Tampilkan postingan dengan label Kulonprogo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulonprogo. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 November 2011
Stasiun Kalimenur: Penjual Tahu tak lagi menanti Sepur Grenjeng
Stasiun Kalimenur terletak di Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, tepatnya diantara Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates. Stasiun ini kini kondisinya lusuh dan kesepian, karena sudah sekitar 35 tahun lalu beroperasi. Stasiun berhenti beroperasi pada 1974 dan dianggap tak layak lagi meski hanya untuk pemberhentian kereta berkecepatan tinggi.
Stasiun ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan jalur rel Surabaya-Cilacap, sekitar 1876-1888. Hingga masa revolusi, Stasiun Kalimenur menjadi salah satu Stasiun yang riuh dengan penumpang menunggu Kereta Uap yang sering disebut sebagai Sepur Bumel atau Sepur Grenjeng. Yang Unik, Stasiun ini dulu juga disebut sebagai Stasiun Tahu, karena mayoritas penumpangnya adalah penjual Tahu dari Tuksono, Sentolo yang hendak jualan ke Yogyakarta atau Kutoarjo.
Pada masa revolusi sekitar 1948, Stasiun ini pernah dibom oleh Belanda, hingga hampir hancur. Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) kemudian membangun kembali, dan meresmikan Stasiun Kalimenur menjadi Stoplat (Stasiun Mini) pada 1954.
Stasiun ini kini merana dan tak terawat, tulisan Kalimenur +35m terlihat semakin lusuh. Entahlah, apakah Stasiun Kalimenur termasuk sebagai Bangunan Cagar Budaya, karena tak ada papan penanda resminya.
Jadi, kapan anda datang berbagi sunyi dengan Stasiun Kalimenur ?
ditulis ulang dari http://www.matarama.co.id/news/mari-menelusuri-kejayaan-kereta-masa-silam.html
Jumat, 24 Juni 2011
Perjalanan Lintas Religi di Jogja Barat
"Setu Dewi Rabi!", salah satu tulisanku yang terpampang di papan ruang kantor, ya kawanku kantor akhirnya berani mengakhiri reputasinya sebagai "Anak Perawan". Gereja Klepu adalah lokasi ia menikah, maka melihat lokasinya aku-pun juga merencanakan agenda Blusukan he he he dan Candi Pringtali adalah tujuan utama. Lokasinya di West Prog alias Kulonprogo.

Tepat pukul 7 pagi, aku berangkat dari Turi, setelah selesai mencret, sarapan dan memandikan Alin dan Zora, kupilih jalan sepi melalui seyegan, minggir sampai akhirnya tiba di perempatan nanggulan-minggir, beli mimik lalu belok kanan arah Dekso/Sendangsono. Mak bedunduk aku melihat papan petunjuk ditepi jalan yang memaksaku untuk kembali: "Masjid Sunan Kalijogo 100m". Akhirnya, akupun tiba disana, langsung blusukan ke dalam, kutemukan pecahan kentongan Sunan Kalijogo yang legendaris itu tergeletak di bawah bedug. Masjid ini dibangun 1477 oleh Panembahan Bodho (yang disemayamkan di makam sewu, bantul) atas perintah Sunan Kalijogo. Masjid ini terletak di Dusun Semaken, Banjar Arum, Kalibawang, Kulonprogo. Di belakang masjid banyak sekali makam, yang paling tua adalah makam yang menempel di dinding masjid, sudah dikeramik dan dipagar kayu, awalnya kukira makam "bayi" karena kecil, tapi ternyata sebagian pondasi makam yang lain ada di bawah mihrab. Sayang aku lupa namanya Ki siapa gitu. Keunikan yang lain, di belakang masjid juga banyak makam dengan tanda salib alias makam Kristen dan Katolik, perpaduan yang menyejukkan di alam kubur!

Selepas dari Masjid Sulthoni Sunan Kalijogo, aku menuju arah Samigaluh, melewati Dekso, Pasar Plono dengan jalan berkelok dan menanjak serta turunan curam, aspal prothol tur mlipir meh kaligesing Purworejo. Dan sampailah daku di sebuah lokasi SD Kebonharjo di dusun Pringtali, di seberang SD tersebut tepat dibawah pohon besar Candi Pringtali berada. Sebuah Candi yang disusun (ulang) dari batu-batu yang ditemukan disekitar sana. tumpuk undung, termasuk 2 Yoni yang ditumpuk dengan cerat saling bertolak belakang. Setelah puas, akupun balik dengan memilih jalan pulang yang ternyata lebih dekat. Lewat Kenteng, melalui Desa Girimulyo dan jedulnya pas di perempatan Nanggulan-Minggir tadi.

Setelah kemudian sempat berganti batik di pinggir jalan dekat Sendang Jatiningsih, akupun langsung bergerak ke Gereja St Petrus dan Paulus, sampai lokasi langsung disambut pengantin mringis sarimbit menunggu Romo di pintu gereja. Prosesi belangsung khidmat, aku menyempatkan untuk blusukan sedikit di sekitar Gereja. Wenny sempat menyumbangkan suaranya di pernikahan tersebut, meski nyanyinya sambil merem melek sumpah ia sedang tak menyanyi dangdut! ... Aryo sempat mbrebes mili ketika sungkem, tapi Dewi malah tetep cengengesan hi hi hi ... Selamat Dewi dan Aryo, selamat berjuang ! Proficiat !
Tepat pukul 12 siang aku tiba kembali di Turi, dan langsung ganti Gir-Rantai satu set serta ganti oli ... byuh ... tungkak pun terasa sakit, karena asam urat kambuh ... perjalanan lintas agama yang menguras energi.
Tapi besok menuju selatan prambanan, semoga tak ada kendala! Sampai ketemu besok tepat jam 7 pagi di gapura batas propinsi di prambanan!
oleh Cuk Riomandha pada 17 Juli 2010
Prasasti Masjid Sunan Kalijogo
Tepat pukul 7 pagi, aku berangkat dari Turi, setelah selesai mencret, sarapan dan memandikan Alin dan Zora, kupilih jalan sepi melalui seyegan, minggir sampai akhirnya tiba di perempatan nanggulan-minggir, beli mimik lalu belok kanan arah Dekso/Sendangsono. Mak bedunduk aku melihat papan petunjuk ditepi jalan yang memaksaku untuk kembali: "Masjid Sunan Kalijogo 100m". Akhirnya, akupun tiba disana, langsung blusukan ke dalam, kutemukan pecahan kentongan Sunan Kalijogo yang legendaris itu tergeletak di bawah bedug. Masjid ini dibangun 1477 oleh Panembahan Bodho (yang disemayamkan di makam sewu, bantul) atas perintah Sunan Kalijogo. Masjid ini terletak di Dusun Semaken, Banjar Arum, Kalibawang, Kulonprogo. Di belakang masjid banyak sekali makam, yang paling tua adalah makam yang menempel di dinding masjid, sudah dikeramik dan dipagar kayu, awalnya kukira makam "bayi" karena kecil, tapi ternyata sebagian pondasi makam yang lain ada di bawah mihrab. Sayang aku lupa namanya Ki siapa gitu. Keunikan yang lain, di belakang masjid juga banyak makam dengan tanda salib alias makam Kristen dan Katolik, perpaduan yang menyejukkan di alam kubur!
Candi Pringtali
Selepas dari Masjid Sulthoni Sunan Kalijogo, aku menuju arah Samigaluh, melewati Dekso, Pasar Plono dengan jalan berkelok dan menanjak serta turunan curam, aspal prothol tur mlipir meh kaligesing Purworejo. Dan sampailah daku di sebuah lokasi SD Kebonharjo di dusun Pringtali, di seberang SD tersebut tepat dibawah pohon besar Candi Pringtali berada. Sebuah Candi yang disusun (ulang) dari batu-batu yang ditemukan disekitar sana. tumpuk undung, termasuk 2 Yoni yang ditumpuk dengan cerat saling bertolak belakang. Setelah puas, akupun balik dengan memilih jalan pulang yang ternyata lebih dekat. Lewat Kenteng, melalui Desa Girimulyo dan jedulnya pas di perempatan Nanggulan-Minggir tadi.
Proficiat ... wajah-wajah lega setelah misa ...
Setelah kemudian sempat berganti batik di pinggir jalan dekat Sendang Jatiningsih, akupun langsung bergerak ke Gereja St Petrus dan Paulus, sampai lokasi langsung disambut pengantin mringis sarimbit menunggu Romo di pintu gereja. Prosesi belangsung khidmat, aku menyempatkan untuk blusukan sedikit di sekitar Gereja. Wenny sempat menyumbangkan suaranya di pernikahan tersebut, meski nyanyinya sambil merem melek sumpah ia sedang tak menyanyi dangdut! ... Aryo sempat mbrebes mili ketika sungkem, tapi Dewi malah tetep cengengesan hi hi hi ... Selamat Dewi dan Aryo, selamat berjuang ! Proficiat !
Tepat pukul 12 siang aku tiba kembali di Turi, dan langsung ganti Gir-Rantai satu set serta ganti oli ... byuh ... tungkak pun terasa sakit, karena asam urat kambuh ... perjalanan lintas agama yang menguras energi.
Tapi besok menuju selatan prambanan, semoga tak ada kendala! Sampai ketemu besok tepat jam 7 pagi di gapura batas propinsi di prambanan!
oleh Cuk Riomandha pada 17 Juli 2010
Safari Lebaran: antara Surabaya-Bangkalan-Purworejo, pahit asin manis merdeka!
kaca gelap sancaka
Setelah absen tahun lalu, maka tahun ini adalah saatnya mudik sekeluarga ke Surabaya. Sancaka membawa kami ke negeri Sawunggaling pada hari Rabu 8 September 2010. Untungnya Jogja sudah mulai panas, jadi adaptasi dengan cuaca Surabaya bisa lebih cepat. Tahu Campur Lamongan dan Kepiting Rebus menjadi menu kami sambil menghabiskan hari. Kamis 9 September memulai hari dengan Sego Jagung Iwak Asin, dan hari ini kami sekeluarga mengisi hari dengan safari makam: makam papa di babat jerawat, makam leluhur di simo kalangan serta makam mbah soerip di manukan. Selebihnya kami menikmati hari dengan jalan-jalan sore keliling perumahan Tandes. Jadi inget filmnya Merriam Bellina deh Tandes: Sorga Dunia Di Pintu Neraka!
zora ndoprok
Jumat 10 September adalah hari lebaran, selepas Sholat Ied dan memamah biak sayur masin, aku menyempatkan diri untuk melarikan diri sendiri dari rumah mumpung belum banyak tamu. Beberapa saat kemudian aku sudah tersesat di sebuah makam tua di area Citraland untuk mencari Kijing Ki Joko Tuwo, sayang ternyata makam tersebut sudah tergusur. Meski juru kunci mengatakan bahwa Ki Joko Tuwo sering muncul di sebuah pohon depan makam, aku sama sekali tak berminat motret pohon itu. Tak sampai lima menit kemudian aku sudah berada di Masjid Al Qubro Lidah Wetan, di belakang masjid ini bersemayam Sawunggaling beserta ibu dan sanak keluarga lainnya. Ini hari lebaran, tentu saja makam itu terkunci dan juru kuncinya sedang berkumpul dengan keluarga. Tujuanku berikutnya adalah Sumur Sawunggaling di Gadel yang ketika aku SD sudah pernah kudatangi bersama sepeda mini-ku. Namun sebelum kesana aku sempat mampir ke beberapa lokasi cantik: Makam dan Pohon tua di sebelah Apartemen Somerset, Punden Sentono Sonokwijenan dan Pura Sono Pancagiri. Siang berhalal-bihalal dengan sanak kerabat, dan ditutup menikmati Lontong Cap Gomeh di rumah bude.
si manis suramadu
Sabtu 11 September dengan dibuka Sate Klopo kemudian bersama istri, alin dan zora serta keluarga adinda adalah menikmati Suramadu, TOL seharga 30ribu terbayar. Tak peduli ada rambu dilarang stop, kami tetep berhenti mengikuti puluhan mobil lain untuk berfoto he he he yah kalaupun ketilang minimal berjamaah lah. Perjalanan kemudian kita lanjutkan sampai ke pusat Kota Bangkalan. Siang kami habiskan bersama di Kompleks Masjid Agung dan Makam Raja-raja Bangkalan, sebelum kemudian ngantri Bakso Solo di Bangkalan. Hujan turun dengan deras ketika kami kemudian kembali ke Surabaya, dan malam akhirnya kami nikmati bersama Pangsit Mie.
di atas kapal fery
Minggu 12 September muncul keinginan untuk jalan-jalan dengan anak istri, awalnya mau naik Heritage Bus House Sampoerna sayang kepancal sekitar 15 menitan. Entahlah kenapa, motor yang rencananya mau ke Petekan dan Ampel kok tiba-tiba menggelinding ke arah Ujung. Dan beberapa menit kemudian kami sudah berada di kapal ferri menuju Kamal. Akhirnya naik kapal ferry juga, alin dan zora kelihatan exiting seperti ayahnya hi hi hi. Kegiatan di Kamal Bangkalan hanyalah makan siang ayam goreng dan mandi bola, lalu nongkrong di Masjid Sabilul Muhtadin Aziziyah di Tanjung Jati sambil melihat upacara di Pesariyan Sayyid Umar Said. Pada perjalanan ini Lensa Kit mulai rewel dan sering error. Tak lama kemudian, kami sudah kembali berada di Surabaya lagi. Sore hari perjalanan belum berakhir, undangan reuni di Taman Bungkul tak mungkin aku lewatkan, yah karena itu artinya aku bisa ziarah visual disana. Sebelum ke Taman Bungkul, aku sempat mampir sebentar di Ngagel, dr. Poch alias "Hitler" kudatangi, disana pula beberapa tokoh seperti dr Moerdjani, legenda Surabaya Post beristirahat. Reuni gagal dilakukan, gagal pula kuliner Nasi rawon Bungkul dan Pertulo karena masih tutup. Tapi ziarah visual di Makam Bungkul serta Semanggi Bungkul cukup menghibur. Masih sempat pula halal bihalal dengan Sutris yang berjaga di kantor HOLCIM. Tahu Campur masih menjadi menu kulinerku di rumah. Dan akhirnya aku melewati malam bersama mencret ! Sementara SMS dari Kris, bahwa BOL BRUTU dengan komposisi KB, Bli Suta dan Erson sedang dalam perjalanan ke Trowulan, Carlos menyusul kesana dari Surabaya ... hiks ngeces rek.
HOS Cafe Surabaya (courtesy of Kris Budiman)
Senin 13 September, sms masuk dari Kris: Ketemu di House of Sampoerna sekitar jam 14.00 WIB. Setelah menikmati ketan bubuk, lupis dan klanting di pagi hari, siang saatnya menuju HOS lagi. Aku sempat mampir ke Pura Jagat Karana dengan Saraswatinya yang cantik, serta ke gerbang Kalisosok. Nah di Kalisosok inilah, lensa-kit ku positif harus masuk UGD. Akhirnya makan siang dengan BOL BRUTU di HOS Cafe lumayan menghibur. Jalan-jalan ke Ampel dan pecinan tua surabaya serta di gereja kelsapa kepanjen menjadi persinggahan kami, sebelum Dewandaru Resto dengan Rumah Cina asli yang diboyong dari Tegal sebagai unggulannya. Beraneka racikan menjadi menu kami, Putri Aisiyah bergabung di resto ini, tapi memang cuma Erson yang bertugas menghabiskan hoyen-nya ... dan akupun kemudian pamit, BOL BRUTU masih blusukan di hari Selasa, sementara hari yang sama aku hanya menikmati Kupang Lontong dan Sate Kerang yang kebetulan penjualnya lewat serta kemudian melakukan perjalanan lagi menuju Jogja dengan SANCAKA. Satu gerbong dengan mas Sawung Jabo, yang minta dikabari kalau ada acara blusukan BOL BRUTU, siapa tahu bisa ikut (apa mas Jabo suruh bikinin Hymne BOL BRUTU aja yah he he he). Akhirnya Selasa 9 malam, tiba di Jogja Utara, Home Sweet Home !
Situs Glagah
Setelah Rabu masuk kantor, Kamis 16 September saatnya menuju Kutoarjo. Awalnya mau motoran bersama, namun melihat barang bawaan yang cukup riskan dengan 4 jiwa, maka diputuskan istriku, alin dan zora naik bis. Aku motoran sendiri dengan sebagian barang, ya sudah itu juga berarti bisa khusyu' blusukan. Setelah Canon istirahat, maka BRICA menjadi mata kamera-ku disini. Taman Batu milik pensiunan PJKA yang sudah almarhum di sentolo serta Situs Stupa Glagah menjadi persinggahanku. Jalan Daendels menjadi perlintasanku, karena pengen gak lewat kutoarjo via grabag, akhirnya jadi mbulet gak karuan di Mirit sebelum akhirnya menemukan jalan ke arah Prembun. Sampai di Klepu langsung di todong untuk balik ke Kutoarjo demi Bakso Pak Sukar.
alin wadas lintang
Jumat 17 September hari ini kami lewati dengan jalan-jalan ke Bendungan Wadas Lintang, Bendungan Pejengkolan bersama alin, zora dan istriku. Di perjalanan zora sempat muntah-muntah, mungkin kecapekan dan sebelum waktu dhuhur kami sudah berada di Klepu lagi. Selepas jumatan aku lewati hari dengan solo trip mengunjungi Stasiun Butuh dan Makam Misterius di dekat rel Andong Butuh. Sebelum sore pula aku sudah berada di kutoarjo lagi untuk membeli obat sariawan sambil mampir ke Klenteng Hok Tik Bio yang disekitarnya masih terlihat rumah cina tua seperti di lasem.
Prasasti Sipater dari Kompleks Masjid Tiban Jenar
Sabtu 18 September saatnya kembali ke Jogjakarta bersama istri, alin dan zora masih seminggu lagi berlibur ke rumah nenek. Sempat mampir ke Museum Tosan Aji, cuma di museum ini aku gak begitu tertarik dengan koleksi kerisnya. Prasasti Sipater dan batu-batu dari se-antero Purworejo lebih menarik. Beberapa lokasi sudah mulai memanggil untuk segera di datangi. Dan tak beberapa lama kemudian kami tiba di Jogja Utara, setelah sebelumnya shiatsu dan menikmati Soto Lamongan. Malamnya selain Bihun Sorowulan, Sariawan dan Radang Tenggorokan ... kami melewati malam minggu berdua ... Cihuy!
Pada hari Minggu, tak jadi ke kondangan karena hujan dan kelelahan secara hewani. Dan setelah hujan-hujanan mengantar istri ke Travel menuju Bogor, aku menikmati kesendirian di Jogja Utara dengan Tragis: Liverpool tumbang!
Sampai ketemu di perjalanan berikutnya! Semoga tak bosan mengikutinya ...
oleh Cuk Riomandha pada 20 September 2010
Jumat, 10 Juni 2011
Bagelen Visual Journey: Alone
Setelah gagal melakukan Surabaya Visual journey karena alasan kesehatan (fisik, mental, spiritual dan tentu saja finansial) maka melakukan perjalanan yang dekat adalah sebuah pilihan logis. Rabu siang di nandan, tensi sudah di cek oleh kak guru Asa (potograper merangkap tukang tensi), angka menunjukkan 130/90, sebuah angka yang normal (meski HCT dan Amlodipine tak boleh lupa). So, waktunya menuju Karesidenan bagelen, menemui alin dan zora yang sudah tertunda karena perjalanan ke Buitenzorg dan kesibukan menurunkan tensi. Maka dengan kerinduan yang membuncah terhadap anak-anak serta rasa kangen yang menggelora akan perjalanan itu sendiri, kamis pagi (29 Okt 2009) saya meninggalkan ndalem Pa-Cuk-an di Turi menuju Karesidenan Bagelen. Dalam perjalanan, saya sempat mampir ke Kerkhof di Mendut, ada beberapa makam tua disana. Menurut Jurukuncinya dahulu mulai jembatan hingga candi mendut merupakan kompleks gereja dan pemukiman misionaris Belanda. Namun, semuanya kemudian dibumihanguskan para pejuang karena pada masa perjuangan lokasi tersebut dicurigai menjadi markas tentara Belanda. Peninggalan dari Misionaris tersebut adalah Kerkhof serta Gapura di seberang Gereja (sekarang).
Perjalanan menuju Karesidenan Bagelen pun dimulai kemudian. Menurut Prof. Purbatjaraka, nama “Pagelen” atau “Bagelen” itu berasal dari kata “Pagalihan” yaitu daerah yang masuk wilayah Galuh.. Kata “Galih” menurut menurut pendapatnya adalah bentuk krama dari kata Galuh. Contohnya kata Pangguh = Panggih, Lungguh=Linggih, Rungkuh=Ringkih. Dengan demikian , Pegaluhan, Pegalihan, Pagelen, dan Bagelen memang merupakan wilayah kekuasaan Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura yang ditandai dengan sebuah aliran Sungai Besar, Sungai Watukura yang kemudian dikenal dengan nama sungai Bogowonto, karena dikedua tepinya banyak Begawan berada. Dalam sejarah berikutnya , daerah Watukura masih dikenang. Ini terbukti dalam naskah Negara Kertagama , Raja Hayam Wuruk masih menyebut nama tersebut. Sedangkan dalam masa kerajaan Demak, Bagelen merupakan suatu propinsi yang dipimpin oleh seorang Tumenggung. Para Kenthol Bagelen memegang peranan penting dalam pembentukan Kerajaan Mataram Islam. Sutawijaya yang kemudian bergelar Sebagai Panembahan Senapati telah mengingat persaudaran dengan para Kenthol Bagelen. Para Kenthol itu pula merupakan pasukan andalan dalam menumpas pemberontakan-pemberontakan maupun dalam operasi operasi militer, termasuk dalam pertempuran melawan VOC di Batavia. Kesatuan dan kesetiaan orang-orang Bagelen mulai digoyah, tatkala di Kerajaan Mataram timbul pertikaian. Berdasarkan Perjanjian Giyanti , 13 Februari 1755, atas prakarsa VOC Belanda, wilayah Bagelen (Purworejo) dibagi dalam dua bagian sebagian masuk wilayah Surakarta dan sebagian lagi masuk wilayah Yogyakarta. Namun pembagian tersebut tidak jelas batas-batasnya.”Tumpangpuruk, campur baur seperti rujak” Ungkap Laksono salah seorang peneliti. Pemecah belahan ini makin terasa tatkala abad ke-19 pecah perang Diponegoro.
Berdasarkan arsip, Karesidenan Bagelen tahun 1930 terdiri dari:
1. Kabupaten Ketanggong (Tanggung) dipimpin oleh Cakrajoyo atau Cakradiwirya (kelak menjadi Bupati Purworejo I, bergelar KRA Cakra Negara)
2. Kabupaten Semawung dipimpin oleh Sawunggalih .
3. Kabupaten Kutowinagun (Kebumen) dipimpin oleh Arung Binang ,
4. Kabupaten Reemo, (sekarang daerah Karanganyar Kebumen) dipimpin oleh Sindu Pati, dan
5. Kabupaten Urut Sewu (ledok /sekarang Kab.Wonosobo) dipimpin oleh Adipati Ario Blitar
Sejarah berdirinya Purworejo tak lepas dari sejarah kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Setelah Perang Diponegoro Selesai maka daerah tersebut diambil alih oleh Belanda dan dijadikan karesidenan. Pada 13 Februari 1831. ketika masa Pemerintahan Cakra Negara. Pada tahun tersebut dibangun Masjid (saat ini masih ada disebelah barat alun-alun) serta bedug terbesar di dunia bedug PENDAWA. Serta membangun Pendapa yang juga terbesar di seluruh Indonesia (saat ini menjadi kediaman dinas Bupati Purworejo). Maka Belanda memberikan penobatannya menjadi Bupati Purworejo I karena jasanya mengalahkan Diponegoro.
Catatan lain menyebutkan bahwa Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesidenan Bagelen dihapus dan digabungkan pada karesidenan kedu. Kota Purworejo yang semula Ibu Kota Karesidenan Bagelen, statusnya menjadi Ibukota Kabupaten. Tahun 1936, Gubernur Jenderal Hindia belanda merubah administrasi pemerintah di Kedu Selatan, Kabupaten Karanganyar dan Ambal digabungkan menjdi satu dengan kebumen dan menjadi Kabupaten kebumen. Sedangkan Kabupaten Kutoarjo juga digabungkan dengan Purworejo, ditambah sejumlah wilayah yang dahulu masuk administrasi Kabupaten Urut Sewu/Ledok menjadi Kabupaten Purworejo. Sedangkan kabupaten Ledok yang semula bernama Urut Sewu menjadi Kabupaten Wonosobo.
Bisa dikatakan Purworejo adalah kota yang dibangun oleh "Londo", dan yang khas Purworejo adalah "kota militer", beberapa asrama maupun bangunan tangsi belanda masih dapat dinikmati di tengah kota sekitar alun-alun Pordjo. Situs lainnya adalah Gang Afrika, merupakan tempat dari "Londo Ireng" yang konon di datangkan dari GHANA untuk membantu kumpeni menumpas perjuangan Indonesia, mungkin mirip pasukan Asia Selatan yang disebut GURKHA dulu. Selain itu di tengah kota juga terdapat kerkhof dimana konon dikuburkan disana adalah misionaris lawan maupun kawan dari Kyai Sadrach, serta juga beberapa militer. Sayangnya, kerkhof yang masih aktif digunakan itu rusak parah, mungkin tidak sampai 10 makam lama yang masih terlihat Epitaph. Penjarahan menggunakan truk dimalam hari dulu sering dilakukan, tak heran semua marmer putih hilang, dan beberapa makam terlihat dibongkar temboknya.
Sebelum ke kerkhof dan gang afrika di purworejo, saya sempatkan mampir ke masjid Al Iman Loano, yang konon di dirikan oleh Ki Cakraseorang tukang deres nira yang menjadi murid sunan kalijaga dengan nama populer Sunan Geseng. Masjid ini diduga didirikan sebelum masjid demak. Hingga kini konon tiang soko-nya masih asli. Keistimewaannya, selain tiang penyangga masih asli dengan gaya masa lalu, kayu bagian atas menyimpan guratan berbahasa Arab tentang doa dalam salat, Masjid Loano juga pada bagian puncak bangunan masjid ada Mustaka dan kayu petunjuk yang dapat berubah-ubah. Konon, perubahan kayu petunjuk menunjukkan tempat adanya musibah di Indonesia.Sunan Geseng ini pada catatan lain adalah juga Adipati Cakranegara, orang yang membangun masjid agung purworejo dan membangun bedug pendowo sekaligus orang yang kemudian membantu belanda dalam menumpas pemberontakan Diponegoro. Oleh Kumpeni, Cakranegara kemudian dijadikan Bupati pertama Purworedjo. Perjalan saya di karesidenan Bagelen berhenti di Klepu Kutoarjo (dulu dikenal dengan nama Semawung), bertemu dengan anak-anak tercinta. Jumat Jam 3 dinihari, dari klepu saya menuju ke Stasiun Kutoarjo menjemput istri tersayang yang datang menggunakan KA Sawunggalih Utama he he he.
Setelah paginya mengantar dan menjemput alin sekolah, saya kemudian bergerak lagi menuju jogja, melewati pom bensin andong yang jalan ke arah selatannya adalah menuju makam Kyai Sadrach dan gereja karangjoso. Saya singgah di Alun-alun Kutoarjo (Tordjo), sebuah rumah kawedanan ada disana, sempat digunakan sebagai museum tosan aji sebelum dipindahkan ke purworejo. Saya cukup terganggu dengan aktifitas pengecatan pada sebuah tandon air tinggalan Belanda, warna biru khas partai mendominasi. Mungkin untuk menyenangkan presiden baru yang mertuanya berasal dari karesidenan ini. Jadi ingat masa lalu dengan teror warna "Kuning" yang kondang dengan nama Kuningisasi.
Dari kutoarjo saya menuju purworejo, sekali lagi menikmati kota khas militer tinggalan londo ini, untuk kemudian meninggalkan masa kumpeni menuju masa hindu-budha/prasejarah lagi. Ya menuju Goa Seplawan yang ada candinya, dari Pertigaan bagelen dekat makam Nyi Bagelen saya belok kiri. Perjalanan penuh perjuangan dilakukan hampir 2 jam, aspal protol dan jalan tanjakan yang memaksa Suprafit yang saya tunggangi hanya mengenal 2 gigi: Gigi 1 dan Gigi 2. Goa Seplawan terletak dalam wilayah Kaligesing, Purworejo yang sudah mepet dengan wilayah kulonprogo. Perjalanan penuh perjuangan terbayar setelah sampai lokasi, tempat yang indah di puncak bukit, di gardu pandang jika tidak berawan kita bisa menikmati wates dan bahkan jogjakarta. Sayang saya sendiri hanya berada di sekitar mulut gua, lha peteng je ... ndak bawa sentolop. Yang menarik adalah ada reruntuhan candi disana, adapula cungkup yang berisi lingga yoni.
Goa ini memiliki panjang + 700 meter dengan cabang-cabang goa sekitar 150 – 300 meter dan berdiameter 15 meter. Sehingga untuk masuk ke dalam goa, pengunjung harus menyusuri anak tangga menurun. Dari mulut goa itu saja keindahan ukiran batu di dalam goa sudah terlihat jelas. Makanya tak jarang pengunjung betah berlama-lama tinggal di dalam goa tersebut. Bahkan terkadang ada orang yang sengaja masuk dan tinggal selama beberapa hari di dalam goa untuk melakukan ritual. Dan hal ini bisa diketahui dari aroma hioswa dan minyak wangi yang menyeruak dari salah satu ruangan di dalam gua tersebut. Karena agaknya ruangan tersebut memang kerap dipakai untuk menggelar ritual. Ritual di dalam goa itu sebenarnya adalah rangkaian dari ritual yang biasa dilakukan di Candi Gondoarum yang berada tidak jauh dari Goa Seplawan. Candi Gondoarum sendiri saat ini nyaris tak berbentuk lagi. Yang tersisa hanyalah bekas-bekas pondasi dasar candi, yang sepintas terlihat mirip batu biasa yang berserakan. Hanya saja yang membedakan adalah, adanya beberapa guratan ukiran pada beberapa sisi batu yang bila dirangkai bisa saling berhubungan. “Candi ini diduga lebih tua dari pada Candi Borobudur. Dan disebut Gondoarum karena waktu lingga yoninya diangkat, keluar semerbak bau harum. Sehingga sampai sekarang tidak ada orang yang berani berbuat jelek di tempat ini.“ Letak lingga yoni itu sendiri tepat di samping candi, dan sekarang telah dibuatkan satu cungkup sederhana untuk melindunginya. Sebenarnya pihak museum berniat mengamankan benda itu. Namun sepertinya “penunggu“-nya tidak mengijinkan. Sehingga sampai sekarang batu yang merupakan simbol penyatuan kehidupan tersebut tetap dibiarkan di tempat semula.
Setelah puas mengatur napas yang mengkis-mengkis naik turun di area Goa Seplawan, saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju jogja. Dan jalanan membawa motor saya menuju kokap. Di perjalanan saya melihat 2 papan petunjuk adanya vihara, sempat berhenti dan ngobrol dengan seseorang sambil melihat waduk sermo dari ketinggian, menurutnya di area tersebut memang masyarakatnya kalau tidak Islam ya penganut budha. Dalam perjalanan menuju Kokap, saya cukup beruntung sempat tahu ada Situs Gondotirto yang ada di dusun Tirto, desa hargotirto kecamatan kokap, cukup mirip dengan situs ranggapati di bogor. Setelah melalui jalan berliku memutari waduk sermo yang sejuk dengan area suaka margasatwa-nya ... akhirnya kota Wates menyambut saya. Motorpun kemudian dipacu menuju Jogja Utara
dirangkum dari berbagai sumber oleh Cuk Riomandha pada 30 Oktober 2009
Langganan:
Postingan (Atom)













