentuk rumahnya cukup unik. Rumah panggung dengan bahan bambu (gedeg) sebagai dinding-nya. Tokoh-tokoh yang dimakamkan disana, diyakini sebagai salah satu penyebar Islam pertama di Bandung. Pada hari-hari tertentu, bisa ribuan orang berziarah di lokasi ini. Selepas menikmati lagu dangdut pada sebuah warung, kami kemudian balik menuju Bandung. Sekitar pukul empat sore, kami hanya mendapati Kopi Aroma yang tutup. "Kembali kesini senin aja, Sabtu tutup jam 3 sore", okelah lain waktu aku kan datang. Sesungguhnya masih bisa ke Cikutra, tapi karena mengalami kelelahan secara hewani, maka kuputuskan untuk menunggu Turangga di Stasiun Bandung saja. Dinihari sekitar jam 3 pagi, aku telah tiba di Jogja Utara.

Minggu pagi, akupun mengantar Istriku ke Bandara untuk kembali ke Barat, dan selepas mampir di Yoni yang Tenggelam dalam Sunyi di Bendungan Sumber Berbah, akupun kembali ke Jogja Utara menikmati sisa hari bersama Alin dan Zora, bertiga saja ....

===========================================
*parodi lagu ini, pernah muncul dalam salah satu buku serial Lupus dari Hilman

oleh Cuk Riomandha pada 29 Januari 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar