Sabtu, 13 Oktober 2012

Gibran on Self-Knowledge



“Your hearts know in silence the secrets of the days and the nights.
But your ears thirst for the sound of your heart's knowledge.
You would know in words that which you have always known in thought.
You would touch with your fingers the naked body of your dreams.

And it is well that you should.
The hidden well-spring of your soul must needs rise and run murmuring to the sea;
and the treasure of your infinite depths would be revealed to your eyes.
But let there be no scales to weigh your unknown treasure;
And seek not the depths of your knowledge with staff or sounding line.
For self is a sea boundless and measureless.”


Diam-diam dalam keheningan, hatimu sudah tahu, segala rahasia hari dan malam
Namun telingamu masih rindu, mendengar pengetahuan batin bersuara
Kau dambakan bentuk kata-kata untuk makna yang selama ini kau fahami dalam rasa
Kau ingin meraba dengan sentuhan pancaindra, wujud tridimensi dunia mimpi

Dan seyogyanyalah demikian keinginanmu
Sumber tersembunyi dari percikan jiwamu, harus menyembul dan mengalir ke muara, gemercik menuju arah samudra;
sehingga harta terpendam, di alas tanpa batas jiwamu terbuka nyata di hadapan penglihatanmu
Namun janganlah harta rahasia itu kautimbang dengan timbangan; 
dan jangan kauduga dengan galah atau kau ukur dengan pita ukuran
Sebab diri pribadi adalah samudra tanpa batas

------------------------------------
  • Kahlil Gibran, The Prophet "on Self-Knowledge" (New York Alfred A. Knopf, thirty-second printing, December 1993: 49); 
  • Kahlil Gibran, Sang Nabi. Diterjemahkan oleh Sri Kusdyantinah (Pustaka Jaya, Cetakan Kesebelas 1994: 75-76)
  • Telinga diperankan model :-p

diupload di FB, 30 Juli 2012

Gunungkidul: Ikan lautpun menari di bawah lenganmu *



Cepat, cepat kau buka sepatumu
Lekas, lekas kau buka bajumu
Cepat, cepat larilah padaku
Mari, mari berenang denganku


Lihat, lihat perahu layar laju
Burung-burung putih terbang jauh
Buih laut seindah bunga melati
Bagai tempat mandi bidadari


Gelombang beriring
Angin laut membelai seakan merayu
Gemercik dan bening
Ikan lautpun menari di bawah lenganmu


Hari-hari seindah lukisan
Bagai pohon bertunas impian
Jangan, janganlah kita lepaskan
Buruk kenangan dalam tulisan


Cepat, cepat larilah padaku
Mari, marilah kita bercumbu
Telah lama kurindukan selalu
Bermesraan dalam laut biru


Janganlah kau ragu
Menyelamlah lalu berpelukan denganku
Tiada yg tahu
Ikan lautpun pasti lari karena malu

===========================

*Ikan lautpun menari di bawah lenganku, lagu yang pada 70an dipopulerkan pertama kali oleh almarhum Farid Bani Adam (Farid Harja), kemudian dipopulerkan kembali oleh GIGI dan Penyanyi Jalanan di awal 2000an

Foto 1: Pantai Sepanjang
Foto 2: Pantai Jogan
Foto 3: Pantai Nglambor
Foto 4: Pantai Pok Tunggal
Foto 5: Pantai Pulang Syawal (Indrayanti)
Foto 6: Pantai Siung

hanya sebagian kecil pantai indah yang ada di kecamatan Tepus dan Tanjungsari, masih ada Timang, Ngitun, Drini, Krakal, Kukup, Baron, Sundak, Wediombo, Ngrenehan, Ngobaran, Gesing, dan banyak lagi  ...

Jadi ... Ayo ke GUNUNGKIDUL !

diupload di FB, 4 Juli 2012

Menulis Purnama


I
Ketika aku kecil, Purnama adalah seragam yang kukenakan ke sekolah, sejak putih merah, putih biru bahkan sampai putih abu-abu. Biasanya orangtuaku membelinya di Blauran atau Pasar Turi. Purnama buatku bukanlah ia yang ada di dekat Pasar Keputran, karena Tanjung, Rukun Mulyo, Garuda, Irama lebih akrab buatku. Apalagi Purnama yang itu lebih suka pada Amitabh Bachchan daripada Barry Prima, itu juga mengapa aku tak pernah mendatangi Cantik di Banyu Urip. Tapi Purnama dekat Keputran itu, kini jadi salah satu lokasi favorit buat mbadog… katanya sih.

II
Ketika diriku akil baliq, Purnama adalah seorang tokoh di kotaku. Ia duduk di depanku, bersama sekitar seratus ribu pasang mata yang menyaksikan diriku meneriakkan Bongkar dan Cinta, serta tentu saja Dirimu. Sedikit sombong kukatakan, peneriak aslinya pun bahkan belum sempat ditonton sebanyak itu. Aku lebih dulu dong, tapi tentu saja begitu karena aku hanyalah pengisi waktu sebelum “Da’i sejuta umat” berorasi. Duh, dan apalagi malam itu ayahku kecopetan di pintu keluar stadion.

III
Purnama di Jogja Utara adalah ketika aku mengajak Alin dan Zora memandang langit dan menghitung bintang, pada beberapa malam lampau. Biasanya aku duduk di kursi bertali plastik, satu-satunya kursi di teras rumah yang kami punya, sementara Alin atau Zora kadang duduk di pangkuanku atau mengambil kursi plastik yang mereka punya sendiri. Dimana Purnama? Tentu saja Purnama hadir menerangi kami yang sedang asyik mendongak berjamaah memandang langit.

IV
Purnama malam ini membuatku menggigil
Mulutku beberapa kali gemetar enggan terkatup
Menyeruak benderang, aku tak ingin menjadi srigala
Pelukan siapakah yang akan menghangatkan tubuhku?
Bibir siapakah yang mampu mengatupkan gemetar bibirku?
Baju siapakah yang bisa aku cabik, leher siapakah yang tersedia untuk aku pagut?
Siapakah? Siapakah? Oh Siapakah?
Purnama oh Purnama …
Engkaukah itu?

(Kubiarkan kemudian Pink Floyd, mengalun menemaniku menggigil ... All that you touch ... All that you see ... All that you taste ... All you feel ... All that you love ... All that you hate ...)


Jogja Utara, Malam Purnama
5 Juni 2012
THERE IS NO DARK SIDE ON THE MOON REALLY!

Sajak(e) Rindu*



Deru angin menasbihkan sunyi dalam tafakur rerumputan
Bayang-bayang bulan menjaring senandung langit
menyempurnakan khusyuk kerinduan


Namamu bersayap mengitari relung malam
mengurai sinar bulan 
pada kabut dan dedaunan yang rebah


Kita saling menyapa dalam jarak
menerawang wajah pada ribuan kata dan bentangan sunyi
Tawa dan airmata menjadi rindu
yang tak henti mengukir batu-batu dan menguntai bunga-bunga


Kaukah yang berdiri di ufuk dengan dada berpelangi?
berkirim kobaran angin pada helaian rambut 
yang terus tumbuh menghutan di kepalaku
Berkirim senandung hujan 
yang terus berjatuhan dan menyungai kata-kata dalam puisi


Pada setiap celah waktu
Pada setiap musim dimatamu
Pada beragam kisah yang mengalir 
sepanjang matahari dan bulan mengembun
sementara tabir langit membiru dingin 
membentang di keluasan malam

----------------------------
*Sajak Rindu 2
ciptaan: Anggie SW & Mukti-Mukti

diupload di FB oleh Tranz Cuk Riomandha pada 19 Mei 2012 pukul 17:55