Tampilkan postingan dengan label Bantul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bantul. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juli 2012

KATARUNG ... Curhat Jreng Jreng


Ketika pertamakali membaca undangan pentas KATARUNG, ingatan saya melompat ke masa kecil di Surabaya, ketika saya mengagumi petikan gitar, ukulele dan suara parau tetangga sebaya yang menyanyikan “Bandar Jakarta” dan “Sinanggar Tulo”. Saat itu era 1980an, saya masih SMP dan banyak mendengar lagu-lagu dari Iwan Fals atau Doel Sumbang ketika nongkrong di gardu ronda. Hingga pada suatu saat, Ibunda marah-marah ketika mendengar Doel Sumbang menyanyikan lagu Juminah. “Lagu macam apa itu?”, seru beliau geram. Sejak saat itu sambil terus mendengarkan Doel Sumbang secara sembunyi-sembunyi, saya diperkenalkan oleh Ibunda pada lagu-lagu dari Leo Kristi, Gombloh, Franky & Jane dan Ebiet G. Ade. Tentu saja Leo Kristi sangat membekas karena ketika masih SD, ibunda pernah “menyiksa” saya dengan mengajak berkeringat kepanasan menonton pentas-nya di Gelora Pancasila Surabaya. Gombloh … siapa orang Surabaya yang tak mengenalnya? Penyanyi bohemian yang suka membagi-bagikan bh dan cd baru untuk para penghuni Dolly. Ketika SMA saya pernah memiliki grup band, sebelum pentas pertama Kantata Takwa di Jakarta, grup saya sudah ditonton ribuan orang di Tambaksari. Saat itu kami membawakan lagu Bento, Cinta dan Dirimu (SWAMI dan Gank Pegangsaan). Tentu saja ribuan orang datang saat itu dari berbagai penjuru Jawa Timur, karena kami adalah band pembuka dari Ceramah Zainuddin MZ (alm) … hi hi hi


Pengembaraan apresiasi musik saya semakin luas ketika saya hadir di Jogjakarta pada tahun 1992. Pentas Sawung Jabo di Gedung Pusat pada 17 Agustus 1992 adalah awal saya terjebak semakin dalam. Apalagi kemudian lagu-lagu jenaka dan Simon Garfunkel sering saya dengar dari rombongan Sastro Muni seperti Budi Ngen, Cak Ut, Agung Gondrong, Kunh, Kasut, Lik Cung, Gati Andoko, Melur cs … termasuk juga goyang reggae Krishna Encik bersama Bale Bengong-nya. Beberapa kali saya memburu pentas-pentas sejenis di sudut-sudut Jogja bersama Aant Subhansyah, misalnya, ketika menikmati duet legenda yang sudah almarhum, Sapto Raharjo dan Inisisri yang membawakan komposisi Lingkaran di Joglo Jago. Bersama Aant, Fifi dan Lono Simatupang, saya pernah memburu pentas Muriah Budiarti, Ya Soedah, Acapela Mataram, Kua Etnika, Untung Basuki dan Kelompok Sabu-nya hingga ke Solo. Beberapa pentas di Malioboro, membuat saya mulai mengenal musik dari Kelompok GIRLI, Classical, Soto Sulung, Kenyut dengan Kubroglow-nya, Anto Baret, Mas Anies, Sujud Kendang serta tentu saja KPJ Malioboro.


KATARUNG seolah mengajak saya reuni. Pentas dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya dipimpin oleh Mukti-Mukti, penyanyi yang paling saya tunggu malam itu. Dengan sistem undian, para penampil bernyanyi secara bergilir. Giana Sudaryono penyanyi paling cantik malam itu, membuka acara dengan lagu-lagu cinta yang jujur kepada orang-orang terdekatnya, suara dan permainan gitarnya secantik orangnya. Penampilan kedua adalah penampilan sangar aktor spesial antagonis di sinetron-sinetron: Egi Fedly, lagu, lirik dan suaranya sangat syahdu dan lembut, sesekali suara harmonikanya menimpali asyik sekali. Biar sangar tapi romantis he he he


Penampilan berikutnya adalah Kenyut Kubro, sangat khas dengan lengkingan suara “iye .. iye”-nya, asyik sekali. Doni Suwung menyusul kemudian, suara parau-nya mengingatkan pada Sawung Jabo, orang yang juga sempat berkolaborasi pada salah satu lagunya. Kemudian Mukti-mukti tampil dengan gaya khasnya. Lagu-lagu Pak Kepsek dari kelas AKSAKUN (Aksara Kuno)-nya Sinta Ridwan ini memang sedang sering saya dengarkan akhir-akhir ini, setelah sebelumnya pernah saya nikmati ketika saya mulai “mengenal” beliau di Multiply sekitar 2008-2009. “Menitip Mati” adalah salah satu lagu favorit saya, meski sebetulnya saya menunggu “Kemudian Aku Mati Sebagai Anjing”.


Sang Legenda dengan teriakan yel-yel dan hentakan kaki saat bersama Kelompok Sabu hadir kemudian: Untung Basuki. Sedikit masalah teknis dengan pergantian beberapa gitar, tak memudarkan kesungguhan beliau atas pilihannya sebagai penyanyi "Puisi Balada". Usia boleh bertambah, tapi energi bernyanyi tak berubah sejak pertama kali saya melihatnya pada 90an. Ary Juliyant menyusul kemudian, menggesek gitar, meniup 2 seruling, hentakan tamborin di kaki serta permainan gitarnya, sudah menunjukkan beliau adalah soloist yang multitalenta. Lengkingan suaranya yang tanpa cacat adalah impian banyak vokalis. Ia adalah penyanyi paling interaktif malam itu dengan penonton, sangat menghibur. Selanjutnya, sepertinya bukan kebetulan kalau Krishna Encik menjadi penutup KATARUNG, rektor FMI ini adalah penyanyi dengan massa terbanyak. Pak Rektor yang hitam manis ini menyanyikan beberapa lagu syahdu mendayu yang membuat hati menjadi rindu. Saya bahkan hampir mbrebes mili ketika ia menyanyikan lagu untuk Gus Dur sebagai penutup. Semoga sukses dengan proyek Low Budget-nya Pak Rektor !


Tentu saja 15 Maret 2012, akan selalu menjadi bagian dari “sejarah tontonan” saya. Sejak membaca undangan beberapa hari lalu, saya sudah minta ijin kepada istri dan anak saya untuk pulang malam, bahkan jika perlu nggak pulang demi Katarung. Namun demikian ada tiga hal yang agak kurang sreg buat saya: (1) Keberadaan kursi sofa dan cara meletakkan karpet panggung (2) lighting yang di awal pertunjukan agak cukup pelit untuk fotografer (3) Simbah Siter yang tidak dijadikan “bagian utuh” dari pentas KATARUNG. Tapi untuk pentas yang pertama, sudah sangat luar biasa. Semoga pada KATARUNG#2 bisa lebih ciamik lagi, dan semoga saya juga siap hadir memburunya.

Buat saya selalu ada ruang di hati saya untuk mengapresiasi pementasan seperti KATARUNG, seperti juga dari Ully Sigar Rusady, Rita Rubby Hartland, Elly Sunarya, Abah Iwan, Sandy Sandoro, Anda dan lain-lain, siapa tahu mereka akan hadir di KATARUNG berikutnya. Terima Kasih KATARUNG !


Yogyakarta, 16 Maret 2012
Cuk, tukang potrek dan penulis pocokan untuk Facebook :-p

------------------------------------------------- 
"KATARUNG" Soloist Show, 15 Maret 2012 di Omah Panggung Sudaryono

'KATARUNG' adalah dua frasa, antara "Kata" dan "Tarung" yang dapat bermakna: "Kata" adalah syair dalam sebuah lagu yang terungkap dalam karya, dan "Tarung" adalah sebuah ruang pergesekan dan dialektika kreatifitas kompetitif yang asyik, nyedhulur (istilah Jogja) sekaligus menjadi wadah untuk saling menjunjung harkat, martabat dan harga diri kemanusiaan manusia melalui bahasa universal musik dalam rasa dan cinta. Dengan demikian, "Katarung" adalah ulak-alik antara teks dan simbol, menyatu dalam sebuah rasa dan makna yang eksotis. 'Katarung' juga dapat dimaknai sebagai simbol geliat kemapanan kreatifitas, kemapanan musikalitas dan setumpuk dialektikanya, hingga kemapanan sosial yang semu. Fatamorgana kebudayaan yang bersifat massif dan terjebak ke dalam sebuah arus besar kebudayaan dunia yang rapuh, keropos dan tak mengakar ke bumi manusia. Salam, MUSIK Bergeraklah Selalu !

(dikutip dari Undangan)

Silahkan cek foto-foto pementasannya di: 
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150593163306751.376413.598501750&type=1

diunggah di fesbuk oleh Cuk Riomandha pada 16 Maret 2012

Dusun Pandes: Mbah Karto dan Mbah Karjiyem, I Love You Full !


Sesungguhnya sejak beberapa waktu lalu, saya ingin mengajak Alin dan Zora sowan ke kampung Pandes Panggungharjo Bantul. Ihwalnya, sejak Alin khusyu’ membuat mainannya sendiri dengan barang-barang yang ada di Rumah. Akhirnya, Sabtu 25 Februari 2012, saya, istri, Alin, Zora dan Bibi Henny sampai juga di dusun Pandes.

Beberapa media telah memberitakan tentang dusun Pandes, dimana banyak simbah-simbah yang membuat mainan tradisional berbahan kertas dan bambu, seperti wayang, othok-othok, sangkar burung atau kipas lipat. Media seperti Kompas atau Kick Andy pun sudah meliputnya.


Piramida Sewon adalah ancer-ancernya, karena dusun Pandes persis di sebelah Baratnya. (Entah apakah Andi Arif cs sudah pernah ke Piramida itu atau belum). Kami masuk lewat belakang dusun. Dari simbah-simbah nongkrong yang kami tanya, kamipun dirujuk untuk mencari rumah Mbah Atmo, Mbah Karto atau Mbah Rejo. Siapa mereka? Mereka adalah tokoh utama dari legenda mainan tradisional di dusun Pandes ini, merekalah yang membuatnya.

Kami hanya sempat beranjangsana ke rumah mbah Karto yang bersama anaknya mbah Karjiyem secara rutin memproduksi mainan tradisional berbahan kertas. Dahulu, simbah-simbah ini juga berjualan keluar masuk pasar tradisional mulai Gamping sampai Piyungan. Kini mereka membuat sekedar untuk pesanan saja, selain penjual keliling katanya anak-anak ISI adalah konsumennya. Selain untuk keperluan pameran mungkin juga digunakan dalam rangka tugas kuliah, entahlah.


“Mbah niki wayang nopo?” istri saya bertanya kepada mbah Karto
“Simbah mboten pati miring, radi keras mawon,” sang cucu yang menemani kami mengingatkan
“Mbah menika wayang nopo?” istri saya mengulang pertanyaan kepada mBah Karto
“Gatotkoco,” jawab mbah Karto lirih
“Lha menawi menika wayang nopo?”, istri saya kembali bertanya dengan suara keras
“Gatotkoco,” jawab mbah Karto kembali
“Lha kok benten, mbah?” istri saya bertanya sambil tersenyum kecil
“Kulo mboten ngerti, niku nggih wayang … ngaten,” seru mbah Karto sambil tertawa
Kamipun kemudian tertawa berjamaah, dipimpin mbah Karto …

Mbah Karto ini usianya diyakini sudah lebih dari 100 tahun, anaknya yang tertua mbah Karjiyem usianya sudah sekitar 70an. Ia memiliki 7 anak, 1 sudah meninggal. Mbah Karjiyem sendiri tidak menikah, beliau adalah orang dengan disabilitas: Tuna Rungu. Mbah Karjiyem bisa berbicara cukup lancer, meski tidak banyak. Kini mbah Karjiyem lah yang meneruskan produksi mainan kertas ini.


Mainan-mainan seperti Wayang, Othok-othok, Kipas Lipat, Payung Kertas produksi mbah Karjiyem dan mbah Karto ini, masing-masing perbijinya dijual seharga seribu rupiah!

 Saya kira ini bukan soal industri, wisata, komersial dan sejenisnya. Tapi ini adalah soal CINTA! Ini soal cinta mbah Karto dan mbah Karjiyem pada dunia mainan dan anak-anak, seribu rupiah hanyalah sekedar “transformasi cinta” kepada mereka yang tertarik padanya. Mbah Karjiyem juga menyempatkan diri mengajari kami membuat Payung Kertas dan Sangkar Burung.


Tulisan ini pun bukan untuk menggugat soal marginalisasi permainan tradisional ditengah serbuan mainan plastik murah(an) dari Negeri Sabrang. Tulisan ini juga tidak bermaksud menggugat soal ancaman punahnya mainan tradisional jika simbah-simbah itu sudah berada di surga. Jaman pasti berubah, ada yang akan hilang dan ada yang akan hadir. Pilihan-pilihan semakin hari pasti lebih bervariatif, termasuk soal mainan anak-anak.

Tulisan ini hanyalah soal Cinta. Cinta saya kepada Alin dan Zora, mengajak mereka membuka ruang di hati mereka bahwa selain boneka Barbie, film-film di TV ada juga mainan atas nama cinta ala mbah Karto dan mbah Karjiyem. Pilihan tetap ada pada Alin dan Zora, kalaupun nantinya mainan seperti ini sudah hilang, minimal mereka tetap mengingatnya di dalam hati, tentang hari ini.


Hari ini memang terasa sempurna, meski hujan deras mengguyur Jogja Utara, disertai padamnya listrik. Ya berkat cinta mbah Karto dan mbah Karjiyem, Alin dan Zora riang bermain wayang ditemani nyala lilin. Sambil memegang wayangnya Zora grememeng bernyanyi “lagu-lagu Islami” yang ia peroleh di sekolahnya. Saya kemudian menggunakan wayang tersebut untuk menakut-nakuti mereka dengan suara ala Suzanna, kemudian Alin dan Zora bersembunyi di bawah selimut sambil tertawa ngakak …

“Ayah, mau cerita apa?” tanya Alin
“Semar royokan mie ayam dengan Bagong!,” jawab saya
Alin pun kemudian mendalang, “Woi Semar, mie ayam ku ngendi?”
“Lho kok Bagong gak sopan sama ayahnya?” saya mengingatkan
Alin hanya "mringis kelinci" sambil meneruskan lakon-nya.
Saya menahan tawa melihat adegan Petruk memarahi Semar, supaya tidak merebut mie ayamnya Bagong.

Ah … tak lama berselang Alin menyudahi “pentas”-nya karena sudah ngantuk
Ah … tak lama berselang Listrikpun menyala dan mereka kembali ke TV
Ah … tapi cinta mbah Karto dan mbah Karjiyem telah hadir di keluarga saya hari ini

Nuwun Mbah, I Love You Full !

diunggah di fesbuk oleh Cuk Riomandha pada 25 Februari 2012

(Happy) Gloomy Sunday, in Pleret & Girilaya


Yang (di)tinggal(kan) ... di atas Kijing ...

Sunday is gloomy
My hours are slumberless
Dearest the shadows
I live with are numberless
Little white flowers
Will never awaken you
Not where the black coach
Of sorrow has taken you
Angels have no thought
Of ever returning you
Would they be angry
If I thought of joining you
Gloomy Sunday

Gunungkelir

Sunday is gloomy
With shadows I spend it all
My heart and I have decided
To end it all
Soon there'll be flowers and prayers
That are said I know
But let them not weep
Let them know
That I'm glad to go
Death is no dream
For in death I'm caressing you
With the last breath of my soul
I'll be blessing you
Gloomy Sunday

Girilaya

Dreaming
I was only dreaming
I wake and I find you asleep
In the deep of my heart dear
Darling I hope
That my dream never haunted you
My heart is telling you
How much I wanted you
Gloomy Sunday
Gloomy Sunday

Keluarga BOL BRUTU di Gunungkelir

==========================
"Gloomy Sunday" is a song composed by Hungarian pianist and composer Rezső Seress and published in 1933, as "Vége a világnak" ("End of the world"). Lyrics were written by László Jávor, and in his version the song was retitled "Szomorú vasárnap" (Hungarian pronunciation: [ˈsomoruː ˈvɒʃaːrnɒp]) ("Sad Sunday"). The song was first recorded in Hungarian by Pál Kalmár in 1935.

"Gloomy Sunday" was first recorded in English by Hal Kemp in 1936, with lyrics by Sam M. Lewis, and was recorded the same year by Paul Robeson, with lyrics by Desmond Carter. It became well known throughout much of the English-speaking world after the release of a version by Billie Holiday in 1941. Lewis's lyrics referred to suicide, and the record label described it as the "Hungarian Suicide Song". There is a recurring urban legend that claims that many people committed suicide with this song playing

(wikipedia)

Link Video by Sinead O'Connor: 
http://www.youtube.com/watch?v=98LDN37-N3A&feature=related

diunggah di fesbuk oleh Cuk Riomandha pada 16 Januari 2012

Aku di Jejak Sepi


Aku ingin jemur hatiku,
di bawah awan mendung, 
semendung jiwamu huuuu ...

Tiba tiba, airmata memeluk hujan
dan degup jantung menghias waktu

Kau beri aku, bahasa rindu
sedang aku di jejak sepi
aku di jejak sepi
aku di jejak ...



====================
Text: Sinta Ridwan
Vocal: Mukti-Mukti
Model Foto: Kris Budiman
Lokasi Foto: Makam Ratu Mas Malang, Gunungkelir Pleret Bantul -- 21 Maret 2010

Link Video: http://youtu.be/rvcpmJmUEkM


diaplot di fesbuk oleh Cuk Riomandha pada 22 Desember 2011

Jumat, 24 Juni 2011

Rendezvous Pantai Selatan

Tak ke Solo atau Surabaya

Akhirnya setelah sehari sebelumnya mengantar anak-anak ke Kutoarjo untuk berlibur ke rumah eyang-nya dan setelah seringkali Blusukan hanya dengan BOL BRUTU atau sendiri, 4 Juli tepat amerika merdeka ... aku punya kesempatan untuk tak hanya saling mBlusuki tapi Blusukan bersama Istri. Kesempatan hadir ketika ada kondangan di Jetis Bantul, maka Jogja Selatan area Parangtritis menjadi tujuan kami. Hanya saja kami tak sedang melakukan wisata pantai ...

Candi Gembirowati

Setelah jagong, kami akhiri dengan cepat, dengan cepat pula kami menuju selatan dengan lokasi pertama kami: Candi Gembirowati, yang wilayahnya sudah masuk Girijati, Purwosari, Gunungkidul. Untuk mencapainya, anda harus mentog sampai pertigaan yang kanan arah Pantai Parang Endog, nah ini ambil kiri. Naik saja sampai ketemu pertigaan Hotel Queen, setelah itu nanti akan ketemu pertigaan dengan papan petunjuk ke arah Sendang Beji (Jalan Tanah-Batu), ikuti saja jalan itu, Candi Gembirowati ada di ujung jalan itu. Candi ini konon dibangun dan difungsikan sebagai lokasi pemujaan/pertemuan antara Sultan dengan Nyi Rara Kidul.

Depth Interview di Sendang Beji

Setelah dari Candi Gembirowati, kami lalu turun sekitar 100 meter ke jalan masuk tadi, lalu parkir motor di sekitar situ, dan selanjutnya berjalan kaki sekitar 200 meter ke arah Sendang Beji. Sumber Air yang berada di bawah pohon besar. Selain ada beberapa altar pemujaan, arca-arca (baru), di lokasi itu juga tersedia Mushola. Baik Sendang Beji maupun Candi Gembirowati, masih digunakan oleh beberapa orang untuk "Lelaku", karena altar-altarnya terlihat sangat aktif di datangi orang. Oh ya selama perjalanan, meski sumuk, Istri kupaksa untuk selalu memakai sweater birunya, kebetulan ia memakai baju ungu, kami hanya berusaha menghormati kepercayaan setempat atas larangan memakai baju hijau dan ungu terong.

Cepuri Parangkusumo dan Makan Siang

Setelah blusukan di daerah Gunungkidul, kami sempat untuk mampir sejenak di Cepuri Parangkusumo, sebelum kami memutuskan untuk mencari makan karena perut sudah mulai lapar. dan Goa Langse pun terpaksa kami abaikan. Pantai Depok adalah tujuan utama kami, dan karena suasana pantai seperti dawet ... uakeh wong, maka kamipun memutuskan untuk mencari warung yang agak tenang diluar. 2 nasi putih, 1 wedang uwuh, 1 jus kelapa, 1 jangan asem, 1 cakalang bakar dan 1 kepiting asam manis ... menjadi santapan kami siang itu.

Situs manasik haji parangkusumo

Setelah kenyang, kamipun kemudian melanjutkan perjalanan ... Makam Syech Maulana Maghribi dan Makam Syech Bela Belu kami tinggalkan karena undag-undagan tanjakannya cukup tinggi, tentu sayang jika Cakalang dan Kepiting yang sudah bersemayam di perut, harus keluar lagi. Dan tanpa di duga, di antara gumuk pasir yang indah disekitar Pantai Parangkusumo, kami kemudian berhasil "Naik Haji" he he he

di bukit sekitar makam Ki Ageng Barat Ketigo

Setelah menjadi Haji dan Hajah versi Pantai Selatan, kamipun kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari makam Ki Ageng Barat Ketigo, yang konon merupakan keturunan Brawijaya. Untuk menuju makamnya, sebelum jalan menuju Girijati Gunungkidul, ada sebuah pertigaan tanjakan tepat diseberang terminal lama Parangtritis, silahkan naik saja. Namun sayang, kami saat itu tak berhasil menemukannya, meski sudah bolak-balik di jalan becek, aspal prothol selama sekitar hampir sejam disana. Tapi dari bukit ini, pantai parangtritis terlihat cukup indah. Senja mulai datang, dan akhirnya kami memutuskan ke Utara. Home Sweet Home ... kali ini, berduaan saja di rumah ... menikmati hari yang tersisa ... 

Sampai ketemu di perjalanan berikutnya ...



oleh Cuk Riomandha pada 10 Juli 2010



Safari Ramadhan: Perjalanan Sunyi antara Gilang Baturetno dan Banon Cafe

Watu Gilang Baturetno
Setelah tak jadi ke Blitar, maka aku mendedikasikan waktu antara 14-18 Agustus untuk Blusukan. Sabtu Ke Gunungkidul, Minggu ke Magelang, Senin cari Tiket Mudik, Selasa ke Gedongsongo dan hari ini 18 Agustus aku memutuskan untuk mendatangi beberapa lokasi di Bantul dan Sleman Selatan. Setelah mengantar Alin sekolah, maka aku memulai perjalanan ke Dusun Gilang Baturetno Banguntapan. Berbeda dengan Watu Gilang di Pajangan, Pandak atau Kota Gede. Watu gilang Baturetno sangat unik, dengan relief hewan-hewan termasuk Pegasus. Konon batu ini merupakan tempat bersemadi dari orang yang bernama Kyai Gejawan, ada lagi yang menyebut-nyebut Parikesit (tokoh pewayangan) sebagai pemilik asli batu ini. Bisa jadi batu ini telah ada sejak masa klasik dan tetap difungsikan hingga masa Mataram Islam.

Sepasang kaki Surogedug
Perjalanan kemudian aku lanjutkan ke arah Madurejo, Prambanan. Dusun Deresan (?) yang berada antara Surogedhug dan Sawo menjadi tujuanku. Ketika blusukan bersama Bol Brutu dulu, aku sempat melihat batu candi di depan sebuah "sekolah". Sebuah batu candi dengan relief bunga pada satu sisinya teronggok di bawah pohon. Aku kemudian menuju ke kampung dibelakang rumah-rumah dari kompleks sebuah pabrik (?) di dusun Surogedug. Beberapa candi terdapat di pekarangan beberapa rumah dan tepi jalan. Aku melihat sepasang kaki di samping sebuah rumah. Menurut bu Alias, batu-batu ini berasal dari Sungai Sembir yang ada di tepi dusun.

Gua Sentono Berbah
Selepas dari Surogedug, aku kembali ke arah piyungan untuk menuju Jogotirto dengan Gua Sentono sebagai tujuanku kemudian. Gua yang berupa ceruk pada sebuah bukit ini sepertinya merupakan pertapaan Hindu, dengan relief dewa-dewa Hindu serta Lingga-Yoni. Berada satu lokasi dengan bukit Candi Abang, konon pertapaan ini dibangun pada abad 9 atau 10, era Mataram Hindhu / Mataram Kuna.

Kambing Manis di Candi Teletubies
Kemudian aku menuju ke Candi Abang, candi yang membuatku penasaran sejak lama. Kata "Berpelukan" langsung teringat ketika aku kemudian persis berada di bawah Candi Abang, ya bentuk Candi Abang adalah seperti Rumah Teletubies: Berupa Gundukan tanah yang berisi batu-batu bata yang tertimbun dan tertutup rumput hijau. Dari puncak "gunung" Candi Abang ini pemandangan ke bawah, pemandangan persawahan terasa sangat Indonesia! di dekat reruntuhan bata di tepi candi tampak pula sebuah pecahan batu segi delapan entah apakah benda itu Yoni atau Lapik arca. Candi ini mestinya seumur dengan pertapaan Gua Sentono, tapi juga diduga lebih muda dari candi-candi yang ada di Yogyakarta lainnya, karena pilihan Bata sebagai bahan utama pembentuk candinya.

Gua Jepang Jogotirto
Dari candi abang, aku kemudian meluncurkan motorku ke arah Gua Jepang yang terletak sekitar 1km dari Candi Abang. Terdapat tiga pintu di Gua ini, pintu yang paling kanan hanya sekitar 8 meter dan tembus ke 2 gua lainnya, sementara pintu tengah dan pintu yang paling kiri lebih dalam sekitar 20meter. Sejenak di Gua yang pintunya sudah diberi semen bata itu ... aku kemudian mampir sejenak ke Situs Payak. Kali ini, aku bisa mendekati dan menjamah situs karena pintunya terbuka. Pada persinggahanku beberapa waktu lalu, aku hanya menikmati dari luar pagar, di atas, karena pintu terkunci.

Pesanggrahan Warung Boto
Setelah situs Payak, aku kemudian bergegas menuju Yogyakarta untuk mampir di Pesanggrahan yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono II. Sesungguhnya nama asli tempat ini adalah Pesanggrahan Rejowinangun, seperti yang termaktub pada sebuah Macapat yang mengkisahkan tentang HB II. Lokasi ini juga terkenal sebagai Taman Air HB II. Kini puing-puing pesanggrahan ini, seolah menegaskan namanya sekarang. Reruntuhan bangunan yang didominasi dengan pecahan-pecahan bata yang ada dimana-mana menjadi pas sebagai WARUNGBOTO ... BANON CAFE he he he

courtesy of http://kebunsiwalan.blogspot.com
Panas terik mulai mengeringkan tenggorokanku, akupun beringsut menuju arah utara. Es Legen yang terlihat di sekitar Timoho seolah melambai-lambai, tapi syukurlah membatalkan puasa hanyalah sekedar wacana. Akupun singgah sejenak di Nandan: Balai Bacaan Srigunting dan YLPS Humana untuk sekedar reuni dengan kawan lama yang hangat dan pliket. Namun demikian, Legen tetap meneror imajinasi ... maka kemudian ketika aku menemukannya di depan Indogrosir di jalan magelang ... akupun membeli dengan hati riang. Akhirnya setelah perjalanan, aku bisa buka puasa dengan Es Legen ... cihuy !

Sampai ketemu di perjalanan berikutnya!

oleh Cuk Riomandha pada 19 Agustus 2010


Safari Ramadhan ke Jogja Selatan sebelum Pakuncen

Pengen murah? naik andong dong!
Awalnya hanya rencana napak tilas ke Selarong bersama Aant Subhansyah, salah satu pasangan blusukan masa 90an selain Ijus Narwanto. Kami sengaja berangkat lebih awal untuk undangan pertemuan di ETNOREFLIKA. Sekitar pukul 10 pagi, kami tiba di area GOA SELARONG, namun kami langsung menuju ke kiri: Sendang Manikmoyo, Umpak Masjid serta dua buah Yoni (Yoni inilah yang membuatku ngebet ingin ke situs mas Karebet ini). Dan setelah blusukan tak jelas di bukit sekitar, kamipun akhirnya mendaki anak tangga, umur tak bisa menipu! Mengkis-mengkis! Kami leyeh-leyeh kemudian di area Gua Selarong, sambil memandang 4 buah umpak, Goa Kakung dan Goa Putri ... akar yang menyatu dengan batu, tampak melepas dahaga kami yang sedang puasa. Dan 2 tas kresek Sawo kubawa sebagai buah tangan.

Stasiun/Terminal Biru Palbapang
Lepas dari Selarong, kami menuju ke Selatan, dan di sebuah bangunan bercat biru beriklan nomor seluler, kami kemudian berhenti. Tampak 4 orang yang berseragam biru pula, seragam DLLAJR/Dinas Perhubungan. Ya di area yang cukup sunyi itulah Terminal Palbapang yang dulunya Stasiun Palbapang berada. Bangunan renta itu semakin kesepian dalam kesunyian tanpa hiruk pikuk ...

Menggengam Salib dan Rosario di Candi Ganjuran
Perjalanan kemudian kami lanjutkan menuju Ganjuran, namun di selatan palbapang ketika membaca nama desa aku teringat sebuah situs: Situs Watu Gilang Gilangharjo Pandak. Setelah bertanya beberapa kali kami akhirnya menemukan lokasi "Pasujudan Watu Gilang", namun sayang cungkup terkunci gembok, dari celah pintu itu tampak kelambu putih. Sunyi juga hadir disini, tak ada orang yang bisa ditanya, tak ada pula juru kunci. Akhirnya kami tiba beberapa saat kemudian di Candi Ganjuran, sebuah gereja yang berbentuk candi, dengan arca-arca uniknya. Ketemu dengan Mas Dab Agoeng Haryanto yang sedang melakukan ziarah visual pula disini. Kami sempat membeli kaos maria berwarna merah darah ... seragam deh. Waktu dhuhur tiba, setelah berwudhu di gereja, kami singgah di masjid dekat situ yang dibangun oleh PLN. 

Manusia Gua Surocolo
Selesai bersujud, kami segera menuju ke Selatan: Gua Surocolo! Namun karena petunjukknya tak begitu jelas, kami malah mendapat pengalaman tambahan, ke Seloharjo melalui desa Panjangrejo, melewati jembatan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Sempat berhenti ditengah jembatan untuk menikmati pemandangan sungai dan bukit yang aduhai. Setelah bertanya beberapa kali, kamipun kemudian tiba di Gua Surocolo, Poyahan, Seloharjo Pundong. 2 Jaladwara besar tampak dibawah dua pohon raksasa yang ada di tepi sendang. Gua Surocolo ada di atasnya, dipintu masuk tampak batu-batu candi yang tersusun. Tepat di pintu Gua sebelah kiri, nampak prasasti dengan gambar wayang yang telah retak. Setelah selesai membasahi kerongkongan dengan ludah sendiri, maka kami beranjak turun. Jembatan kretek yang terlihat dari jauh, tampak melambai-lambai seolah memberi tahu kami untuk segera menuju Jogjakarta.

Bersujud di Masjid Pakuncen
Sekitar pukul 14.20 menit kami tiba di Kuncen, kantor ETNOREFLIKA belum terbuka. Kamipun kemudian menyempatkan diri blusukan ke makam di belakang masjid kuncen. Aku sempat ziarah visual ke makam 2 tokoh Sarekat Islam: HOS Tjokroaminoto dan H. Fachruddin, sementara Aant tak berhasil menemukan makam eyangnya. Kamipun kemudian beristirahat di Masjid Kuncen hingga waktu Sholat Ashar tiba.

Intelektual, Amtenar dan Ustadz ETNOREFLIKA
Perjalanan kemudian ditutup dengan Silaturahmi Visual bersama sahabat ETNOREFLIKA ... hingga buka puasa! Setelah mengantar Aan ke haribaannya, akupun menuju ke utara bermalam minggu bersama 2 bidadari kecilku!

Sampai ketemu di perjalanan Berikutnya

oleh Cuk Riomandha pada 29 Agustus 2010


Selasa, 21 Juni 2011

Ngacir ke Mangir

Rencananya agenda ini akan dilakukan pasukan BOL BRUTU (gerombolan pemburu batu) awal bulan depan, sekaligus untuk menyambut kedatangan doktor mahatma, namun karena danang sutawijaya akan ke negeri tetangga, maka perjalanan dilakukan 25 April 2010. Kali ini Marwan, Dav, Mahatma absen karena jadwal, Lieke (kembali) absen karena masih ngerjain PR, Salim absen karena ada sodara datang, dan Sujud absen karena salah jadwal ... he he he. Sebetulnya pagi-pagi Singo sudah telpon saya ngajak ketemu cak Didieth Shaksana yang pas lagi di jogja, sayang saya sudah punya janji untuk perjalanan ke jogja selatan ini ... kapan2 maneh yo cak.


3 Gus Dur di Situs Sangkring

Gerimis mengiringiku dari jogja utara menuju situs pertama: SANGKRING. Situs yang terus berbenah, untuk kehidupan kabudayan yang lebih egaliter, dan karena Danang Putu Sutawijaya intens dengan Bol Brutu, maka tentu saja ia akan berhati-hati dalam penggunaan "keramik" ha ha ha. Selain "ruang biru" yang selalu menjadi favorit saya disana, kali ini saya serasa terpaku pada lukisan 3 Gus Dur yang dibuat dari sobekan-sobekan kertas, karya seorang pendidik PAUD dari pinggiran Bojonegoro, ketika cat susah dan tak terbeli ... maka majalah bekas yang di sobek2 tetap mampu membuat karya seni yang dahsyat!

Situs Mangir dan pak Alias

Setelah ngopi dan ngobrol sejenak mengenai rencana trip ke Lasem, maka kamipun segera beringsut ke selatan jogja: Situs Mangiran ! Syukurlah putra pak putu habis outbound disana, sehingga kami bisa langsung segera njujug. Kamipun sempat bertemu dengan seorang bapak, yang melalui wangsit mimpi yang diterimanya ia harus menjaga situs mangiran ini. Maka dengan sungguh-sungguh, ia kemudian membebaskan beberapa "tanah", untuk membangun tembok bata. Dan meski ia tinggal di pulau dewata, salah satu kerabatnya menjaga dengan baik situs mangir ini, serta beberapa petilasan lainnya.

Misih seputar Mangir

Kami diajak melihat beberapa batu yang diyakini digunakan untuk pembuatan senjata/logam (mendinginkan logam yang baru ditempa), serta beberapa Watu Kebo (nandi) di rumah seorang penduduk, serta di dalam makam yang gapuranya sempat membuat kami agak bergidik. Kami juga sempat menemukan watugilang (bentuk sebetulnya adalah umpak) di rerimbunan bambu-bambu, serta juga semacam watu dakon. Kami sangat berterima kasih kepada "mas alias" yang telah menunjukkan semua situs yang ada dikampung tersebut, betul-betul penuh energi mungkin karena habis ikutan pijat massal he he he. Energi para BOL BRUTU pun tentu juga perlu aktivitas kembul bujana, dan info Wader Goreng Mangir yang ada dikampung itu adalah situs berikutnya, meski mendadak dan tanpa reservasi dulu, kamipun kumanan iwak kuthuk dan wader goreng, mangut sudah dihabiskan rombongan sebelumnya, tapi alhamdulillah sebelum piring2 mereka dibereskan, kami sempaat menyelamatkan mangkuk mangut yang tinggal duduhnya ... dan gak salah, meski cuma "hoyen", kuah itu jadi salah satu faktor yang membuat kami bisa makan hingga 2-4 piring ...

Makam Sewu

Setelah selesai kembul bujana, kitapun menuju Makam Sewu sebuah makam unik yang hampir semua tulisan di nisan ditandai dengan gelar Kyai untuk laki-laki, dan Nyai untuk perempuan, meski itu makam bayi juga. Di kompleks ini ada beberapa tokoh yang sempat terbaca tulisannya di tembok luar: Panembahan (kar)Tosuro (?), Panembahan Kuning, Panembahan Cokrowesi dan tentu saja yang menjadi tokoh central disana, yaitu Panembahan Bodho alias Raden Trenggono. Hujan yang turun, serta kelelahan yang mulai mendera membuat kita menyempatkan diri untuk meningkatkan energi dan sel darah putih kita dengan mengunjuk Jus Jambu Biji Makam Sewu, sambil menelpon Davinna untuk laporan singkat pandangan mata.

Masjid Kauman, Watu Gilang dan On Clinic Fans Club

Energi mulai naik lagi, kitapun segera bergerak lagi keselatan, kali ini ke masjid peninggalan Panembahan Bodho, masjid kauman yang kini bernama masjid Sabiilurrosyaad, yang unik dari masjid ini adalah terdapat watu gilang (pandak) yang bentuknya berupa umpak. Sementara masjid yang cukup cantik ini sendiri, sepertinya sudah direnovasi baru, dan kelihatannya tinggal langit2 centralnya saja yang masih orisinil. Kelelahan dan kekenyangan yang mendera kami membuat kita mulai limbung dan berhalusinasi, sempat ada yang mulai membayangkan menjadi pembalap mobil grandong, ataupun terjengkang lemas layaknya orang yang butuh bantuan On Clinic ... hmmmm kasihan mereka.

Sendang Kasihan

Agar tak bertambah parah, maka calon pasien On Clinic tersebut kemudian mengajak kita semua untuk kembali mencari jalan ke utara, menuju jalan pulang. Namun persinggahan kami belumlah berakhir, kami masih menyempatkan mampir ke Sendang kasihan, dimana terdapat dua arca yang cantik serta sedang digunakan orang untuk melakukan ritual rendam. Ada tiga titik (batu) di dalam sendang yang digunakan sebagai lokasi untuk laku rendem tersebut. Setelah sebatang-2batang rokok selesai diemut-hisap oleh On Clinic gang tersebut maka kitapun akhirnya benar-benar memutuskan pulang. Menjelang jam 6 sore kita tiba di Situs Sangkring lagi, setelah puas di ruang biru dan sempat ngobrol sejenak, maka kitapun membubarkan diri. 

Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya


oleh Cuk Riomandha pada 25 April 2010