Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2011

Safari Ramadhan: Ziarah Visual di antara Pakem dan Windusari

Alin dan Zora memandang makam, membelakangi Yoni
"Pada hari minggu kuturut ayah ke Makam !" ... mungkin itu yang dinyanyikan Alin dan Zora ketika Ahad Pagi 15 Agustus 2010, kuajak jalan-jalan ke makam Dusun Cepet Purwobinangun Pakem. Setelah melihat foto yang diperoleh Niko dari BP3, mengenai Situs Cepet, maka aku bisa memastikan bahwa lokasi dari Yoni dengan Cerat-Jengger yang unik tersebut ada di Makam. Teronggok di pojok bangunan di dalam makam, diatasnya bertumpuk batu-batu candi. Batu candi lainnya dapat dengan mudah ditemukan di area makam: tersebar di area, ataupun yang menjadi pagar. Ada yang unik lainnya, yaitu bangunan hampir ambruk di dekat pintu makam, masih terlihat papan dengan ejaan lama: "Pasarejan Dalem Kihageng, Surjomentaram Ngajogjokarto Hadiningrat, Dusun Tjepet Kapanewon Pakem, Kabopaten Sleman". Selepas dari Cepet, aku ajak alin dan zora ke agrowisata salak pondoh, sayang baik lokasi wisata agro-nya maupun Penampungan BCB Turi tergembok, udara pagi yang semilir membuat anak-anak cepat ngantuk ... dan mereka pun minta pulang.

Selagriya (courtesy of Rafael)
Selepas pagi, mak bedunduk sekitar jam 11an ... aku udah ada di pertigaan kalibening payaman magelang, menunggu Rafael dan Istri. Setelah mereka selesai ke-ban-an dan kami bertemu, maka kami langsung menuju ke Windusari dengan tujuan: SELAGRIYA. Terletak di dusun Campurejo, Kel Kembangkuning, Kec Windusari. Jika anda membawa mobil maka harus diparkir di dusun terakhir ini. Selepas dusun hanya ada jalan selebar 1 meter, dengan paving blok sampai bukit pertama. 2 bukit lainnya sudah jalan tanah. Sesungguhnya jalannya tak begitu menanjak, kita hanya melewati sisi-sisi bukit dengan pemandangan yang luar biasa ... karpet hijau dan terasiring persawahan, serta bukit-bukit hijau ada di sisi kita. Di ujung jalan yang bisa dilewati motor itu, kita akan sampai di sebuah gerbang. Anak tangga menanjak sejauh sekitar 150 meter membawa kita ke Candi Selagriya, candi yang background-nya bener2 CAKEB (pake B saking mantepnya). Candi ini sudah (di)mundur(kan) sejauh sekitar 3-5 meter agar tidak longsor. Di beberapa tempat terlihat sekumpulan batu-batu umpak dengan aneka bentuk. 

Petilasan Prasasti Mantyasih
Selepas Selagriya, kami kemudian menuju ke Kampung Meteseh, kampung ini pernah ditemukan prasasti Mantyasih yang terbuat dari logam. Prasasti (katanya) telah disimpan di sebuah Museum yang terletak di Solo. Untuk menandainya maka, di kampung Mantiasih yang kemudian jadi Meteseh itu (hiks ... malah jadi gak gaul deh namanya he he he) diletakkan batu lumpang dengan sebuah prasasti modern dari pemerintahan modern (tentu saja). Di dekat situ ada sebuah masjid kecil yang dinamai LANGGAR AGUNG MANTIASIH. Di belakang masjid itu terdapat sebuah makam yang dinisannya tertulis: Nyai Roro Ayu Utari. Konon makam ini dulunya berada di lokasi yang kini sudah menjadi jembatan. Di area sekitar petilasan dan masjid cukup lapang, pada saat ulang taun kota magelang, biasanya ada pentas wayang kulit disini dengan Babad Magelang.

Kursi Dasamuka di Makam Nambangan
Dari Meteseh kami kemudian menuju ke Nambangan. Sempat kulirik sebuah makam Kyai Sepanjang di pojok jalan menjelang pertigaan Nambangan. Namun, dengan asumsi tak menarik dan bayangan keramik jambon ada dikepala maka aku melewatkan saja lokasi itu untuk menuju sebuah makam di Nambangan. Di makam ini terdapat sebuah Yoni yang terbelah dan terlihat seperti sebuah kursi, inilah yang menyebabkan penduduk setempat menamakannya sebagai KURSI DASAMUKA. Di dekatnya nampak makam "Prasojo" (bukan Tjahjono) yang menggunakan batu candi sebagai nisannya.

"Batu Sembrani" Poh Pitu, Dumpoh
Setelah Nambangan, kami kembali lagi ke kampung DUMPOH, yang oleh penduduk magelang diyakini sebagai lokasi "bermukim"-nya Prasasti Poh Pitu, Mas Tjah telah mengkonfirmasi kalau prasasti Poh Pitu ditemukan di Klaten. Sebetulnya ketika kami bertemu orang pertama yang kami tanya, dan ternyata adalah juru kunci kami sudah curiga. Beliau mengatakan bahwa Batu yang ada di puncak Makam Gunung Tengis itu adalah "Batu Sembrani" yang sudah ditanam kembali sebagai artefak dari ritual "peletakan batu pertama" pembangunan Universitas Tidar. Uniknya memang sebuah batu dengan huruf romawi dengan gradasi cat hitam-putih tipis tertulis Prasasti Poh Pitu dari Dyah Balitung, bukti bahwa Kerajaan Medang pernah menjalin hubungan dengan Julius Caesar he he he jadi ingat yang meyakini bahwa pusat kerajaan medang ada di medari, dan dusun Kepitu Trimulyo Sleman yang aku lewati tiap hari itu sebagai Poh Pitu-nya. Kebenaran memang ruangnya adalah dalam Perdebatan, yang paling penting adalah soal Keyakinan, dan bagaimana kita menghormatinya. 

Eks Gerbang Kerkhof Magelang
Selepas Dumpoh, kamipun kemudian berpisah. Rafael dan istri kemudian entah kemana, dan aku menuju jogja. Masih sempat ku berhenti sejenak untuk memotrek bekas Gerbang Kerkhoff (makam belanda) yang ada di depan ruko-ruko di tepi bukit tidar. Sayang Kerkhoff itu sudah musnah sejak 80an awal. Baru nyadar akhirnya kalau seharian bertemu makam di semua situs yang aku kunjungi (termasuk Selagriya, Candi juga menjadi makam dengan peripih-peripih yang tertanam di sumuran candi).

Sejenak kemudian Safari Ramadhan kuakhiri ketika aku bertugas menjemput Alin dari Masjid di dekat rumah ... sesaat setelah adzan maghrib. 

Selamat berpuasa, hormatilah yang tidak berpuasa ...
Sampai Ketemu di perjalanan berikutnya. NYANDI ITU NYANDU ...

oleh Cuk Riomandha pada 18 Agustus 2010

Ziarah Situs dan menjemput Alin di Nagari Bagelen

Senin adalah hari pertama alin masuk SD, dan sebagai orang tua pasti deg-degan. Agar ada hari jeda maka Sabtu ini 10 Juli 2010, Alin yang lagi dirumah eyangnya di Kutoarjo, aku Jemput! Dan semua perjalanan, adalah petualangan, petualangan bermotoran ... dan aku memulai perjalanan dengan blusukan dulu. Hari ini BOL BRUTU ada dua Divisi: aku ke Bagelen, Kris dan Niko ke area selatan prambanan.


Situs Sitinggil Kedungpucang Bener

Situs Sitinggil di dusun Krajan, kelurahan Kedungpucang, kecamatan Bener menjadi tujuan awal. Situs ini berada di area hutan bambu ... sungguh sangat singup, setelah ke Gunungkelir dan Peneleh, baru kali ini aku merinding lagi. Di lokasi situs, terdapat 4 lumpang yang diletakkan di atas bujursangkar semen pada sebuah tanah lapang di tengah hutan bambu. Tengah lapangan terdapat pagar semen, di dalamnya ada 2 pohon besar serta 4 umpak, dibawah pohon tampak batu-batu seperti candi (kompaknya era megalithik dan klasik). Sekitar 20 meter dari sana, tepat dibawah pohon bambu yang sangat rimbun, terlihat seperti bekas penggalian, saya menjumpai beberapa batu bata tak biasa berceceran disana. Oh ya, sebelum jalan tanah menuju situs ini (dari jalan semen), ada sumber air di bawah pohon, yang dinamakan Sumur Kumbang (kalau aku gak salah denger).

Reruntuhan Benteng Kadipaten Loano

Lepas dari Bener, jalur akan melewati Loano, setelah dulu sempat mengunjungi Masjid al Iman, kini aku mengunjungi reruntuhan Benteng Kadipaten Loano, sementara makam Gagak Handoko sang adipati Loano yang misuwur itu, terpaksa kulewatkan karena agak jauh. Benteng Loano sendiri tinggal reruntuhan bata merah berselimut hijau lumut dan rumput, letaknya dekat sekali dengan masjid Al Iman, sebelah utaranya persis di sebelah bangunan milik perhutani. Tembok-tembok yang cantik dengan hehijauan lumut dan daun ...

Situs Perigi Banyuurip: Dilarang Memasuki Lokasi Ini

Sebetulnya, hanya 2 lokasi ini saja tujuan blusukanku sebelum menjemput Alin, tapi waktu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi jadi masih ada waktu. Aku-pun kemudian membelah Kota Purworejo menuju Banyuurip: Situs Perigi. Letaknya kurang dari 500 meter di selatan Kantor Desa Banyuurip (belok ke timur di perempatan pasar ngori sebelah BRI dekat kantor kecamatan banyuurip). Ketika aku datang, tampak sekeluarga dengan mikro bus sedang nenuwun disini. Yang unik, mereka sempat mengambil air di ceruk Yoni untuk dimasukkan di dalam botol. Bau dupa masih semerbak, ketika saya mulai merinding, memandang belakang cungkup dimana terdapat area dibawah pohon besar yang dibatasi bebatuan, di lokasi itu tertancap papan bertuliskan: "Dilarang Memasuki Lokasi Ini". Selain Yoni, di dalam cungkup terdapat pula batu dakon, sementara di sekitar lokasi terdapat beberapa batu hijau seperti bekas batu candi. Aku juga sempat berhenti sejenak sekitar 100 meter dari lokasi ini, di depan masjid dengan blumbang yang cukup besar. Di depan masjid tersebut, terdapat Pasar dengan 3 Los bangunan mengelilingi pohon besar ... di depan pohon itu tampak bunga-bunga sesaji. Singup !

Bogowonto: Jaka Kinthir sak motore ... 

Selepas Situs Perigi, aku jadi kebelet mengetahui lokasi Monumen Arahiwang, meski prasastinya sudah pergi ke Museum Nasional Jakarta. Dari hasil browsing, dicatat ancar2nya adalah dekat Pom Bensin Boro Wetan (jalan Jogja-Purworejo), ternyata setelah melipir dari makam di depan pom bensin. Aku dan Honda-ku harus naik rakit nambangan melintasi Sungai Bogowonto yang sedang deras itu. Pengalaman unik itu memaksaku untuk melakukan Self Portrait ... biar miring sing penting ketok! Aku tak cukup beruntung untuk mendokumentasikan monumen, karena sudah terpasang Tarub dan Geber. "Mange dalu wonten wayangan, mas". Setelah melihat pohon bersesaji di belakang monumen serta makam di dekat monumen, akupun beranjak pergi. Kali ini, tak lagi menyebrang perahu rakit tapi mengikuti jalan aspal, setelah beberapa saat aku melihat patung WR Supratman: Kota Purworejo!

Alin: Sukarelawan menjadi makara candi pawon

Tepat pukul 13.00 ketika aku sampe ke Klepu, Alin masih tidur sementara Zora baru bangun. Setengah jam kemudian Alin sudah bangun dan mulai makan siang, sementara aku siap2 packing baju alin. Zora yang melihat aku packing, langsung memakai jaket. "Zora besok ya di jemput di Stasiun Tugu, sekarang ayah cuma mau jemput kakak naik motor ke jogja". Dengan meninggalkan Zora yang menangis, aku dan Alin tancap gas, sampe pasar Kemiri alin minta pindah belakang, dan selendang menjadi tali pengikat alin ke diriku, tancap lagi! Ternyata pantatku lebih tipis dari alin, ia tak pernah minta istirahat ... bah! Sampai akhirnya akupun memutuskan untuk berhenti di Candi Pawon. Disini dapat info kalau Candi Banon Brojonalan deket Elo sudah tak tersisa sama sekali, hiks. Setelah pantat sudah mulai isis, tancap gas lagi, menghindari keramaian dari Mendut kami lewat Ngluwar, langsung keluar di Salam. Diselingi kehabisan bensin di Sooka, tepat pukul 16.15 tiba di rumah Turi: Home Sweet Home. Dan setelah mandi, kami makan bersama dengan menu: Ceplok Telor Bebek, Stik Kepiting, Timun dan French Fries bikinan Ayah ... he he he ....

Wis ya ... istirahat, sampe ketemu di perjalanan berikutnya ...



oleh Cuk Riomandha pada 10 Juli 2010 



Semarang: 5 Situs, 14 Jam dan Supra Fit

Candi Tugu
Pada satu ketika, 25 Juni 2010 ada undangan untuk berada di Semarang pagi hari. Dan jam 4.30 bersama kuda besi kemudian menuju semarang, dan itu juga berarti blusukan. Masih jam 6, ketika saya mengetuk pintu rumah adik di banyumanik, anak-anaknya pun masih tertidur lelap. Sambil melirik jam, lalu membatin "masih ada waktu 2jam untuk blusukan dulu". Dan segera meluncur menuju ke Tugurejo, ke Monumen Tugu yang menjadi batas antara wilayah Majapahit dan Pajajaran. Tugu yang dipugar jaman Belanda itu kini ditemani oleh Candi yang dibuat masa Orde Baru. Dan dari jalan masuk pemakaman Tugurejo sekitar 150 meter dari RSUD Tugurejo semarang, Candi Tugu tampak cantik dipagi hari, tracking di pagi hari akhirnya kulakukan.


Benteng Willem II
Beberapa saat kemudian saya sudah berada di lokasi "Undangan", siang dengan diselingi Jumatan, acara baru selesai, perjalanan berikutnya menanti. Saya tak memilih Lawang sewu, Gereja Blenduk, Klenteng Sam Po Kong atau Area Semarang Tua sebagai tujuan berikutnya, tapi menuju jalan pulang ! Benteng Willem II Ungaran yang terkunci menjadi pemberhentian saya berikutnya. Untuk membukanya hubungi Polsek Ungaran sebagai Juru Kunci-nya, langsung Ilang Feeling dah ... ya sudah dinikmati pintunya saja gpp.

Candi Ngempon
Candi Ngempon dan Petirtaan Derekan adalah pilihan berikutnya. Candi Ngempon berada di Bregas Kabupaten Semarang, dari Semarang sebelum Girisonta, ada jalan ke kiri. Ikuti saja jalan itu jaraknya sekitar 3km dari jalan raya Solo-Semarang, ada papan petunjuknya kok. Nanti anda akan belok kanan melewati jalan di antara pabrik dan kampung, sampai masuk hutan. Banyak orang berkerumun di pintu menuju hutan, bayar karcis 1.000 masuklah Hutan dengan motor anda (mobil cuma sampe kampung). Sekitar 3 menit, anda akan sampai di ujung Hutan, silahkan parkir motor di lokasi yang disediakan, lalu susurilah sawah menuju Candi Ngempon.

Patirtan Derekan
Petirtaan Derekan ada sekitar 200 meter dari Candi Ngempon, dipisahkan dengan sungai banjaran. Petirtaan Air panas ini ramai dikunjungi, dan merupakan situs yang baru ditemukan 2009. Arca-arca yang ditemukan sudah dibawa ke BP3 jateng di plaosan. Cara lain menuju lokasi ini dimana mobil bisa sampai di parkiran dekat petirtaan, ada jalan masuk dari Jalan raya Solo-Semarang, ada papan petunjuknya juga, sekitar 5km dari jalan raya. Selesai dari Derekan saya kembali ke arah Candi Ngempon, ke parkiran motor. Dari Jukir Candi Ngempon, dapat info situs Arca Ganesha di Bregas Lor yang dikenal masyarakat setempat "Reco Dul Jalal", sayang saya tak berhasil menemukannya meski sudah tanya sana-sini.


Candi Umbul
Ya sudah perjalanan menuju Pulang dilakukan, tapi masih ada tujuan yang perlu saya datangi sebagai BONUS setelah di iming-imingi oleh mas Pascal dan mas Rafael: Candi Umbul di Grabag Magelang. Ada papan petunjuk dari jalan Magelang - Semarang, jika menggunakan motor anda bisa masuk sampe lokasi, tapi jika mobil maka anda perlu berjalan kaki sekitar 100 meter. Mobil bisa parkir sampai pintu lokasi, jika ada masuk dari arah Grabag. Setelah puas motrek di Candi Umbul sayapun kungkum melepas lelah. Menuju jalan pulang saya memilih lewat Grabag, lalu lewat Pucang, senja yang datang memaksa saya melewatkan Situs Pucang dan masih misterius apa bentuk situsnya. Dan menjelang senja menghilang, sayapun tiba kembali di Jogja Utara, Home Sweet Home .... saatnya ngademke Silit, setelah 14 jam di atas motor

Sampai ketemu di perjalanan berikutnya, ingat selalu: NYANDI itu NYANDU ! 


oleh Cuk Riomandha pada 10 Juli 2010

Milad BOL BRUTU: Shi Quan Shi Mei !

Sepuluh Oktober Dua Ribu Sepuluh, setahun BOL BRUTU! Perjalanan setahun lalu dimulai ke Situs Kyai Sadrach. Setelah itu pula, beberapa lokasi tlah kita datangi, baik secara keroyokan maupun secara personal. Kali ini, kita berhimpun ke Muntilan, tawaran Pande Ketut Taman dan Feintje Likawati untuk menggunakan istananya sebagai lokasi berkumpul tentu saja tak elok dilewatkan. Inah yang datang dari Batavia jam 2 pagi, kemudian berada di rombongan pertama bersama Mas Ayu, Erson dan Putu Sutawijaya dengan mobil dari Sangkring. Rombongan kedua terdiri dari 3 laki-laki terlalu matang berangkat dari Minomartani: Kris Budiman, Arief Sukardono dan Bambang Suseno. Rombongan terbanyak berangkat dari Hotel Borobudur Jombor: Aku, Caesar Marnandel, Ninuk Retno Raras, Ida Fitri, Wisnu Hermawan, Hairus Salim dan anaknya, Niko Nyariwatu dan perempuannya, serta Edy Hamzah. Rafael dan Istri dan Tuan Rumah sudah stand by di Muntilan.

BOL BRUTU dan Langit Biru
Setelah meletakkan sesaji pesta di Istana Boo-Boo dan semuanya berkumpul, perjalanan memburu batu dimulai. Tujuan awal adalah Situs Gunung Gono yang berada dekat dengan titik keberangkatan, namun demikian seperti kebiasaan BOL BRUTU, rombongan brompiet KEBLASUK! Rute pun diubah langsung ke Komplek Candi Sengi, dimulai Candi Asu Sengi dahulu yang terletak di depan sebuah sekolah. Kami pun kemudian juga berjalan menyusuri ladang lombok dan tomat untuk menuju Candi Pendem Sengi. Selepas sesi pemotretan bersama ala BOL BRUTU, kita kemudian membawa tubuh dan alat transportasi kami menuju Candi Eksotik di pinggir sungai: Candi Lumbung Sengi. Menuju lokasi kami juga menyusuri sawah dan ladang cabe yang cantik. Candi Lumbung Sengi mulai tampak mengkhawatirkan, bagian belakang hanya berjarak sekitar 1 meter dengan batas tebing/jurang, sangat rawan longsor.

Gana dan Arca Wudel
Setengah dua siang, kami beranjak dari Candi Lumbung Sengi menuju Situs Gunung Gono yang secara administratif masuk ke Banyubiru, Dukun Magelang. Petunjuk situs ini adalah Makam KH Mukri, sesepuh dan penyebar islam di daerah setempat. Untuk menuju lokasi kita harus masuk ke dalam kampung, kami menitipkan kendaraan di rumah penduduk sebelum jalan mendaki sekitar 10 menitan. Ada cungkup Kyai Mukri dan Nyai Mukri serta beberapa makam lain di luar cungkup. Sekitar 25 meter dari makam naik ke atas lagi, terdapat sebuah Yoni ukuran cukup besar yang terguling, di sebelahnya terdapat sebuah Arca yang terbelah hingga hanya menyisakan perut dan kaki-nya saja, eh iya udel-nya masih ada lho. Konon pada masa lampau, terdapat komunitas Hindu serta banyak arca-arca dan batu-batu candi di Gunung itu. Menurut pak alias, KH Mukri tersebutlah yang "menepikan" situs disitu termasuk menggulingkan Yoni serta menggunakan batu dan kepala arca sebagai pondasi sebuah Masjid. Secara tak sengaja kami semua telah melakukan Ziarah Gana, karena Komplek Candi Sengi, sangat kuat relief Gana-nya, dan Situs Gunung Gono bernama demikian karena dahulu disana terdapat Arca Gana. Pas dengan Milad BOL BRUTU yang menggunakan GANA sebagai Logo-nya.

Sesaji dan Para Shaman
Milad BOL BRUTU kemudian menjadi Shi Quan Shi Mei atau "sempurna di setiap sisinya" setelah kami semua tiba dalam keadaan lapar dan dahaga di Istana Boo-Boo. Mie Gepeng Goreng, Siomay, Pasta, Salak, Bolen, Arem-Arem, Getuk Trio, Misoa Goreng, Lumpia, Lapis, Empal, Pepes Ikan, Garang Asem, Kopi Bangli, Wedang Secang, Bir Dingin, Air Mineral dan lain-lain menjadi sesaji Milad BOL BRUTU. Cukup brutal kami berusaha menghabiskan, namun masih banyak makanan yang memaksa beberapa di antara kami harus cukup sigap dengan plastik 1 kiloan untuk membawa pulang beberapa makanan itu. Kami juga menemukan sebuah "Kasus Penggelapan Gula Batu" yang dilakukan oknum Sangkring berinisial MP, karenanya ia tak jadi ikut di perjalanan kali ini he he he. Bu Jenni dengan 2 mutiaranya telah menunggu di Istana Boo-Boo sejak sore dan Cik Koni bergabung sekitar jam 4 sore. Sekitar 17.15 sebagian rombongan termasuk aku harus pamit menuju Jogja. Kami masih menyempatkan diri untuk sekali lagi melakukan sesi pemotretan bersama, dengan fotografer profesional: Arief Sukardono! Azan Maghrib berkumandang ketika aku telah bercengkrama dengan Alin dan Zora di Jogja Utara, zora sempat merajuk ketika aku bilang "Ayah bawa oleh-oleh" dia malah minta "Ale-Ale" ...

Bol Brutu (Courtesy of Arief Sukardono)
Hari ini, 10-10-10 minggu yang Shi Quan Shi Mei : Setahun BOL BRUTU ... semoga kita semua berbahagia dunia dan akherat ! Sampai Jumpa di perjalanan berikutnya. Ingat selalu: NYANDI ITU NYANDU !

oleh Cuk Riomandha pada 10 Oktober 2010


Rabu, 22 Juni 2011

Bhūmi Sambhāra Bhudhāra

Perjalanan ini terjadi karena seorang Apriadi Ujiarso, berkat beliau aku mendapatkan foto Borobudur 1930 dari Tropen Museum Amsterdam. Dari foto tersebut pula aku bisa berkenalan dengan mas Marsis Sutopo, yang kemudian kami tahu adalah Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Beliaupun sudah berkomen: "Oke, sy tunggu di Balai Konservasi..." nah tentu saja karena belum cukup PD maka aku mengajak opa Kris Budiman, Jumat kita ke Borobudur. Mohon maaf perjalanan ini memang "tidak resmi" di share ke Brutuis yang lain karena kami memang gak bisa mengajak banyak orang dalam perjalanan ini, semata-mata agar tak menjadi "wisata bencana". Henny dan Mufid ikutan sebagai relawan merapi di mobile klinik paska trip, dan Ida Fitri yang meminta ikut setelah membaca komen-komen di foto. Namun, dari pengalaman dan pengetahuan dari perjalanan ini, mungkin BOL BRUTU (gerombolan pemburu batu) bisa merencanakan sesuatu untuk situs-situs "minor" yang telah disapa abu-abu Merapi.

Banyak pengetahuan istimewa yang kami dapat dari kunjungan singkat bertemu mas Marsis Sutopo. Setelah selesai membersihkan Borobudur dari abu merapi pada tanggal 2 November 2010, ternyata merapi "melumpuhkan" Borobudur pada 5 November dinihari, pohon-pohon bertumbangan, dan debu tebal kembali menyelimuti Borobudur. Joke Arkeolog-nya adalah "hanya dengan penggalian satu strip maka langsung ditemukan lantai candi". Nah, Sulfur yang hadir bersama pasir abu merapi sifatnya korosif dan bisa merusak batu, maka sebagai antisipasinya adalah setelah dibersihkan dengan air (1 Stupa sekitar 10 Ember), sulfur di netralisir menggunakan "Soda Kue" dengan ukuran 1/4 ons dicampurkan 10 liter air untuk 2 Stupa, setelah itu Stupa akan dibungkus plastik, aktivitas ini adalah untuk merubah PH 5 menjadi PH 7. Jika merapi sudah relatif mereda, maka plastik-plastik itu akan dibuka lagi untuk dibersihkan ulang menggunakan air. Pengalaman dahsyat buat kami yang menyaksikan sendiri bagaimana abu merapi menyelimuti borobudur, pengalaman yang tak terjangkau juga bagi kami bagaimana mas Marsis dan kawan-kawan dengan ratusan relawan dari berbagai tempat melakukan pembersihan Candi Borobudur ini. Sesuatu yang harus dilakukan dengan cepat, karena tutupnya Borobudur juga sangat mempengaruhi denyut nadi kehidupan masyarakat sekitarnya. Maturnuwun mas Marsis Sutopo atas kesempatannya mendapatkan "traktiran terdahsyat", Selamat Ulang Tahun juga (maaf tadi saking asyiknya ngobrol malah jadi lupa mengucapkan selamat) ... kami merasa istimewa, bisa parkir motor hanya beberapa meter dari Sambhāra Bhudhāra.

Selepas jumpa pers sejenak dengan jurnalis tv swasta, maka kami kemudian bergerak menuju Kerkhoff Mendut ranting-ranting yang kemarin menutup beberapa makam sudah mulai bersih, namun abu-abu merapi masih mendledek di nisan-nisan. Sejenak ritual kecil Bol Brutu dilakukan tanpa dupa hanya helm hitam. Kamipun kemudian bergegas ke Candi Mendut (melewatkan Candi Pawon), masih dibuka untuk umum, meski kegiatan pembersihan juga masih dilakukan. 

Dari candi Mendut kami beringsut ke Monastery yang sedang dibersihkan oleh relawan dari Kediri, Monastery ini juga digunakan menginap para relawan yang membersihkan Borobudur yang berasal dari Semarang (PATRIA: Pemuda Theravada Indonesia). Kami hanya sejenak berada disini, karena ingin menikmati PURNAMA di tepi sungai pabelan. Pecel Wader dan Teh menjadi menu wajib kami semua.

Selepas dari PURNAMA, kami kemudian bergabung dengan rombongan mobile klinik KKY (Kerabat Kota Yogyakarta) yang mengadakan pengobatan gratis di Tangkilan sekitar 200 meter dari Purnama. Pembagian tugas dilakukan, Heny dan Ida menjadi teman curhat para penyintas yang rata-rata dari Grogolan Dukun Magelang, Mufid menjadi penerima pendaftaran periksa, aku bertugas untuk farmasi dan KB mendokumentasi. Menjelang maghrib Ida dan KB balik menuju Jogja, dan selepas maghrib aku menitipkan Henny dan Mufid ke kawan-kawan KKY karena layanan mobile klinik belum selesai, sementara aku segera menuju Turi. Sori Henny dan Mufid, aku hanya menjalankan mandat bos kalian di Blitar, tujuan ke Jogja adalah menjadi Relawan ... sampe malam. Oh ya mas Edy Hamzah adalah salah satu aktivis mobile klinik di KKY yang biasanya bertugas untuk urusan farmasi dan konsumsi.

Kabar bahwa daerah Turi zona aman telah berubah menjadi 10km tentu membuat hati berbinar, rasa rindu terhadap rumah semakin membuncah. Tak lama berselang aku tlah sampai di rumah, listrik tlah menyala ! cihuy! maka Ihik dan libil di rumah sendiri tak lagi menjadi wacana panjang he he he Esok kami akan mencoba membersihkan rumah tercinta, ayo yang mau jadi relawan di rumahku, silahkan gabung, he he he ....

Selamat Malam Sahabat Merapi !
Tetap Semangat, Selalu Waspada, Pantang Panik dan Cihuy ...

oleh Cuk Riomandha pada 19 November 2010

Desember Kelabu*

Canggal Courtesy of Mas Ayu Kumala Yulia
Angin dingin meniup mencekam di bulan Desember
air hujan turun deras dan kejam hati berdebar
kuteringat bayangan impian di malam itu
malam yang kelabu kau ucapkan kata
selamat tinggal sayang

Kali Lamat Courtesy of Feintje Likawati
Bulan madu yang engkau janjikan semakin melayang
lenyap hilang ditelan air hujan engkau tak datang
Bulan ini Desember kedua aku menanti
dua tahun sudah kusabar menanti
ku dilanda sepi

Nglumut Srumbung
Angin dingin menusuk di hati terasa oh nyeri
bulan madu tinggallah impian tanpa kenyataan

Kali Bebeng Srumbung
Sinar cinta seterang rembulan kini pudar sudah
Desember kelabu selalu menghantui setiap mimpiku

=========================================
Yulia LL Records, 1982
Beberapa waktu terakhir populer kembali melalui Yuni Shara, penyanyi spesialis "recycle song" ... Namun, lagu ini sendiri sebetulnya pertama kali dipopulerkan oleh Maharani Kahar yang memiliki nama asli "Maria Margaretha Sri Maharani Kahar", penyanyi asal Surabaya yang sempat populer juga di acara Galarama, sebuah acara mirip "aneka ria safari" produksi TVRI Surabaya. Saat ini Mbak Rani adalah karyawati sebuah BUMN dan tinggal di sekitar Pagesangan, Surabaya. Desember, adalah bulan dimana lagu ini kembali sering terdengar di berbagai radio. Tembang ini adalah ciptaan Aloysius Riyanto yang lebih populer dengan nama A Riyanto, serta juga akrab dipanggil "Om Kelik"

Apakah anda punya kenangan dengan bulan Desember atau bahkan mungkin dengan lagu ini?
(by Cuk dari berbagai sumber)

oleh Cuk Riomandha pada 09 Desember 2010


Borobudur*

Borobudur Peninggalan Luhur
Masa Jaya Jaman Dahulu Kala
Kebanggaan Putra Indonesia

Borobudur Indah dan Megah
Borobudur Lambang Budaya

Borobudur Peninggalan Luhur
Tetap Jaya di Sepanjang Masa
Turut Mengangkat Martabat Bangsa

--------------------------------------------
*lagu yang dinyanyikan oleh musisi asli Sukabumi: Memet Slamet (alm) dengan grupnya Kwartet Bintang. Pada awal 60an Memet Slamet bergabung dengan Sam & Acil Bimbo serta Jessy Wenas, Dodo dan GUNTUR SOEKARNO PUTRA (mas Tok) dalam grup ANEKA NADA, namun grup tersebut bubar. Kemudian pada 1963, Memet Slamet, Dodo, Jessy Wenas dan Guntur Soekarno Putra mendirikan grup musik bernama KWARTET BINTANG. Lagu ini sendiri merupakan ciptaan Jessy Wenas dan diambil dari album Si Gareng yang dirilis 1966 (dari berbagai sumber)

oleh Cuk Riomandha pada 14 Januari 2011

Selasa, 21 Juni 2011

3 Hari 3 Perjalanan dan 3 Cek Darah

Akhir pekan ini: 13, 14, 15, 16 Mei, aku libur dan meliburkan diri. Khusus untuk hari Jumat, situs utama yang kudatangi adalah PUSKESMAS TURI dan hasilnya adalah Tensi 120/80, Gula Darah 195, Kolesterol 160 dan Asam Urat 10 ... sempurna! he he he akupun mendapat oleh-oleh Ibuprofen (yang tidak kuminum), Allopurinol dan Metformin, serta titah untuk sementara HCT dan Amlodipine dihentikan dulu selama seminggu.


Makam di Dusun Jaranan Argomulyo Cangkringan

Nah sebelum, ke situs puskesmas Turi, pada hari Kamis 13 Mei aku melakukan Solo Trip ke beberapa situs, pertama adalah Candi Morangan di Cangkringan, merupakan Candi di Sleman yang letaknya paling utara, dekat dengan sungai gendol yang sering disambangi oleh limpahan material merapi dikala aktif. Di Candi ini pula, dititipkan 6 Batu yang ditemukan di sungai tersebut, serta 1 nandi tanpa kepala yang ditemukan di kampung sekitar situ. Meski musim hujan, ternyata Candi Morangan saat aku datangi cukup kering, Nah tragedi menimpa aku di candi ini, Celana Sobek ! Aku memutuskan untuk kembali pulang dulu ke TURI, sempat mampir untuk ngecek Dusun jaranan dan Dusun Jetis, Argomulyo Cangkringan yang konon terdapat situs, tapi mungkin bukan rejekiku atau konsen pada celana sobek membuat aku tak dapat menemukannya. Meski sebenarnya, aku sudah keliling dusun Jetis, dan sudah blusukan makam di dusun Jaranan, yang diduga menjadi lokasi situs.

Wedus Candi Barong
Setelah meresmikan celana yang sudah 3 kali ditisik itu menjadi pel-pelan, maka perjalananpun dilanjutkan. Berturut-turut, mulai dari candi Gebang yang dibelakangnya terdapat situs PSS Sleman yang membiru, lalu ke candi Banyunibo untuk melihat anak-anak muda memadu kasih, kemudian ke Arco Gupolo mencoba mencuri dengar tawa-nya, lalu ke Candi Ijo yang sedang dalam proses renovasi. Perjalanan menuju Sumur Bandung kubatalkan ketika melihat langit terlihat gelap, tapi motorku kemudian menuju arah Candi Barong, di perjalanan hujan kemudian turun dengan derasnya. Masih sempat kulihat sebuah masjid kecil yang cantik ditepi sendang. Di candi Barong, aku hanya bisa melihat Candi yang cocok untuk pentas "The Wall"-nya Pink Floyd itu dari kejauhan, ditemani 2 Wedhus Gibas. Aroma hujan, tanah basah, dan tahi kambing campur aduk! Kemudian aku memutuskan untuk pulang saja dan berjanji akan kembali ke Candi Barong lagi suatu saat! Setelah mampir di angkringan di batas propinsi di prambanan, akupun menuju utara!

... disebut pula dengan nama prasasti Dakawu

Sabtu, setelah situs Puskesmas Turi, bersama Marwan dan keluarga aku menuju magelang, Rafael WO karena sedang sibuk, entahlah. Dalam perjalanan yang basah itu, kami singgah di Candi Retno, dalam gerimis candi Retno yang sedang menghijau karena lumut itu terlihat sangat mengenaskan. Perjalanan selanjutnya adalah menuju prasasti legendaris: Tuk Mas atau Dak Awu. Prasasti ini berada di dalam kompleks sumber yang dikelola oleh PDAM. Untuk memasukinya kita harus menghubungi pemegang kunci gerbangnya. Hujan yang tak jua berhenti membuat kami kemudian memutuskan untuk pulang, tak jadi mampir ke Candi Umbul dan Situs Pucanggunung, lain kali lah. 

Kuliah arsitektur 6 sks dalam 3 menit

Minggu, 16 Mei 2010 ... adalah harinya BOL BRUTU melakukan trip. Aku, Mas Ayu Ade Putra, Danang Putu Sutawijaya, Kris Budiman dan 2 anggota baru trip Mahatmanto serta Putu Boys: Zhen Kang serta Rafael yang menyusul dari Solo adalah peserta perjalanan kali ini. candi Merak dan Candi Karangnongko adalah tujuan pertama kita. candi Merak saat ini dalam renovasi pemugaran, terima kasih buat pak slamet yang sudah membuka gerbang dan mempersilahkan kami melakukan ziarah visual disana. Setelahnya kami menuju candi karangnongko, candi yang kini menjadi rumah kadal itu (akeh tenan kadal-e) masih kesepian di tengah sawah, melirik ke arah sungai tampak batu-batu besar seperti yang ada di situs2 megalitik. Tepat dibawah pohon di ujung komplek candi karangnongko terdapat mata air, batu-batu candi tampak digunakan sebagai talud yang mengelilingi mata air tersebut. Di lokasi ini kami mendapat bonus berupa bangunan bekas pabrik makanan sapi, cukup unik seperti lingga raksasa, IRON MAN banget deh pokokna!

Kuliah Body Arsitektural 3 SKS

Lepas dari Karangnongko kami menuju Situs Kaliworo, setelah beberapa kali bertanya, kamipun tiba di Situs Kaliworo (A). Batu-batu Candi bersebaran, Yoni besar tampak kesepian di rerimbunan bambu, dan ditepi-tepi jalan tampak pula batu-batu nisan andesit yang ting gemletak. Selepas itu kita sampai di situs Kaliworo B, batunya lebih banyak. Perjalanan menuju situs ini, kita akan melewati sungai kering dengan batu-batu raksasanya. Di Kaliworo ini, Simbah Mahatma sibuk mengamati perempuan kaliworo dari sudut pandang (tentu saja) arsitektural ... hi hi hi. Paska dari Kaliworo, kami mengalami kelelahan hewani dan nabati secara bersamaan, maka situs kembul bujana harus segera dicari! Setelah tak pas dengan tampilan Yu Sri maka kitapun memilih Situs Ilham untuk mencari Ilham ... tak ada Gareng disana.

Simbah dan Simbah

Perjalanan kemudian kami akhiri di Museum Gula Gondang Klaten, setelah sempat cluthak karena langsung blusukan kemana=mana, maka tentu saja kami kemudian didatangi Sekuriti (bahkan sampai 2 kali he he he), jadi ternyata ada tiketnya disana. Yang unik, selain benda-benda ke-gula-an terdapat 1 arca ganesha, 1 Yoni dan 1 Jalawadra di homestay-nya, museum ini cukup asyik terutama untuk foto2 narsis hi hi hi, meski juga singup. Setelah mengelilingi lokasi dan masuk di museum-nya maka kamipun beranjak pulang. Rafael menuju Solo dan yang lain menuju Jogja, aku transit di jombor sebelum menuju ke utara ... kembali pada 2 bidadari kecilku !

dan ingat selalu cuk's quote: Nyandi itu Nyandu ! ha ha ha
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya ...



oleh Cuk Riomandha pada 16 Mei 2010