Tampilkan postingan dengan label Situs-Candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Situs-Candi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Haiku Kunjorowesi-Dharmawangsa



(1)
menyisir pagi
tapak nafas mengalir
menjemput rindu


(2)
griya pawitra
di altar dharmawangsa
ku mengingat-Mu!

Oktober 2012

==========
Candi Dharmawangsa,
Gunung Gajah Mungkur Penanggungan,
Tlogo, Kunjorowesi, Ngoro Mojokerto. 

Foto oleh CR & EH

*Haiki haku sinahu Haiku :-p

On FB, 10 Oktober 2012

Kamis, 17 November 2011

Alkisah Tentang 2 Tahun BOL BRUTU: "Ayahku bekerja sebagai BOL BRUTU"


PROLOG
Pada suatu pagi, pada sebuah buku pelajaran, Alin mengisi “Kegiatan Keluargaku”: Ayahku bekerja sebagai BOL BRUTU ... Sebelum berangkat kerja, Ayahku menyiapkan kameranya. Tafsir Alin atas “kerja” ayahnya, sesungguhnya menunjukkan tentang kecanduanku atas blusukan, nyandi itu nyandu. Senyatanya BOL BRUTU-lah yang memang membuatku keranjingan untuk melakukan perjalanan, baik bersama para Brutus, bersama Alin dan Zora atau sendiri saja selama dua tahun terakhir. Setiap akan ada perjalanan (dinas), saya selalu menyempatkan untuk mencari informasi terlebih dahulu tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi dan didokumentasikan. Tapi BOL BRUTU itu apa sih?

Tentang GANA dan BOL BRUTU
Logo GANA hadir lebih dulu daripada nama “BOL BRUTU”, logo yang merupakan hasil pertapaan Kris Budiman di Candi Morangan selama beberapa abad. Ini kesaksiannya:

“kalo kita pake logo gana bisa seolah-olah lebih "filosofis", cuk... biar ketok serius. figur gana bisa kita reka-reka sebagai misi gerombolan yg seakan-akan mulia: menopang atau menyokong segala upaya yg berkaitan dgn preservasi atau whatever, entah candi atau bangunan2 dan segala macam peninggalan bersejarah yg lainnya. lagi pula, secara fisik si gana itu lutuna ruar binasa. dia gemuk-bujel, posenya jongkok seakan bengis, badannya kuntet mangkulangit... belum ada simbol lain yg lebih tepat untuk gerombolan kita, keknya, selain si dewa cebol ini.” 

Sementara melalui berbagai diskusi ceria yang melibatkan Rafael, Putu Sutawijaya, Davina Anggraini, Mas Ayu Kumala Yulia, Mahatmanto, Kris Budiman dan diriku, maka pada Maret 2010 terpilihlah "BOL BRUTU", kependekan dari geromBOLan pemBuRU baTU.

Mengingat makna sebenarnya dari BOL & BRUTU yang merujuk pada organ pembuangan, serta juga GANA yang kurang popular dibanding Arca Dewa-Dewi lainnya. Secara filosofis “othak-athik gathuk”, pilihan ini sedang berusaha memberi “nilai lebih” dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak penting, (mungkin) tabu dan (tentu saja) marjinal.

Jadi kira-kira nama dan logo tersebut adalah dalam rangka kami melakukan aktivitas melihat dan memaknai kembali situs-situs marjinal yang selama ini terlupakan, sesuatu yang sebetulnya sudah lama dimulai oleh Risky, Pey, Agung Leak dan Jean Pascal Elbaz. Juga beberapa kelompok legendaris seperti pasukannya Landung Simatupang, Gati Andoko dan kawan-kawan yang melakukannya sejak Ringroad belum ada, atau rombongan para pertapa antro seperti Danu, Margono, Engel dan sejenisnya.


Tentang GEROMBOLAN
Gerombolan dipilih karena memang sejak awal kita suka bergerombol, ngruntel koyo mbako, untuk melakukan perjalanan bersama. Gerombolan dipilih karena BOL BRUTU bukan institusi resmi yang mempunyai visi dan misi tertentu, selain bahwa kita berbagi keceriaan, kebahagiaan, keindahan di Batu-batu yang kami datangi. Gerombolan ini sifatnya terbuka buat siapa saja, dari golongan apa saja … baik yang memiliki agama maupun yang baru memikirkan untuk akan beragama. Gerombolan ini memilih Media Visual, Teks dan Facebook sebagai alat pemersatu.

BOL BRUTU, semua yang terlibat didalamnya memiliki posisi yang (relatif) setara. Jadi meskipun Mahatmanto adalah seorang yang sangat menguasai soal Space & Place, tapi yang memikirkan untuk membuat denah situs-situs di Prambanan adalah Nikko, seorang lelaki tanggung yang (waktu itu) belum lulus kuliah dan menghabiskan waktu dengan pacaran dan menjadi penjaga warnet. Putu Sutawijaya yang rumahnya magrong-magrong itu bahkan sering (hanya) menjadi sopir dari perjalanan-perjalanan BOL BRUTU.

Kebhinekaan BOL BRUTU ini begitu cair, sehingga kita kadang bisa tenggelam di dalamnya. Tenggelam dalam keceriaan, tenggelam dalam perbedaan, tenggelam dalam kecanduan, tenggelam dalam ke-lebay-an. Untunglah selalu ada penyelam dan perenang yang handal sehingga kita bisa relatif cukup waspada kapan harus slulup kapan harus mecungul. Intinya, keanekaragaman individu itu bisa cukup saling mengisi dan membuat BOL BRUTU tetep cihuy

Tentang CITRA dan IDENTITAS
Mengingat sifatnya sebagai Gerombolan yang cair dengan kebhinekaan individu maka cukup sulit untuk melakukan Identifikasi BOL BRUTU dalam pencitraan seperti yang dibayangkan oleh Eriksen (1993: 117-118) yang mengatakan bahwa identitas dibangun dari seleksi dengan batasan yang bersifat semena-mena, hanya dari satu bentuk budaya yang dianggap sangat penting dan dapat mewakili secara keseluruhan. Melihat hal itu, dapat dilihat bahwa bagaimanapun juga, citra kolektif pun dibentuk oleh sekelompok orang. Citra kolektif tergantung pada subyektifitas. Eriksen juga mengatakan bahwa identitas selalu dibangun berdasarkan legitimasi sebuah bentuk lembaga yang berkepentingan.

Tanpa bermaksud menggugat maksud baik, percobaan yang dilakukan pada akun Twitter BOL BRUTU yang dikelola oleh perorangan. Para pandemen BOL BRUTU ternyata memiliki kesadaran kolektif akan sebuah Identitas ke-BOL BRUTU-an dan kurang setuju atas tafsir tunggal tentang ke-BOL BRUTU-an. Kenneth Boulding (1972: 41-51) menyatakan citra sebagai sebuah bentuk pengetahuan subyektif. Dari sudut pandang individu citra merupakan gabungan informasi dari pribadi individu serta pengetahuan budaya dari masyarakat atau publik. Salah satu bagian dari citra adalah sejarah terbentuknya citra itu sendiri, sebuah proses munculnya kesadaran tentang citra. Pada gilirannya, ketika sekelompok manusia berbagi citra yang sama maka rangkaian pesan-pesan yang diterima dalam membangun citra adalah identik, sehingga sistem nilai dari semua individu harus dilihat secara identik. Kasus atas akun Twitter BOL BRUTU adalah bagian dari sejarah kesadaran kolektif tentang pencitraan identitas dari BOL BRUTU.

BOL BRUTU memilih untuk berada di (ruang) aktivitas dokumentasi situs-situs marjinal serta (sekali lagi) berbagi keceriaan. BOL BRUTU tidak memilih berada di ruang-ruang yang sudah menjadi pilihan “gerombolan yang lain” seperti BP3, Aktivis Heritage (resmi), Balai Arkeologi dan sejenisnya, bahwa individu-individu di BOL BRUTU punya concern kesana itu sah dan sangat bagus. Namun perlu diingat, seperti yang pernah diungkapkan oleh Putu Sutawijaya pada MY-MAGZ:

“BOL BRUTU bukan komunitas berat yang mempelajari secara detail atau anggotanya harus hafal betul mengenai sejarah. Kami hanyalah orang-orang yang punya imajinasi sendiri tentang apa yang kami temui dan kami semua suka berpetualang”

Ungkapan Putu Sutawijaya tersebut bisa dipahami bahwa BOL BRUTU selalu mengakomodasi fantasi-fantasi personal, sekalipun sudah terbangun kesadaran pengetahuan kolektif akan identitas BOL BRUTU.

Ken Plumer (1994: 271) mengungkapkan bahwa identitas merupakan proses penamaan atau penempatan diri di dalam suatu kategori atau konstruksi sosial tertentu. Identitas sendiri juga merupakan sebuah konstruksi sosial, dalam arti kita mengekspresikan diri kita yang bisa diterima oleh orang “lain” dalam menilai identitas diri kita sendiri . Konsep identitas ini muncul ketika sesuatu hal berhadapan dengan sesuatu hal yang lain. Identitas kemudian merupakan sebuah batasan dalam rangka membedakan diri dengan yang lain.

Namun demikian, saya meyakini bahwa Identitas yang dibangun atas kesepakatan pengetahuan bersama dan kesadaran kolektif ini sifatnya akan negosiabel, karena semua individu yang aktif di BOL BRUTU memiliki kontribusi setara dalam membangun Citra Identitas BOL BRUTU, kemarin, sekarang dan esok.


EPILOG
Ini hanya sekedar tulisan sok intelek, yang ingin saya bagi atas tafsir pengalaman terhadap BOL BRUTU yang saya pahami. Sekaligus dalam rangka berbagi kebahagiaan dan keceriaan setelah 2 tahun, sejak saya, Kris Budiman, Putu Sutawijaya dan Ery Jabo melakukan perjalanan ke Situs-situs Kyai Sadrach di Purworejo. Perjalanan yang menjadi salah satu tonggak kehadiran BOL BRUTU, perjalanan yang membuat saya kecanduan kepada Candi, Makam, Rumah-rumah ibadah, dan bangunan tua lainnya … sebagai tempat yang asyik untuk di datangi dan di dokumentasikan.

Setelah tahun lalu milad pertama BOL BRUTU dirayakan di Kompleks Percandian Sengi dan Taman Jiwa, Muntilan pada 10-10-10, maka tahun ini BOL BRUTU akan merayakan Ultah keduanya pada 11-11-11. Disepakati pula bahwa 11 November 2011 adalah 3 x 24 jam, tanggal 12-13 November dianggap mangkir  :-d

Ok ini tafsirku, bagaimana dengan Tafsirmu atas BOL BRUTU?

SELAMAT ULANG TAHUN BOL BRUTU … AKU PADAMU !
BLUSUKAN MARAI TUMAN !
NYANDI ITU NYANDU !

=====================
Sumber Kutipan:
-  Kenneth E Boulding, “The Image”, dalam James P. Spradley (ed.), Culture and Cognition. San Fransisco: Chandler Publishing Company 1972
-  Ken Plummer, “Identity”, dalam William Outhwaite & Tom Bottomore (eds.), The Blackwell Dictionary of Twentieth Century Social Thought. Oxford: Blackwell Publishers 1994
-  Kris Budiman, Tentang Nama dan Logo Bol Brutu, Facebook Oktober 2011
-  My Magz Edisi # 7, Februari 2011
-  Thomas Hylland Eriksen, Ethnicity & Nationalism: Anthropological Perspectives. London: Pluto Press 1993

Sumber Foto:
1. Courtesy of Kalinda Almaxaviera
2. Courtesy of Kris Budiman
3. Courtesy of Pande Ketut Taman & Feintje Likawati

diaplot di Fesbuk oleh Cuk Riomandha pada 25 Oktober 2011 jam 15:47


Jumat, 24 Juni 2011

"Bahaya" Budaya Visual: Refleksi atas Setahun BOL BRUTU

Semalam berdiskusi dengan sahabat dari negeri matahari terbit mengenai “berbahaya”-nya Visual Culture apalagi dengan pemutakhiran ruang social networking macam Facebook, Twitter, Blogspot dan lainnya yang mungkin dulu belum sempat dianalisa mendalam oleh Roland Barthes atau Susan Sontag. Saya belajar banyak karena sahabat tersebut sangat mumpuni untuk menjelaskan soal Visual Culture, Privacy, Regulasi ataupun Hidden Impact.

Sejujurnya ini merupakan diskusi lama yang selalu hadir sejak saya mencuri dengar dari PM Laksono di kelas ETNOFOTOGRAFI. ”Melalui kamera, sepersekian detik sesungguhnya telah terjadi pembunuhan atas subyek menjadi sebingkai potret. Di kelas itu pula diskusi soal the Author is Dead hadir melalui wacana “out of frame” bahwa foto tertentu dapat memancing diskusi yang lebih luas dan tak terkontrol. Mendiskusikan soal tersebut kemudian dianggap lebih berfaedah daripada sekedar diskusi soal ISO, Speed atau Diafragma meski tanpa pengetahuan teknis memadai, proses Camera Obscuradan Camera Lucida bisa jadi gagal.

Meyakini “ke-berbahaya-an” Visual Culture dan melihat Kamera sebagai “alat kuasa”, kawan-kawan seperti KAMPUNG HALAMAN atau ETNOREFLIKA kemudian bahkan “memberikan” kesempatan menjadi “penguasa visual” kepada “orang biasa”. Menampilkan sesuatu dalam bingkai visual tak lagi menjadi dominasi otoritas tertentu, semua pihak berhak mem-visual-kan otobiografinya sendiri. Antropolog yang baik tak hanya bekerja dengan Liyan tapi juga mestinya bekerja untuk Liyan.

Logo BOL BRUTU (Courtesy of Kris Budiman)
Gerombolan Pemburu Batu (BOL BRUTU), setahun terakhir secara sporadis mendatangi berbagai tempat bersejarah maupun tempat dengan kisah tersembunyi serta kemudian secara bertubi-tubi pula mengabarkan hasilnya, salah satunya melalui Facebook. Respon cukup variatif akan kenarsisan kami dari aktivitas yang sudah Nyandu ini: Nyandi itu Nyandu! Tanpa perlu diingatkan sesungguhnya kami merasa gelisah, terutama mengenai Privat-Publik maupun Respek terhadap kepercayaan setempat. Kami akan menutup lensa kamera di lokasi-lokasi yang memang dilarang untuk dipotret, dan kami juga akan berusaha tak mengaplot hal yang sifatnya sangat pribadi. Sesekali kami terpeleset, sesekali kami juga nekat karena alasan tertentu.

Museum memiliki regulasi tiket dan di beberapa museum dilarang untuk memotret. Situs-situs yang pernah di datangi BOL BRUTU ada yang seperti museum, ada yang tidak. Pertanyaan lanjutannya, bagaimana jika tak semua orang baik-baik yang mengakses Ziarah Visual dari BOL BRUTU tetapi juga para ”maling benda heritage”? Apakah itu kemudian menjadi tanggung jawab BOL BRUTU? Menurut saya, memang cukup naif jika menganggap kami menjadi sumber informasi utama, mengingat paman google menyediakan informasi yang lebih luas (termasuk untuk kami).

Jazz and Stone
Boleh tidaknya kami mem-publik-kan koleksi museum atau situs-situs insitu memang akan menjadi debat panjang. Pada titik tertentu isu soal ”kelas” bisa saja muncul, tak semua orang bisa dengan mudah mengakses Museum atau Situs Insitu, regulasi dari "rezim intelektual menengah atas" membatasinya. Ketika Putu Sutawijaya ke Paris beberapa waktu lalu, saya (yang tak pernah punya paspor ini) berharap dapat ikut menyaksikan koleksi museum disana atau situs disana melalui mata kamera beliau. Ironis juga bahwa untuk mengetahui sejarah negeri kita sendiri, kita harus ke Leiden. Contoh yang lain: Arkeolog Indonesia bahkan tak sempat meneliti Candi Cebongan dan Prasasti-nya selain melalui studi pustaka. Sebaliknya, tanpa kita mem-publik-kan ziarah visual BOL BRUTU, pencurian dan perusakan di museum dan situs-situs telah terjadi sejak jaman sepur lempung. Jadi mestinya ke-(peng)-tahu-an ini bisa aksesibel untuk semua, inklusif!

Maksud baik kami adalah sepenuhnya untuk mempermudah akses informasi untuk para sahabat kami, sokur-sokur pihak yang berwenang kemudian memperbaiki fasilitas maupun keamanan di lokasi-lokasi yang terlihat rawan di foto-foto kami. Gola Gong di Balada Si Roy, kira-kira mengatakan: ”orang jahat akan selalu mengintai”, tapi ia juga mengatakan bahwa ”Orang baik ada dimana-mana”. Saya terbiasa mengatur ”Hanya Teman” untuk semua album foto di facebook, memilih hanya 100 orang dari 1000 teman yang bisa melihat sama artinya dengan saya meyakini 900 teman yang lain berpotensi jadi ”maling”.

Pengamat Lingga

Jadi, bolehkah soal maling dan sekuritas itu tak menjadi beban BOL BRUTU?
Jika Maksud Baik dan Prasangka Baik tak lagi cukup, apakah kami harus Berhenti?
Saya masih ingat juga Quotes dari Pak Laksono ”Mengingat untuk Melupakan”.
Di usia yang setahun ini, kami sangat terbuka dengan segala kemungkinan dan masukan.

Cuk-Jogjakarta 7 Oktober 2010
3 hari menjelang milad BOL BRUTU

Beri Aku Kesempatan

Prasasti Ciaruteun
Beri aku kesempatan
Menangis ...
Dengan bahasa paling sepi
Di tempat paling gelap

Prasasti Pieter Erberveld (courtesy of Inah)
Beri aku kesempatan
Menangis ....
Dengan bahasa paling sepi
Di tempat paling gelap
Malam ini ....

Prasasti Nanggulan (courtesy of Inah)
Di batu batu, Prasasti mengabur di pendam waktu
Di batu batu, Prasasti mengabur di pendam waktu
Di batu batu, Prasasti mengabur di pendam waktu
Di batu batu, Prasasti mengabur di pendam waktu

Prasasti Batu Tulis
Beri aku kesempatan, menangis ...


===============================================
diciptakan dan dinyanyikan MUKTI-MUKTI (syair: Kartawijaya)
di albumnya "Musik Kamar" 1989 ...

oleh Cuk Riomandha pada 09 Oktober 2010


BATU*

ada batu 
tenggelam 
jauh 
di dasar
sudah lama 
sangat lama

Kedulan

tapi barangkali masih diingatnya sore itu
waktu tanganku yang marah penuh cemburu
menjumput dan melemparkannya
mencabut dia dari menungnya di bawah pohon nangka

sungguh kuingin dia, karena alasan yang begitu saja,
ingat saat itu malam ini, sama terusik gerimis panjang

penjara airnya gelap berat dan dingin
sementara sekap risauku lembab dan asing

Sukuh

dalam gigil udara yang aneh
waktu mengulurkan sesuatu kembali
dan aku takut menyambutnya hanya sendiri
kuingat sobatku, batuku:
maka kulepas tanganku kanan lalu kiri
mereka berenang dan menyelam
maka kuceburkan kaki, kanan dan kiri
mereka menyelam dan mencari
maka kuselamkan tubuh, kubenamkan kepala
......... hanya lumpur lumut ganggang
di tepian kolam waktu membeku. sombong membisu
tangannya terlipat, tak terulur lagi padaku
di atas meja dalam kamar kutemu batu
merenung nyala lampu.
tanganku yang gatal dan geram melemparkannya keluar.
kudengar jerit lalu suara tubuh mencebur kolam:
aku
tak lain tak bukan. kuyup dan sendiri. menggapai. pelan
tenggelam. dalam gigil waktu yang ganjil kau ulurkan
tangan padaku.
sepi yang teka-teki 
tariklah aku
ke lubukmu

----------------------------------------------------------------------
dicuri dari FB-nya mas Landung ...
*by Landung Rusyanto Simatupang, 1979

cocok juga kayaknya buat BOL BRUTU he he he,
matur nuwun mas Landung karena pernah menulis puisi BATU ini ...


oleh Cuk Riomandha pada 21 Oktober 2010

Rabu, 22 Juni 2011

Bhūmi Sambhāra Bhudhāra

Perjalanan ini terjadi karena seorang Apriadi Ujiarso, berkat beliau aku mendapatkan foto Borobudur 1930 dari Tropen Museum Amsterdam. Dari foto tersebut pula aku bisa berkenalan dengan mas Marsis Sutopo, yang kemudian kami tahu adalah Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Beliaupun sudah berkomen: "Oke, sy tunggu di Balai Konservasi..." nah tentu saja karena belum cukup PD maka aku mengajak opa Kris Budiman, Jumat kita ke Borobudur. Mohon maaf perjalanan ini memang "tidak resmi" di share ke Brutuis yang lain karena kami memang gak bisa mengajak banyak orang dalam perjalanan ini, semata-mata agar tak menjadi "wisata bencana". Henny dan Mufid ikutan sebagai relawan merapi di mobile klinik paska trip, dan Ida Fitri yang meminta ikut setelah membaca komen-komen di foto. Namun, dari pengalaman dan pengetahuan dari perjalanan ini, mungkin BOL BRUTU (gerombolan pemburu batu) bisa merencanakan sesuatu untuk situs-situs "minor" yang telah disapa abu-abu Merapi.

Banyak pengetahuan istimewa yang kami dapat dari kunjungan singkat bertemu mas Marsis Sutopo. Setelah selesai membersihkan Borobudur dari abu merapi pada tanggal 2 November 2010, ternyata merapi "melumpuhkan" Borobudur pada 5 November dinihari, pohon-pohon bertumbangan, dan debu tebal kembali menyelimuti Borobudur. Joke Arkeolog-nya adalah "hanya dengan penggalian satu strip maka langsung ditemukan lantai candi". Nah, Sulfur yang hadir bersama pasir abu merapi sifatnya korosif dan bisa merusak batu, maka sebagai antisipasinya adalah setelah dibersihkan dengan air (1 Stupa sekitar 10 Ember), sulfur di netralisir menggunakan "Soda Kue" dengan ukuran 1/4 ons dicampurkan 10 liter air untuk 2 Stupa, setelah itu Stupa akan dibungkus plastik, aktivitas ini adalah untuk merubah PH 5 menjadi PH 7. Jika merapi sudah relatif mereda, maka plastik-plastik itu akan dibuka lagi untuk dibersihkan ulang menggunakan air. Pengalaman dahsyat buat kami yang menyaksikan sendiri bagaimana abu merapi menyelimuti borobudur, pengalaman yang tak terjangkau juga bagi kami bagaimana mas Marsis dan kawan-kawan dengan ratusan relawan dari berbagai tempat melakukan pembersihan Candi Borobudur ini. Sesuatu yang harus dilakukan dengan cepat, karena tutupnya Borobudur juga sangat mempengaruhi denyut nadi kehidupan masyarakat sekitarnya. Maturnuwun mas Marsis Sutopo atas kesempatannya mendapatkan "traktiran terdahsyat", Selamat Ulang Tahun juga (maaf tadi saking asyiknya ngobrol malah jadi lupa mengucapkan selamat) ... kami merasa istimewa, bisa parkir motor hanya beberapa meter dari Sambhāra Bhudhāra.

Selepas jumpa pers sejenak dengan jurnalis tv swasta, maka kami kemudian bergerak menuju Kerkhoff Mendut ranting-ranting yang kemarin menutup beberapa makam sudah mulai bersih, namun abu-abu merapi masih mendledek di nisan-nisan. Sejenak ritual kecil Bol Brutu dilakukan tanpa dupa hanya helm hitam. Kamipun kemudian bergegas ke Candi Mendut (melewatkan Candi Pawon), masih dibuka untuk umum, meski kegiatan pembersihan juga masih dilakukan. 

Dari candi Mendut kami beringsut ke Monastery yang sedang dibersihkan oleh relawan dari Kediri, Monastery ini juga digunakan menginap para relawan yang membersihkan Borobudur yang berasal dari Semarang (PATRIA: Pemuda Theravada Indonesia). Kami hanya sejenak berada disini, karena ingin menikmati PURNAMA di tepi sungai pabelan. Pecel Wader dan Teh menjadi menu wajib kami semua.

Selepas dari PURNAMA, kami kemudian bergabung dengan rombongan mobile klinik KKY (Kerabat Kota Yogyakarta) yang mengadakan pengobatan gratis di Tangkilan sekitar 200 meter dari Purnama. Pembagian tugas dilakukan, Heny dan Ida menjadi teman curhat para penyintas yang rata-rata dari Grogolan Dukun Magelang, Mufid menjadi penerima pendaftaran periksa, aku bertugas untuk farmasi dan KB mendokumentasi. Menjelang maghrib Ida dan KB balik menuju Jogja, dan selepas maghrib aku menitipkan Henny dan Mufid ke kawan-kawan KKY karena layanan mobile klinik belum selesai, sementara aku segera menuju Turi. Sori Henny dan Mufid, aku hanya menjalankan mandat bos kalian di Blitar, tujuan ke Jogja adalah menjadi Relawan ... sampe malam. Oh ya mas Edy Hamzah adalah salah satu aktivis mobile klinik di KKY yang biasanya bertugas untuk urusan farmasi dan konsumsi.

Kabar bahwa daerah Turi zona aman telah berubah menjadi 10km tentu membuat hati berbinar, rasa rindu terhadap rumah semakin membuncah. Tak lama berselang aku tlah sampai di rumah, listrik tlah menyala ! cihuy! maka Ihik dan libil di rumah sendiri tak lagi menjadi wacana panjang he he he Esok kami akan mencoba membersihkan rumah tercinta, ayo yang mau jadi relawan di rumahku, silahkan gabung, he he he ....

Selamat Malam Sahabat Merapi !
Tetap Semangat, Selalu Waspada, Pantang Panik dan Cihuy ...

oleh Cuk Riomandha pada 19 November 2010