Tampilkan postingan dengan label Bogor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bogor. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

Museum Perjuangan Bogor


Museum Perjuangan Bogor, terletak di Jalan Merdeka No. 56, sekitar 3km dari Stasiun Bogor. Museum ini diresmikan oleh Komandan Korem 061/Suryakencana Letkol Isak Juarsa pada 10 November 1957. Sebagai layaknya Museum "Perjuangan", museum ini menyimpan beberapa koleksi mata uang, senjata, pakaian para pejuang, mesin tik, mesin jahit serta beberapa artikel media massa pada jaman perjuangan.


Gedung Museum sendiri dibangun oleh pemiliknya Wilhelm Gustaf Wissner pada 1879, sebagai rumah tinggal. Pada 1935, bangunan ini digunakan sebagai tempat pergerakan nasional, dan kemudian tahun 1942 digunakan oleh Jepang sebagai tempat barang-barang pampasan dari Belanda.


Pada 20 Mei 1958 setelah bangunan telah resmi digunakan sebagai Museum Perjuangan, resmi pula bangunan ini dihibahkan ke Negara oleh pemiliknya yang terakhir: Umar Bin Usman Albawahab.

Jumat, 24 Juni 2011

Macaroni Panggang di Kota Hujan


Macaroni Panggang (MP) adalah salah satu jujugan kuliner di Kota Bogor, tak pernah sepi dan selalu ramai pengunjung, apalagi di akhir pekan atau musim liburan. Letaknya berada di Jalan Salak 24, dekat Hotel Pangrango 2 Bogor, sekitar 200 meter dari Jalan Pajajaran. Bangunan yang digunakan adalah bangunan kolonial berlantai 2, dengan konsep resto taman yang lumayan menarik.


Makanan model Pasta ini memang bukan khas Bogor seperti Talas atau Asinan, namun Kuliner ini berkembang dan populer dari Kota Hujan, menjadi salah satu ikon kuliner, selain Roti Unyil. Seperti namanya, macaroni disajikan setelah terlebih dahulu di panggang. Macaroni yang dicampur dengan keju dipanggang lalu disajikan dalam alumunium foil. Mereka yang menyukainya tentu akan selalu berusaha kembali kesini, atau membawanya pulang sebagai oleh-oleh.


Di sebelah lokasi ini juga terdapat masakan model Pasta lainnya yaitu Lasagna, dengan model digulung, sayang ketika saya datang sudah terlalu malam. Macaroni Panggang yang saya dapatkan pun hanyalah ukuran Medium. Macaroni Panggang yang paling diminati terbagi atas 2 jenis, yaitu macaroni panggang biasa dan macaroni special. Untuk macaroni spesial, macaroni diisi dengan jamur hioko dan smoked beef. Tersedia pula 3 pilihan ukuran yang bisa kita pilih, mulai dari small, medium dan large. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 14.000,- sampai Rp 155.000,-. Di sini juga tersedia minuman Teh aneka rasa yang unik, serta Es Goyobod, alias Es Campur tradisional khas tanah Pasundan.

Tak ada salahnya untuk mencoba kuliner ini, setelah hujan-hujanan di kota Hujan. Awas jangan sampe telat, nanti kehabisan !

Perjalanan mencari yang Senyap di antara Riuh Batavia

Untuk Negeri
Sehari menjelang keberangkatan ke Batavia dalam rangka "dinas luar kota", daku sibuk untuk mencari "koneksi" baik berupa data, person atau waktu. Hingar bingar JCC Senayan menjadi tugas "Untuk Negeri" yang wajib dilaksanakan dalam durasi sekitar 10.00 - 19.00 WIB pada 30 September hingga 3 Oktober 2010. Perjumpaan disana juga cukup menarik, banyak teman baru, banyak barang baru dan banyak uang keluar he he he. Nah selain soal "fardhu ain", tentu saja aku berusaha melakukan hal-hal yang sifatnya "sunnah mua'kad" yaitu: Blusukan. Kapan? tentu saja diluar waktu wajib. Perjalanan pertama dimulai di Museum Nasional yang dilakukan setelah melepas lelah setiba di Jakarta dan sebelum loading di JCC. Bersama Wenny, aku bertemu Inah di antara batu-batu tua. Arca dan Prasasti dari luar jawa ternyata dahsyat-dahsyat. Aku ndak nemu Arahiwang maupun Patung Emas Seplawan, namun aku sempat melihat prasasti Nanggulan serta Ganesha cantik dari Candi Banon Muntilan, peninggalan yang lokasi asalnya tak berbekas lagi.

Pangeran Kuningan, bersemayam di bawah tangga
Esok harinya, Kamis setelah sarapan esuk umun-umun, aku menyebrang Kartika Chandra untuk ziarah ke Gedung Telkom, ya di dekat anak tangga bagian belakang dekat parkiran mobil kantor Telkom itu, bersemayam Pangeran Kuningan salah satu tokoh "Islam" masa pajajaran akhir-kolonial. Syukurlah kali ini aku bertemu Security yang sangat baik dengan mengantar langsung ke TKP. Setelahnya aku mencari sebuah masjid Tua yang berada di antara area Tentara, yaitu antara Puslit TNI dan bekas Rumah Ratna Sari Dewi yang kini menjadi museum Satria Mandala. Masjid bergenteng hijau itu adalah Masjid Tua Al Mubarok, masjid yang digunakan Pangeran Kuningan untuk beribadah, berhimpun dan menyusun kekuatan melawan Walandi.

Inah di Kota Tua
Kesempatan jalan berikutnya adalah Sabtu pagi. Aku sudah berada di Taksi menuju kota tua ketika Inah baru bangun dan belum gosok gigi. Setelah putar-putar sendiri di sekitar Kota Tua, sekitar 08.30 Inah hadir tanpa sarapan. Kamipun kemudian bercengkrama di kota tua sambil menunggu museum membuka pintu. Beberapa saat kemudian, kami berduaan menuju Museum Wayang dan Museum Fatahilah dengan diselingi gangguan telpon dari Rafael yang sedang kesepian di Bekasi hi hi hi. Perjalanan bersama Inah di Sabtu pagi ini adalah untuk mengobati dirinya yang gagal ikutan jalan ke Bogor karena delay dari Jumat menjadi Sabtu malam, serta juga sebagai ganti atas penolakanku untuk nongkrong di jalan Sabang jumat malam he he he ... belum rejeki inah ikutan ke Bogor bersama Prabu.

Prabu dan Prasasti Ciaruteun
Sedianya perjalanan ke Bogor akan kulakukan bersama Prabu Dennaga di Jumat malam, namun Tuhan mengijinkan perjalanan itu dilakukan pada Sabtu malam. Sedianya pula tujuan kami adalah ke Makam Nazi di lereng Pangrango, namun Hujan yang terus mengguyur membuat kami memilih jalan yang tak licin ke arah Ciampea. Sekitar jam 9 malam Prabu menjemput di hotel, dan mampir menjemput kontak lokal di daerah Empang. Aku sempatkan pula membeli SEMPAK di toko 24jam, kehabisan sempak ternyata di jakarta gak nyaman pake Side A dan Side B. Menjelang dinihari kita sudah berada di Prasasti Kebun Kopi. Prasasti dengan 2 Tapak gajah serta tulisan sunda yang dibaca: Jayavisalasya Tarumandrasya Hastinah Airavata Basya Vibhatidam Padadvayam (disini nampak sepasang tapak kaki gajah yang seperti airawata, gajah penguasa taruma yang agung dalam dan bijaksana). Kameraku sempat error memory card, kamera Prabu juga sempat macet disini. Sekitar 100 meter dari Prasasti Kebun Kopi, terdapat prasasti Ciaruteun yang legendaris itu. Kami bertemu sekelompok anak muda yang sedang "lelaku" beberapa orang (perempuan) diantaranya bahkan sedang berendam di Sungai Cisedane (?). Setelah sempat mampir ke Hok Tek Bio Ciampea dan makan malam di Sukasari Bogor, tepat pukul 3 pagi aku tiba kembali di Kartika Chandra. 

Husin sarimbit ...
Setelah mbangkong di minggu pagi dan kemudian bekerja menunaikan kewajiban. Sekitar jam 9 malam Husin Raharjo datang menjemput, kali ini perjalanan ditempuh dengan motor, cihuy sekali! Pemberhentian pertama adalah di Karet Bivak, dan aku melakukan ziarah visual ke makam Pramoedya Ananta Toer, Moh. Husni Thamrin dan beberapa lainnya sayang 2 orang yang sedang tiduran di makam tak tahu lokasi makam Chairil Anwar. Selanjutnya sempat berhenti tanpa turun dari motor sekitar 1 menit di Pintu Air Manggarai, 2 jepretan tergesa cukup untuk mengabadikan Prasasti Belanda di Pintu Air itu. Setelah melewati Stasiun Jatinegara dengan beberapa perempuan muda cantik di tepi jalannya, kami kemudian tiba di daerah Jatinegara Kaum. Kompleks Makam Pangeran Sang Hiyang kami datangi, sayup-sayup di seberang rumah terdengar suara ibu-ibu memainkan rebana marawis dengan lagu Prahu Layar! Makam Adipati Jayakarta di kompleks masjid tua As Salafiyah sekitar 1-2km dari Sang Hiyang kami lewatkan karena sedang ramai pengajian. Dan setelah mampir ke ATM serta membeli peluru untuk Wasir, aku tiba di hotel dinihari.

yang Tambun di Petamburan
Senin, waktunya kembali ke JOGJA. Setelah packing siap maka kami cek out jam 8 pagi. Setelah mampir ke DHL di Pancoran kami mencari satu titik sebelum menuju Bandara. Mengingat Gereja Sion tak cukup dekat, maka makam Petamburan kami datangi. Mausoleum Familie O.G Khouw yang telah didatangi Kris Budiman itu akhirnya aku datangi juga, beberapa genangan air tampak ngecembeng di beberapa lantai semen-keramik, namun rumput terlihat cantik dengan hijau basahnya. Aku kemudian blusukan sekitar bersama Wenny di makam itu, makam belanda, cina, rumah abu jepang tampak disana. Namun yang menarik adalah makam-makam Yahudi di bagian lereng bawah, sekitar 10an makam Yahudi berbeda-beda bentuk ada disana, bentuk yang paling unik adalah segitiga. Sekitar 15 menit kami berada di makam petamburan, lebih dari cukup kamipun beringsut ke Bandara Soekarno Hatta, wenny mendapat kenang-kenangan berupa gatal-gatal dari makam petamburan. Tak lama berselang, kamipun kemudian telah menghabiskan 2 porsi makanan dan minuman (masing-masing) di salah satu warung kelap-kelip menjelang Gate menuju pesawat.

Sekitar pukul setengah empat sore, mbak ninuk ternyata menyambutku di Bandara tanpa karangan bunga dan tanpa tari-tarian hi hi hi, hujan turun dengan derasnya ketika aku tiba di kantor. Selepas maghrib, akupun tiba di Jogja Utara ... Alin dan Zora pun tlah menunggu dan menagih oleh-oleh ...

Kesenyapan Jogja Utara akhirnya kutemui lagi setelah keriuhan yang tak nyaman di jalanan Batavia. Sampai ketemu di perjalanan berikutnya! 

oleh Cuk Riomandha pada 04 Oktober 2010


Jumat, 10 Juni 2011

Buitenzorg & Pakwwan: Bogor Visual Journey


Ada dua hal penting yang menjadi rujukan atas kota Bogor, kota ini dibangun oleh 2 “pihak” yaitu Kerajaan Pajajaran dimana Bogor menjadi ibukotanya dengan nama Pakuan. Pihak lainnya adalah pemerintah colonial Belanda, yang menyebut bogor sebagai Buitenzorg. Dengan berbekal beberapa artikel hasil googling, maka disela-sela menunaikan tugas sebagai suami, sudah menjadi nawaitu saya untuk melakukan visual journey di Bogor.



Kesan pertama menelusuri kota Bogor, kita langsung dihadapkan pada banyaknya Angkot … Kota seribu angkot, bahkan pada beberapa kesempatan saya sering menjumpai orang yang naik angkot meski jarak yang ia tempuh hanya sekitar 150 meter, “cik emane mlaku sak nyuk’an ae iso, ndadak nyumbang sewu”. Selain angkot, hal lain yang bias segera kita nikmati di bogor adalah pohon-pohon tua di seluruh penjuru kota, saat-saat pancaroba seperti sekarang, berita mengenai pohon tumbang cukup menjadi rutinitas. Ironis yang lain adalah, banyaknya sampah yang bertebaran di penjuru kota mungkin sama banyaknya dengan monumen, pengumuman mengenai adipura dan kebersihan kota.


Kesan kota tinggalan Belanda dengan gaya Indies, begitu kuat ketika menelusuri kota bogor dan bertemu dengan bangunan-bangunan tua: Istana Bogor, Balaikota, Stasiun Bogor, Stasiun Batutulis, Gereja Katedral, Gereja Zebaoth, Regina Pacis, … Kebun Raya Bogor juga menunjukkan hal tersebut, gedung-gedung yang ada di sekeliling luar KBR Bogor maupun yang ada di dalam, termasuk monument-monumen maupun makam menunjukkan masa-masa colonial itu.


Kebun Raya sendiri saya susuri selama 2 hari, pada hari pertama (14 Oktober 2009) saya hanya sempat menuju makam Belanda di rerimbunan Bambu serta menikmati bagian belakang Istana Bogor dengan kolamnya yang cukup cantik. Mendung semakin gelap ketika saya memutuskan keluar melalui pintu dekat kantor Pos, hujan rintik-rintik menemani saya memotret Zebaoth yang unik dengan warna coklatnya itu. Namun hujan badai yang merusak payung merah saya, memaksa saya berlindung di dalam kantor Pos hingga sore. 


Akhirnya saya menuntaskan perjalanan di situs2 dalam Kebun Raya pada 16 oktober 2009. Monumen Lady Raffles, Teysmann Park, JJ Smith Monumen, Nandi, dll. Di makam Ratu Galuh dan makam Mbah Jepra, saya tidak diperkenankan mengeksplor secara visual karena bukan peziarah oleh juru kuncinya, meski beberapa peziarah sempat berbisik “biasanya juga gak apa-apa kok dipotrek”. Makam tersebut sudah tersentuh “modernitas” dengan keramiknya. Balik dari sana sempat bertemu fotografer di jembatan gantung, ia berkata “lokasi ini trade mark saya untuk pre-wedding”. Kelelahan hari itu karena panas (tapi untungnya tidak hujan serta capek karena paginya juga jalan menelusuri Batutulis-Empang) terbayar dengan istirohat di dedaunan cafĂ© … 1 cocktail punch, 1 es kopi susu Vietnam serta kentang goreng menutup perjalanan saya hari itu.


Makam Raden Saleh saya kunjungi pada tanggal 15 Oktober dan 16 Oktober, pada hari pertama pintu pagar terkunci sehingga saya hanya memotret dari luar saja, di dalam beberapa anak tampak bermain-main di komplek tersebut. Pada kunjungan kedua saya mendapat kesempatan bertemu pak Isun Sunarya, yang mengurus makam tersebut. Makam Raden Saleh ditemukan pak Adung (paman pak Isun), ketika ia membersihkan makam raden Panoeripan leluhurnya. Makam itu kemudian di pugar oleh bung karno, dan keluarga pak Adung mewakafkan tanah tersebut untuk kompleks makam raden saleh. Tidak ada hubungan kerabat antara Raden Panoeripan dan Raden Saleh, namun di duga Raden Saleh dikuburkan disana oleh Belanda, hanya karena sama-sama bergelar Raden.


Perjalanan saya yang mungkin paling menarik adalah Visual Journey di daerah batutulis, disana saya berkesempatan mendatangi lagi Prasasti batutulis serta hunting di lokasi lainnya. Prasasti Batu Dakon yang ada di empang gang raden saleh, sangat mengenaskan lokasinya dijadikan gudang juga, ini dikarenakan karena belum secara resmi dijadikan cagar budaya oleh pemkot bogor. Situs Batu Congkrang sangat menarik karena ada ditepi jalan tanpa nama, sekilas kita dapat saja menamai sebagai Prasasti ENDURO 4T atau Situs Yang Cocok Untuk Motor Matic karena spanduk tembok bengkel di belakang situs tersebut sangat dominan. Situs Arca Purwagalih, terdiri 3 patung: Arca Purwagalih, Gelap Nyawang serta Kidang Pananjung, sayang juga saya hanya dapat memotret dari luar pagar karena digembok. Lokasi situs paling dahsyat adalah Situs Ranggapati, letaknya di belakang gereja Elohim batutulis, tepatnya dikompleks gudang elpiji, saya diantar satpam menuju lokasi tersebut, melihat statusnya situs tersebut masih aktif didatangi orang untuk melakukan ritual. Kain putih yang menyelimuti batu, tempat hio dan sesaji menambah mistis situs ini. Di pertigaan jalan Batu tulis juga terdapat makam Mbah Dalam, yang menurut ibu juru kunci disana merupakan yang pertama menyebar Islam di Bogor, namun demikian di daerah kedung badak juga terdapat makam Mbah Dalam apakah “Mbah Dalam” merujuk nama atau gelar tidak diketahui pasti, namun mungkin mirip dengan “Makam Kabayan” yaitu sebutan untuk makam sesepuh dari suatu tempat.


Menelusuri jejak kerajaan Pakuan, mau tidak mau kita harus membaca laporan-laporan dari para Kolonial di Bogor. Catatan KF Holle (1869), GP Rouffaer (1919), R. Ng. Poerbatjaraka (1921), Laporan Scipio (1687), Ekspedisi Winkler (1690), Ekspedisi Vab Riebeeck (1703,1704, 1709), Riset Pleyte (1911) dan lain-lain, menyiratkan bahwa pusat kerajaan Pakuan Pajajaran adalah mulai tanjakan jembatan empang hingga Tajur depan kompleks Lipi/pabrik paku tulus rejo yang menjadi gerbang kota yang menghubungkan lokasi kerajaannya di sekitar batu tulis. 


Batu Lingga di sebelah prasasti batutulis adalah tanda kekuasaan, Sang haluwesi. Prasasti tersebut di dirikan oleh Surawisesa (1521-1535) sebagai peringatan atas pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521). Batutulis sendiri dikenal karena Van Riebeeck mendirikan “somerhuijsje” yang dinamakan Batutulis, sehingga daerah tersebut dinamakan batutulis, dan pondoknya menjadi Istana Batutulis sekarang. Perjalanan ke Stasiun Batutulis juga cukup menarik, stasiun yang semakin renta ini konon menjadi saksi romantisme Bung Karno antara Jakarta-Bogor


Laporan Scipo sendiri mengatakan: “dat hetselve paleijs en specialijkck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ebt bewaart wort – bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan raja “Jawa” pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau”. Ini yang mungkin menginspirasi semua kantor polres, polwil dan beberapa polsek memasang patung harimau di depan, sebagai “penjaga” kota bogor.

Lebih lengkap soal cerita De Batoe Toelis te Buitenzorg dan lainnya silahkan klik di:http://www.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4233&Itemid=800

oleh Cuk Riomandha pada 20 Oktober 2009