Tampilkan postingan dengan label Ngawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngawi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2011

Silaturahmi Situs di Akhir 2010: Epilog bersama Keluarga Landa Karalas di Ngawi (part 5 Tamat)

ndalem landa karalas
Rabu, 29 Desember 2010. Hari masih gelap ketika aku menggugah resepsionis dan sekuriti hotel untuk urusan administrasi dan membuka gerbang, pagi itu aku dibangunkan oleh mencret 2 kali. Sepertinya sebelum jam 6 aku sudah sampai dibelakang sebuah rumah tua, sesuai dengan petunjuk yang aku terima melalui sms. Sempat keblasuk sekitar 10 meter saja, namun seorang ibu mengatakan, "Oh, menawi nggriyane Ndoro Bram njih mlebet pager kajeng niku". Meski sudah janjian "isuk umun-umun", tapi ternyata aku malah nguggah. Selepas ritual teh dengan aroma yang kuat, kamipun kemudian menikmati pecel bersama, nyamleng tenan! Ber-empat, bersama Landa Karalas, Jeng Sari dan Rose Pring Ori, yang sejak kecil di(h)ajari bahasa Jawa dan bahasa Inggris.

randa kuning walikukun
Sembari menunggu keluarga Landa Karalas bersiap, aku kemudian yak-yak-an blusukan di rumah beliau. Di depan ada sebuah rumah tua yang dibangun sejak jaman Diponegoro, saat ini sedang tak digunakan sebagai tempat tinggal. Akupun juga menikmati rumah yang kini ditempati oleh keluarga yang hangat ini, penuh buku dan lukisan sepertinya mereka hidup nyaman sekali. Beberapa monitor komputer berada di sebuah meja, entah apakah itu mau di servis atau malah seni instalasi. Tak lama berselang kami kemudian berangkat, menggunakan mobil beliau. Wah pengetahuanku banyak bertambah ternyata Ngawi yang selama ini hanya kukenal pada poros Solo-Caruban ternyata bukanalas gung liwang-liwung, banyak hal menarik yang ada di luar poros tersebut. Tujuan awal kami adalah Situs Blusukan masa kecil Ibu Tien Suhesti, sebuah patung tanpa kepala di dekat tandon air tua di seberang stasiun Walikukun: Randa Kuning! Di dekat lokasi tersebut juga terdapat bekas "Penggilingan Padi" yang konon juga dijadikan sebagai ruang pengadilan rakyat jaman ontran-ontran 1948. Sementara Arca Randa Kuning sendiri sepertinya bikinan era mataram islam, karena bentuknya seperti orang yang sedang duduk "Tahiyat", entahlah aku juga bukan arkeolog.

dusun reco banteng
Selepas memotret tembok bertuliskan "Kirik Nya Dewa" kami kemudian sampai di sebuah rumah seniman di Sekarputih, sebut saja namanya Brutu Sutawijaya. Namun sang seniman sedang ke Jogja sambil membawa "batu kenong" yang ia temukan pada sebuah sawah, entah dimana. Di Jogja ia sedang berusaha menukarnya dengan "benda lain". Di rumah itu sendiri, batu kenong yang lain digunakan sebagai lapik tanaman atau patung karya beliau. Selepas Sekarputih kami menuju Wonorejo. Kami sempat keblasuk sejenak, sampai kemudian tiba di sebuah rumah dengan papan "Situs Reco Banteng", ya di belakang rumah Mas Alias tersebut terletak sebuah situs yang berisi aneka batu candi: seperti Antefik, Ganesha, Lingga, Yoni dan tentu saja Reco Banteng dengan moncong seperti lambang sebuah partai, beda dari yang pernah kulihat. Kami juga sempat diajak menuju sebuah lokasi didekat sungai, disana terdapat arca belum jadi yang bersemayam dibawah sebuah pohon, tampak pula sebuah batu candi yang cukup besar di depan sebuah rumah. Terima kasih mas alias, yang sempat menolak sedikit pemberian kami, "sudah jadi tugasnya, ndak usah", untunglah akhirnya ia mau menerima tanpa aku harus menggunakan kekerasan ha ha ha. Beliau pun juga menginformasikan keberadaan sebuah Yoni pada sebuah hutan di Jogorogo.

kraton ghoib wirotho
Tak sampai setengah jam kami sudah berada di Jogorogo, kami memasuki jalan tanah yang becekdalam sebuah hutan tebu, dan kamipun tiba di sebuah situs "Kraton Ghaib Wirotho". Sebuah petilasan yang digunakan untuk menyepi dan tirakat, ada rumah yang bisa digunakan untuk menginap. Diluar cungkup petilasan itu sendiri tergeletak beberapa batu candi, serta papan peringatan situs yang sudah remuk redam. Di dalam, tampak sebuah arca semar yang membelakang pintu masuk, dan pada sebuah kelambu terdapat Yoni dengan aura cukup mistis, cukup sulit memotretnya. Akupun kemudian memotret pada beberapa sudut, sang Landa Karalas malah pipis diluar hi hi hi. Nah, kami sempat mengalami kesulitan ketika akan memutar mobil ke arah jalan pulang. Ban mobil bahkan sempat terperosok ke dalam selokan, namun akhirnya setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan.

candi pendem
Selepas Jogorogo, kamipun bergerak ke Selatan, kami tak berhenti ketika melewati jalan menuju makam Ki Condromowo (yang mungkin ada kaitannya dengan kisah Candi Ngetos) untuk menuju Pucangan Ngrambe. Terdapat sebuah Candi di dusun Pendem, tentu saja namanya adalah Candi Pendem. Di tepi jalan tampak sebuah batu candi yang membuat perjalanan kami bergairah. Tak jauh dari situ, tampaklah sebuah sumuran candi yang cukup besar, sekitar 3x3 meter. Mestinya dulu ada candi yang cukup besar disana. Beberapa sisa batu sepeti lapik arca dan yoni tanpa cerat juga hadir disekitar situs. Konon dulu banyak arca yang dibawa "Londo" ke Malang, tak jelas durasi waktu, oknum dan lokasinya, tapi yang jelas banyak arca telah raib.

temukan 10 persamaannya
Sebelum tengah hari, kami sudah kembali di nDalem Landa Karalas, menu favoritku sejak kanak-kanak terlah tersedia: Lodeh Rebung dengan Tempe Goreng, haujek soro! Seperti BOL BRUTU pada umumnya, Kurang ajar! Akupun SMP: Sudah Maem Pamit he he he sebelum jam 1 siang aku sudah siap menuju ke Jogjakarta. Tentu saja sebelum pulang,ben iso ketularan pinter ra ketang ming sithik aku sempatkan berfoto bersama manusia luar biasa ini: Bram Nabi!

pura agung amertasari gumeng
Menuju Jogjakarta aku memilih melalui Karanganyar, wih jalannya cantik sekali. Masih sempat aku mampir ke sebuah Pura di atas bukit, di bawah jalan menuju Candi Cetho! Sejujurnya aku masih ingin mampir di sebuah padepokan dan pura di Jenawi itu tapi apa daya, sudah kadung HIV ... hasrat ingin voli versama istri di Turi he he he, menjelang sore aku sudah menyapa batu-batu Candi Gana, Candi Sewu dari kejauhan: Home Sweet Home! Senja yang mulai gelap menyambutku di Jogja Utara! Dan akupun kemudian menghabiskan hari bersama istri tercinta, ya ... berdua saja!

Silaturahmi Akhir Tahun 2010 kemudian kuakhiri. Perjalanan yang nyaman tanpa harus wasir, Alhamdulillah !

Maturnuwun kepada keluarga Landa Karalas: Kang Bram, Jeng Sari dan Rose Pring Ori atas pengalaman istimewanya selama 6 jam di Ngawi, semoga aku punya kesempatan sowan ke Sekaralas lagi suatu saat nanti.

Sampai ketemu pada  perjalanan berikutnya, di 2011
NYANDI ITU NYANDU !

oleh Cuk Riomandha pada 07 Januari 2011


Silaturahmi Situs di Akhir 2010: Trowulan-Anjuk Kladang (part 4)

menengok rumah papa
Hari ke empat di Jawa Timur, 28 Desember 2010 ... pagi tlah tiba, saatnya berpamitan dengan Surabaya. Sekitar jam setengah 6 pagi, bersama mama akupun menyempatkan diri menengok rumah papa di Babat Jerawat. Wih ternyata tambah rame, semakin banyak yang menjadi teman cangkrukpapa. Semoga nyaman disana pa!  Setelahnya kami kemudian andok bubur ayam di belakang SMA 11 sebagai sarapan pagi untuk energi perjalanan hari ini. Mama pun membekaliku petis tiga macam harga, mulai 1000, 3000, hingga 5000 rupiah entah berapa takar, tapi semuanya bisa masuk di dalam toples kecil. Terima kasih Ma! Kami jadi bisa bikin Tahu Campur atau Tahu Tek di Turi nanti, siapa tahu beberapa tahun mendatang akan ada Warung Tahu Campur Cak Cuk atau Tahu Tek Cak Cuk di perempatan Turi.

gadis gadis minak jinggo
Jam Delapan pagi, aku sudah berada di Candi Minak Jinggo Trowulan, ada 4 gadis yang khusyu' mengikutiku. Gadis baju hijau, sebut saja namanya Kleting Ijo, bahkan terpeleset bareng aku di belakang Candi ketika akan menengok batu andesit yang berada dibawah, dan kita semua tertawa berjamaah ha ha ha. Selepas photo session bersama mereka, akupun kemudian menuju Kubur Panjang. Petilasan ini diyakini lebih tua dari semua situs yang ada di Trowulan, bahkan mungkin lebih tua dari Majapahit itu sendiri, entahlah aku hanya mengangguk hormat pada pak alias yang sangat terbuka, ia juga menunjukkan sumber air yang berada di dekat situs tersebut yang diyakini berkhasiat untuk banyak hal. Selesai di Kubur Panjang, aku menuju ke Kolam Segaran. Situs ini mungkin yang paling sulit motreknya, kita hanya bisa mengambil sudut-sudut tertentu saja, tak bisa secara utuh! Mungkin bisa kalau mau nyewa helikopter. Aku kemudian memutuskan tak ke Candi Lima atau makam Putri Campa demi semangkok Bakso Tenes di pinggir Kolam Segaran.

mawar condrogeni
Perjalanan kemudian kulanjutkan, melewati Jombang sempat kuhentikan motorku di Tunggorono. Sayang tak ada yang tahu dimana makam Markeso, seniman kidung garingan yang legendaris itu. Tapi sudahlah, Anjuk Kladang tlah menunggu, dan akupun kemudian menggeber motor kesana. Selepas kota Nganjuk, terlihat papan Situs Condrogeni 25km, dan akupun kemudian melaju kesana. Ternyata pengalaman ketika ke Candi Gondoarum di Goa Seplawan terulang, lokasinya ngaluk-aluk. Empat ribu rupiah kubayarkan di gerbang wisata Air Terjun Sedudo, tapi tujuanku bukan kesana, bukan pula mencari Perawan Lembah Wilis. Pada sebuah tanjakan terlihat papan petunjuk ditepi jalan setapak "Situs Condrogeni 3km", dilema melanda! Parkir motor lalu jalan kaki, atau coba motoran masuk dulu? Aku pilih opsi kedua, melewati sungai kecil dan jalan berliku di lereng bukit Liman, salah satu bukit di komplek Gunung Wilis. Sekitar lima menit kemudian, ada pohon tumbang menghalangi jalan. Duh, kerja bakti dulu menepikan dan membersihkan ranting, untung gak gede. Akupun kemudian melanjutkan perjalanan, sampai pada situasi dimana motor tak mungkin lagi naik. Dengan mrecing-mrecing danmengkis-mengkis akupun kemudian berjalan mendaki, sudah lima menit tak ada tanda-tanda sempat putus asa pengen balik, karena air mineral, hp semua ada di ransel yang kutinggal di motorku. Tapi Tuhan menjawab kegelisahanku ketika aku melihat papan situs di kejauhan, dibalik grumbul pohon pisang. Alhamdulillah ! Arca yang lebih mirip dengan arca dari pajajaran daripada majapahit itu seolah tersenyum menyambutku. Semuanya kemudian terlihat indah! Situs di lereng gunung, diantara kebun mawar dan hutan pisang ... Subhanallah !

kalakop ngetos
Puas rebahan di kebun mawar dan cuci muka di sungai kecil disana akupun kembali turun, antara ceria dan tetap mengkis-mengkis meliputi diriku, aku tak bisa mengontrol jalanku. Tiga kali aku terpeleset he he he dan sekitar 10 menit kemudian aku tlah kembali berada di jalan aspal, tancap menuju Ngetos! Aku sempat istirahat sejenak memulihkan perpanasanku di sekitar Dam Kali Koentjir dan astaga: semangkuk Bakso dan 2 gelas es teh masuk lagi hi hi hi. Sempat tersesat sejenak, sekitar jam 2 siang aku sudah berada di Candi Ngetos! Akupun mengelilinginya, karena pagar terkunci, it's ok lah! Candi ini dibuat atas keinginan Hayam Wuruk, yang ingin diperabukan di dekat gunung Wilis. Pembuatannya diserahkan ke Raden Condromowo dan Patih Condrogeni. Konon dulunya ada 2 candi kembar disini, namun kini hanya tersisa satu. Papan nama "Makam Aulia' Ngetos" juga menarik perhatianku karena ada nama "Abu Nawas" disana, dan akupun kemudian blusukan di makam belakang masjid yang berjarak sekitar 20 meter dari Candi Ngetos. Makam desa yang cukup eksotik!

langit mendung kuta ngawi
Selepas menikmati situs-situs di Anjuk Kladang, saatnya aku melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 4 sore aku sudah berada dalam situasi ngiyup di Raya Pilangkenceng-Caruban, tepatnya di Warkop Pak Sukir di seberang makam dusun Muneng, hampir sejam aku disana. Aku sms kang Bram bahwa aku mungkin tak mampir kesana. Hujan turun dengan deras sekali. Setelah hujan reda, aku melanjutkan perjalanan dan sekitar Maghrib aku tiba di Alun-alun kota Ngawi, jadi inget lagu campursari deh: Langit Mendung Kuto Ngawi. Akupun menikmati Pizza khas Ngawi: Intip Ketan! cihuy sekali.
Aku memutuskan untuk menghentikan perjalananku hari itu di Kota Ngawi, mataku tak bisa menerjang jalan luar kota, keinginan sampai di Sekaralas pun ditunda.

Selepas mencari kaos oblong dan nyetatus di warnet, akupun menghabiskan hari dengan mendinginkanbokong di sebuah losmen kemproh, pas lah! Malam itu janji tlah dibuat bahwa sesuk isuk mruput harus sudah berada di rumahnya Landa Karalas untuk sarapan pecel dan kemudian siap blusukan di Ngawi !

Jik arep onok sambungane maneh lho!

*mohon maaf, jika agak roaming hubungi translator terdekat!

oleh Cuk Riomandha pada 06 Januari 2011


Silaturahmi Situs di Akhir 2010: Menuju Trowulan (part 1)

"Mudik Ngetan" telah direncanakan secara spontan untuk menuju Surabaya dengan motoran, data-data tujuan ampiran pun tlah disiapkan termasuk juga peluru wasir untuk antisipasi jika ternyata ada kejadian "perih ndoro". Selepas mengantar Alin dan Zora menuju Kutoarjo pada hari Jumat malam, dan malam itu juga aku tiba kembali di Jogja Utara, setelah kancilen hingga jam 2 dinihari sebelum terlelap. Tepat jam 5 pagi di hari natal aku pun sudah siap menuju ke Timur.

Monumen Suryo
Tak sampai tiga jam perjalanan, aku tlah memasuki perbatasan Jawa Timur, persinggahan pertamaku adalah di Monumen Suryo yang berada di tepi jalan Solo-Ngawi, sekalian untuk mendinginkan bokong barang sejenak. Lokasi berikutnya adalah ke Benteng Pendem Ngawi letaknya berada di tepi sungai Bengawan Solo, namun sayang bapak berbaju doreng yang menjaga gerbang menuju kesana hanya berucap singkat "Sejak dulu, semuanya dari instansi manapun tidak diperkenankan melihat, apalagi memotretnya". Ok deh pak, da da! Akupun meninggalkan Baterai Markas aka Benteng Pendem Ngawi menuju arah Caruban, dan kemudian aku istirahat sambil menikmati pecel pincuk di depan pom bensin Caruban.

Candi Lor
Persinggahan berikutnya adalah ke sebuah Candi yang berada di dekat pusat kota Nganjuk, sebuah Candi yang didirikan oleh Mpu Sendok untuk memperingati kemenangan atas peperangan melawan kerajaan dari swarnadwipa. Di Candi ini pula dulu ditemukan prasasti Anjuk Kladang yang digunakan sebagai pathokan umur kota Nganjuk (Anjuk Kladang), prasasti tersebut kini berada di Museum Nasional Jakarta. Awalnya ingin juga langsung ke Candi Ngetos, namun melihat papan Situs Condrogeni 25km, membuat aku menundanya untuk perjalanan berikutnya, lagian Trowulan sudah melambai-lambai.

Candi Tikus, courtesy of Arief Budhi
Selepas siang aku sudah berada di Candi Gentong dan kemudian di Candi Brahu, tak lupa aku mengontak Pak Cip dan Cak Arief Budhi bahwa Bol Brutu harus berkumpul, tak lama berselang kamipun bertemu di Situs Siti Inggil yang diyakini sebagai petilasan Raden Wijaya. Setelah melalui negosiasi yang cukup alot, maka diputuskan aku dan cak Arief Budi melanjutkan laku, sementara pak Cip akan menunggu di Padepokan Seloaji. "Blusukan-lah seolah-olah tak ada hari esok", dan kemudian berturut-turut Candi Bajangratu, Candi Tikus, Candi Kedaton & Sumur Upas, Situs Umpak Sentonorejo, Situs Lantai Segienam sementara yang lain akan segera di datangi keesokan harinya. Mojokerto memang surganya BOL BRUTU, tak cukup 5 hari kalau kita mau serius mendatangi seluruh situs yang ada di Trowulan, Ngoro hingga lereng-lereng Penanggungan, Welirang dan Arjuno serta Anjasmoro. Akupun juga terpaksa harus memilih beberapa situs yang tak kudatangi. Tak ada penyesalan: "Istirahatlah karena besok masih banyak situs yang bisa di datangi"

Pasukan Majapahit
Sekitar jam 5 sore kami tiba di Padepokan Seloaji, wah tokoh-tokoh penting Majapahit masa kini sedang berkumpul disana dan akupun merasa istimewa. Selepas maghrib perjalanan belumlah berakhir karena aku dan cak arief menuju Mojosari: Situs Hadi Sucipto! Sejenak aku nunut mampir ngombe dan pipis. Setelah itu kami kemudian kembali menuju Trowulan, kami menyempatkan berhenti sejenak untuk menikmati Lontong Balap dan Lontong Kupang sebelum tiba kembali di Padepokan Seloaji. Mengingat pak Ribut pagi-pagi harus menuju ke Bali maka biar tak merepotkan aku kemudian memutuskan bermalam di rumah Cak Arief Budi, namun sebelum pamit Serabi Kuah khas Jawa Timur kunikmati terlebih dahulu. Sekitar jam 9 malam, kami masih cangkruk lagi bersama Cak Malik dan Cak Anam, lagi-lagi aku dapat ilmu baru: ngindik Intel ha ha ha Setelah sempat nyetatus sebentar di warnet sekitar empu nala, akupun terlelap setelah mendiskusikan tujuan persinggahan esok hari yang akan aku datangi bersama cak Arief Budi.

maturnuwun dumateng pak Cip, cak Malik, pak Ribut dan cak Arief dan kawan-kawan Trowulan lainnya yang sudah menjadi sinterklas buatku.

To Be Continued

oleh Cuk Riomandha pada 02 Januari 2011