Kamis, 30 Juni 2011

April: Perjalanan Golek Dalan PADANG !


Sudah beberapa perjalanan yang tlah kulakukan tanpa menulis Catatan Perjalanan, salah satunya adalah perjalanan ke Ranah Minang: Kota Padang! Tapi kok ya eman-eman kalau tak dituliskan ulang. Apalagi aku baru saja Go Blog di http://ziarah-visual.blogspot.com/ he he he. Ok berdasarkan ingatan akrobatik, aku akan mencoba menulis kembali perjalanan yang kulakukan pada 21-25 April 2011 lalu. Sebetulnya sebelum berangkat sudah kontak dengan mas Teguh Hidayat dan Henny Pudji Rahayu, tapi kami belum rejeki ketemu ... toh kami juga blusukan ke tempat masing2 he he he


Perjalanan ke Padang adalah melamar untuk adik bungsuku, aku ke Padang bersama Ibunda. Singkat kata, Kamis sore kami sudah berada di Padang dan malamnya dialog lamaran pun dilakukan, secara informal, apa adanya namun penuh keakraban, cukup mudah ternyata he he he. Jumat kami kemudian mulai beraktivitas untuk acara pernikahan yang akan dilakukan akhir Juli di Padang. Bonus yang kudapatkan pada hari Jumat ini adalah Jumatan di Masjid Ganting, sebuah masjid Ganteng yang mulai dikerjakan pada 1790 dan selesai 1810. Masjid ini mengalami cobaan dua kali yaitu Gempa Bumi + Tsunami pada 1833 dan Gempa Padang pada 2009 lalu, ketika aku datang, bagian mihrab masih mengkhawatirkan sehingga mihrab darurat dibuat di tengah masjid. Selain ke Masjid Ganting, bonus lainnya adalah Kuliner Ikan Djoni Kun di Kota Lama Padang: makan sekaligus mapping perjalanan hari berikutnya.


Sabtu 23 April, aku memutuskan untuk tak mengikuti lagi urusan Gedung dan Katering, aku memilih untuk meminjam motor dan memulai perjalanan. Perjalanan kemudian kumulai di Makam Turki Gunungpadang yang masuk di Nagari Teluk Bayur. Makam yang terletak di lereng pinggir jalan raya menuju Teluk Bayur itu seolah menjadi jejak Ottoman di Indonesia. Perjalanan berikutnya adalah yang paling berat yaitu menuju Gunung Padang di Muaro Padang, menyusuri Benteng-benteng Kolonial lalu menanjak ke atas, akhirnya akupun tiba di makam Siti Nurbaya, yang letaknya berada di sebuah Gua menjelang puncak. Perjalanan yang membuat aku kehabisan napas dan hampir pingsan itu, aku netralisir dengan Es Tebu di pojok Kota Tua – Jembatan Siti Nurbaya.


Setelah mulai bisa menemukan napas, aku segera bergegas menikmati Kota Tua Padang yang semakin sunyi dan sepi itu, bangunan-bangunan bergaya colonial dan tionghoa tampak begitu kuat hadir disana. Akupun tak melewatkan untuk melihat Kelenteng See Hien Kiong didirikan pada tanggal 1 November 1905. Dahulunya kota Padang tidak mempunyai kelenteng sama sekali. Pada waktu itu suku Tjiang dan Tjoan Tjioe datang untuk berniaga (dagang) di kota Padang. Kemudian didirikan kelenteng Kwan Im (Kwan Im Teng) pada tahun 1861 dengan persetujuan Raja Ham Hong Taun Sien Yu. Klenteng ini rusak berat, dihalaman depan dibangun 2 ruang darurat yang digunakan untuk ruang Altar Peribadatan serta Ruang Pengurus Klenteng. Selepas menikmati jejak-jejak Indis di Batang Arau, perjalanan kemudian adalah keliling kota dengan pemberhentian di Museum Adityawarman, Monumen Lingga Young Sumatra … menjelang sore perjalanan kututup dengan Jus Pinang yang Gahar !


Minggu 24 April, adalah hari terakhir di Padang yang memungkinkan aku untuk blusukan, maka dengan sedikit nekat akupun bergerak sedikit ke arah Padang Pariaman, selepas Bandara menyusuri tepi-tepi Samudra Hindia. Pantai yang sunyi dengan pemandangan pohon, pasir dan laut yang aduhai. Tak lama berselang aku sudah berada di Kompleks Makam Syekh Burhanuddin, yang termasuk penyebar Islam awal di Padang. Di bagian muka makam terdapat sepuluh lokan besar 20 x 30 m tersusun di sebelah kiri kanan jalan yang menghubungkan makam dengan bangunan 100 x 80 cm. Lokan-lokan ini dianggap para pengikutnya mempunyai berkah yang dapat menyembuhan berbagai penyakit. Sayang aku tak sempat mendapatkan informasi memadai mengenai Masjid Syekh Burhanuddin yang letaknya sekitar 4-5km dari makam ini.


Seolah tak bosan dengan Batang Arau, aku kembali ke Kota Lama Padang, demi Masjid Kampung Keling: Muhammadan. Mesjid Muhammadan dibangun sekira 200 tahun lalu oleh para saudagar dari India yang berdagang ke Padang melalui Muaro Padang. Pada bagian depan terdapat dua tower mesjid, yang menjadi gaya arsitektur dari Nagor, India bagian Selatan. Setelah menikmati Lontong Sayur Padang di tepi Samudra Hindia, akupun kemudian mencari bonus dengan jalan menikmati pantai ke arah pelabuhan Teluk Bayur, hari minggu banyak orang pacaran ditepi pantai. Kemudian akupun menggeber motor matik pinjaman ke Pantai Air Manis, menengok Arca bikinan Orde Baru: Malin Kundang. Minggu malam kemudian ditutup dengan makan bersama dengan Chinesse Food di Apollo Seafod Jalan Sungai Bong. Kombinasi Jalan-jalan dan Kuliner akan selalu membuat berat badanku stabil namun dinamis :p


Senin adalah jadwalku kembali ke Jawadwipa, dengan jadwal Juli akan kembali ke Padang. Dharmasraya pasti akan menghantuiku karena tak sempat aku kunjungi, termasuk di bulan Juli, semoga suatu saat ada orang khilaf yang mau mentraktir aku buat jalan-jalan menyusuri Candi-Candi di Sumatra dan Kalimantan. Di Bandara Batavia, aku menyempatkan diri untuk berfoto bersama bintang pilem yang sudah kondang misuwur: Landung Simatupang … beliau ternyata Merah juga !


Jadi begitulah … sampai ketemu di perjalanan berikutnya. Doakan ada “perjalanan” ke tempat lain di Padang pada akhir Juli nanti.

oleh Cuk Riomandha pada 30 Juni 2011


Sabtu, 25 Juni 2011

Sekonyong-konyong ke Sate Winong


"nyong mau gawekne 3 piring lha kok duwite ming loro?" 
"yo kosik, rika ojo nesu disit, tak itung disit iki piringe"

Dialog tersebut sering muncul dari sekitar 5-10 Penjual Sate yang mangkal di ujung Winong. Namun prinsipnya, mereka akan membagi rata secara gantian rejeki yang datang dari pengunjung dan pembeli Sate Winong ini. Para penjual sate ini berbaris di Warung Makmur, yang menyediakan Nasi Putih, Minuman, Krupuk dan menu lainnya. Anda langsung bayar ke sang penjual Sate untuk pesanan Sate Kambing dan Gule Kambing. Sementara untuk Nasi Putih, Minuman, Krupuk dan menu lainnya silahkan bayar secara terpisah ke Warung Makmur. Sate Winong konon terasa nikmat karena mereka memilih Kambing yang belum tua sebagai bahan utamanya.


Warung Sate keroyokan ini berada di ujung Winong, dekat dengan Masjid dan Makam Tuanku Guru Loning, jika anda dari arah Magelang menuju Purworejo, sebelum masuk kota, ambil jalan alternatif ke arah Barat, ikuti saja jalan tersebut sampai ke Winong. Dari Winong anda bisa melanjutkan ke arah Wirun-Kutoarjo atau Wirun-Kemiri dan Pituruh. Jika anda sudah berada di Purworejo, silahkan mencari jalan ke arah utara menuju Winong, bisa dari perempatan patung Ahmad Yani Purworejo ke Utara, atau dari Kutoarjo ke arah Utara melewati Makam Gunung Tugel-Wirun lalu ke Winong.


Saya sendiri terakhir makan Sate Winong adalah sekitar 2 tahun lalu, harganya masih 14 ribu untuk Satu Porsi Sate Kambing (10 Tusuk), Gule Kambing satu porsinya juga dihargai sama. Tak ada menu Tongseng di warung ini. Sejak Kambing menjadi salah satu jenis makanan yang harus saya hindari maka sejak itu pula, saya jadi jarang kesini. Kalaupun kesini bersama keluarga maka saya hanya menonton mereka menikmati Sate-Gule Kambing Winong sementara saya hanya memakan menu yang disediakan oleh Warung Makmur.

Jika anda kebetulan lewat, janganlah dihindari untuk menikmati Sate Winong yang kondang itu.


Jumat, 24 Juni 2011

Macaroni Panggang di Kota Hujan


Macaroni Panggang (MP) adalah salah satu jujugan kuliner di Kota Bogor, tak pernah sepi dan selalu ramai pengunjung, apalagi di akhir pekan atau musim liburan. Letaknya berada di Jalan Salak 24, dekat Hotel Pangrango 2 Bogor, sekitar 200 meter dari Jalan Pajajaran. Bangunan yang digunakan adalah bangunan kolonial berlantai 2, dengan konsep resto taman yang lumayan menarik.


Makanan model Pasta ini memang bukan khas Bogor seperti Talas atau Asinan, namun Kuliner ini berkembang dan populer dari Kota Hujan, menjadi salah satu ikon kuliner, selain Roti Unyil. Seperti namanya, macaroni disajikan setelah terlebih dahulu di panggang. Macaroni yang dicampur dengan keju dipanggang lalu disajikan dalam alumunium foil. Mereka yang menyukainya tentu akan selalu berusaha kembali kesini, atau membawanya pulang sebagai oleh-oleh.


Di sebelah lokasi ini juga terdapat masakan model Pasta lainnya yaitu Lasagna, dengan model digulung, sayang ketika saya datang sudah terlalu malam. Macaroni Panggang yang saya dapatkan pun hanyalah ukuran Medium. Macaroni Panggang yang paling diminati terbagi atas 2 jenis, yaitu macaroni panggang biasa dan macaroni special. Untuk macaroni spesial, macaroni diisi dengan jamur hioko dan smoked beef. Tersedia pula 3 pilihan ukuran yang bisa kita pilih, mulai dari small, medium dan large. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 14.000,- sampai Rp 155.000,-. Di sini juga tersedia minuman Teh aneka rasa yang unik, serta Es Goyobod, alias Es Campur tradisional khas tanah Pasundan.

Tak ada salahnya untuk mencoba kuliner ini, setelah hujan-hujanan di kota Hujan. Awas jangan sampe telat, nanti kehabisan !

Arak-arakan Khataman Qur'an di Bulan Maulid, Negeri Bagelen

Penganten Khatam Qur'an
Di Negeri Bagelen, tepatnya di Kecamatan Butuh dan Pituruh Purworejo, setiap menyambut Maulud nabi, selalu dilakukan acara perayaan, yaitu arak-arakan bagi anak-anak yang telah khatam AL QUR'AN. Anak-anak ini di dandani seperti ketika 17an atau Kartinian. Anak-anak yang sudah khatam tersebut di arak dengan duduk menunggang Kuda. Pada sekitar bulan Maret 2009 lalu, saya kebetulan menyaksiakan arak-arakan ini di Klepu-Pepe dan Tanjung. Arak-arakan dilakukan dari Masjid di Tanjung menuju ke Masjid di Klepu.

Yihaaaa
Arak-arakan ini di meriahkan dengan tetabuhan rebana, bedug serta bunga kertas warna-warni yang diujungnya diletakkan snack atau uang seribu rupiah ...

Selama perjalanan banyak yang meminta atau berebut bunga-bungaan tersebut. Adegan yang ditunggu adalah ketika pawang kuda-nya menampilkan atraksi untuk meng-he-he-hi-heh-kan kudanya hingga berdiri ... cukup unik, karena meski anak-anak perempuan itu tidak berlatih terlebih dahulu untuk berkuda, namun tak ada satupun yang jatuh dari kuda atau terinjak kaki kuda. Yang ada hanya senyuman ceria mereka yang khatam dan tempik sorak para pengunjung. 



Saya memperhatikan, kok tidak ada anak laki-laki yang khatam Al Qur'an ya? ... he ... he ... Sangat berbeda dengan arak-arakan yang juga dilakukan di pusat keramaian Kutoarjo, masih banyak terlihat anak laki-lakinya. Arak-arakan di Kutoarjo juga menyediakan becak hias, selain kuda. Ritual menjelang Maulud seperti ini, telah menjadi event budaya yang rutin di hampir semua penjuru Kutoarjo. Seperti ketika malam takbiran dimana banyak anak-anak melakukan pawai memukul bedug dan menyalakan oncor ...

Adakah kegiatan serupa hadir di tempat tinggal anda semua?