Sabtu, 28 Juli 2012

Dusun Pandes: Mbah Karto dan Mbah Karjiyem, I Love You Full !


Sesungguhnya sejak beberapa waktu lalu, saya ingin mengajak Alin dan Zora sowan ke kampung Pandes Panggungharjo Bantul. Ihwalnya, sejak Alin khusyu’ membuat mainannya sendiri dengan barang-barang yang ada di Rumah. Akhirnya, Sabtu 25 Februari 2012, saya, istri, Alin, Zora dan Bibi Henny sampai juga di dusun Pandes.

Beberapa media telah memberitakan tentang dusun Pandes, dimana banyak simbah-simbah yang membuat mainan tradisional berbahan kertas dan bambu, seperti wayang, othok-othok, sangkar burung atau kipas lipat. Media seperti Kompas atau Kick Andy pun sudah meliputnya.


Piramida Sewon adalah ancer-ancernya, karena dusun Pandes persis di sebelah Baratnya. (Entah apakah Andi Arif cs sudah pernah ke Piramida itu atau belum). Kami masuk lewat belakang dusun. Dari simbah-simbah nongkrong yang kami tanya, kamipun dirujuk untuk mencari rumah Mbah Atmo, Mbah Karto atau Mbah Rejo. Siapa mereka? Mereka adalah tokoh utama dari legenda mainan tradisional di dusun Pandes ini, merekalah yang membuatnya.

Kami hanya sempat beranjangsana ke rumah mbah Karto yang bersama anaknya mbah Karjiyem secara rutin memproduksi mainan tradisional berbahan kertas. Dahulu, simbah-simbah ini juga berjualan keluar masuk pasar tradisional mulai Gamping sampai Piyungan. Kini mereka membuat sekedar untuk pesanan saja, selain penjual keliling katanya anak-anak ISI adalah konsumennya. Selain untuk keperluan pameran mungkin juga digunakan dalam rangka tugas kuliah, entahlah.


“Mbah niki wayang nopo?” istri saya bertanya kepada mbah Karto
“Simbah mboten pati miring, radi keras mawon,” sang cucu yang menemani kami mengingatkan
“Mbah menika wayang nopo?” istri saya mengulang pertanyaan kepada mBah Karto
“Gatotkoco,” jawab mbah Karto lirih
“Lha menawi menika wayang nopo?”, istri saya kembali bertanya dengan suara keras
“Gatotkoco,” jawab mbah Karto kembali
“Lha kok benten, mbah?” istri saya bertanya sambil tersenyum kecil
“Kulo mboten ngerti, niku nggih wayang … ngaten,” seru mbah Karto sambil tertawa
Kamipun kemudian tertawa berjamaah, dipimpin mbah Karto …

Mbah Karto ini usianya diyakini sudah lebih dari 100 tahun, anaknya yang tertua mbah Karjiyem usianya sudah sekitar 70an. Ia memiliki 7 anak, 1 sudah meninggal. Mbah Karjiyem sendiri tidak menikah, beliau adalah orang dengan disabilitas: Tuna Rungu. Mbah Karjiyem bisa berbicara cukup lancer, meski tidak banyak. Kini mbah Karjiyem lah yang meneruskan produksi mainan kertas ini.


Mainan-mainan seperti Wayang, Othok-othok, Kipas Lipat, Payung Kertas produksi mbah Karjiyem dan mbah Karto ini, masing-masing perbijinya dijual seharga seribu rupiah!

 Saya kira ini bukan soal industri, wisata, komersial dan sejenisnya. Tapi ini adalah soal CINTA! Ini soal cinta mbah Karto dan mbah Karjiyem pada dunia mainan dan anak-anak, seribu rupiah hanyalah sekedar “transformasi cinta” kepada mereka yang tertarik padanya. Mbah Karjiyem juga menyempatkan diri mengajari kami membuat Payung Kertas dan Sangkar Burung.


Tulisan ini pun bukan untuk menggugat soal marginalisasi permainan tradisional ditengah serbuan mainan plastik murah(an) dari Negeri Sabrang. Tulisan ini juga tidak bermaksud menggugat soal ancaman punahnya mainan tradisional jika simbah-simbah itu sudah berada di surga. Jaman pasti berubah, ada yang akan hilang dan ada yang akan hadir. Pilihan-pilihan semakin hari pasti lebih bervariatif, termasuk soal mainan anak-anak.

Tulisan ini hanyalah soal Cinta. Cinta saya kepada Alin dan Zora, mengajak mereka membuka ruang di hati mereka bahwa selain boneka Barbie, film-film di TV ada juga mainan atas nama cinta ala mbah Karto dan mbah Karjiyem. Pilihan tetap ada pada Alin dan Zora, kalaupun nantinya mainan seperti ini sudah hilang, minimal mereka tetap mengingatnya di dalam hati, tentang hari ini.


Hari ini memang terasa sempurna, meski hujan deras mengguyur Jogja Utara, disertai padamnya listrik. Ya berkat cinta mbah Karto dan mbah Karjiyem, Alin dan Zora riang bermain wayang ditemani nyala lilin. Sambil memegang wayangnya Zora grememeng bernyanyi “lagu-lagu Islami” yang ia peroleh di sekolahnya. Saya kemudian menggunakan wayang tersebut untuk menakut-nakuti mereka dengan suara ala Suzanna, kemudian Alin dan Zora bersembunyi di bawah selimut sambil tertawa ngakak …

“Ayah, mau cerita apa?” tanya Alin
“Semar royokan mie ayam dengan Bagong!,” jawab saya
Alin pun kemudian mendalang, “Woi Semar, mie ayam ku ngendi?”
“Lho kok Bagong gak sopan sama ayahnya?” saya mengingatkan
Alin hanya "mringis kelinci" sambil meneruskan lakon-nya.
Saya menahan tawa melihat adegan Petruk memarahi Semar, supaya tidak merebut mie ayamnya Bagong.

Ah … tak lama berselang Alin menyudahi “pentas”-nya karena sudah ngantuk
Ah … tak lama berselang Listrikpun menyala dan mereka kembali ke TV
Ah … tapi cinta mbah Karto dan mbah Karjiyem telah hadir di keluarga saya hari ini

Nuwun Mbah, I Love You Full !

diunggah di fesbuk oleh Cuk Riomandha pada 25 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar