Kamis, 17 November 2011

Royal Wedding jelas lebih asyik daripada Reshuffle

Dua hari ini rasanya aku sedang mengalami psikosomatis di pagi hari, dan di kantor. Setiap pagi, aku selalu bersin-bersin, keluar keringat dingin dan badan seperti demam, melayang ... Anehnya semua langsung sirna begitu keluar kantor ha ha ha. Sepertinya aku sedang mengalami apa yang juga (mungkiin) sedang dialami oleh hampir seluruh orang di penjuru Yogyakarta: Demam Royal Wedding. Selasa, 18 Oktober ... aku memaksa diri untuk mengambil cuti setengah hari demi mengobati demam tersebut. Tak sampai berapa lama, aku sudah berada di depan Kraton Yogyakarta berkerumun bersama para juru potret yang sibuk menguber para tamu yang baru keluar Kraton, juru potret itu menawarkan hasil potretan kilat itu kepada para tamu dengan harga tertentu. Aku pun sempat memotret para juru poto ceria ini, dan mereka bertanya, "Sesuk, metu teng KR napa Tribun mas?" ... "Fesbuk!" jawabku singkat, ha ha ha. Selepas reuni uluk-salam dengan Kyai Wiyadi, akupun kemudian bergerak ke utara.

Setelah sejenak anjangsana ke Alun-alun Lor itu, tak lama kemudian aku sudah memarkirkan motorku di Ramai Mall, untuk kemudian bergegas menuju kompleks Kepatihan. Aku melihat seorang ibu dengan sopan bertanya kepada penjaga gerbang, dan terjadi pembicaraan serius soal ijin masuk dan seterusnya. Buat aku itu adalah peristiwa menguntungkan, karena aku bisa langsung nyelonong masuk hingga pendopo Bangsal Kepatihan, sebelum akhirnya disuruh pergi oleh Satpol PP ... tanpa tanda pengenal serta tak memakai batik dan sepatu, ha ha ha. Alhamdulillah aku tetap bisa mengabadikan Masjid Sulthoni Kepatihan, meski tak sempat menemukan makam tua di kompleks Kepatihan itu (menurut Wisnu Hermawan, makam ada di basement ... sebelah mana?)

Selepas dari Kepatihan, aku bergegas menuju titik nol ditengah panas terik dan belum makan siang. Akhirnya sambil menunggu Edy Hamzah, aku menghabiskan 2 botol minuman, semangkuk Bakso dan semangkuk Empek-empek ... masih mbayar, yang gratis belum buka :-p Setelah bersua Edy Hamzah, kamipun kemudian berusaha mencari posisi yang pas, untuk bisa memotret pesta Dhaup Ageng ini. Tapi kami tak beruntung, karena Lantai atas Kantor Pos sudah terlebih dahulu terisi oleh para Sniper berbaju doreng. Aku kemudian meninggalkan Edy untuk bergerak menuju kerumunan di Utara titik nol.

Perjalanan ke Utara titik nol ternyata tak bersahabat untuk aku yang ingin motret, karena aku tak seberuntung Caesar yang bisa naik ke Lantai atas BNI, akupun juga tak bisa mengakses Resto Mirota Batik, sementara untuk menyeberang dan naik ke atap Pasar Bringharjo juga tak bisa lagi karena sudah penuh lautan manusia. Uyel-uyelan dan tersamul di antara ibu-ibu dan adik-adik SMP-SMA menjadi pengalaman buatku he he he aku sempat terjepit dan tersangkut dalam perjalanan menuju Ramai Mall. Sementara itu Angkringan, Mie Ayam, Ronde dan beberapa penjual Gratisan yang tersedia sepanjang jalan sudah ludes

Akhirnya aku kembali lagi menuju titik nol, dan di antara ribuan manusia ... rombongan penganten akhirnya lewat dengan riuh tepukan, lambaian dari ribuan pengunjung yang memenuhi jalan sejak Rotowijayan-Titik Nol- Achmad Yani-Malioboro hingga Kepatihan, akupun tak beruntung, karena tak bisa memotret pengantennya ha ha ha. Namun demikian, rasanya tetap puas menjadi bagian dari ribuan manusia yang berada di poros Kraton-Kepatihan sore ini. Bersama rombongan ibu-ibu yang sengaja datang dari Pekalongan urunan sewa mobil, bersama serombongan masyarakat dari Rongkop Gunungkidul yang rencananya akan menginap di Masjid Gedhe sebelum esok pagi menuju Terminal Giwangan untuk kembali pulang, serta bersama ribuan masyarakat lainnya yang sengaja datang untuk berpesta meski hanya sekedar melambaikan tangan untuk Dhaup Ageng ini. Selepas menanti berkurangnya kepadatan di warung pak Billy dan mbak Rus, akupun kemudian bergegas menuju Selatan, rencananya mau ke Sangkring ... namun ternyata kepadatan masih belum pudar setengah jam selepas Maghrib, ya sudah akhirnya aku menuju ke Jogja Utara: Home!

Terbukti "Monarki" itu luar biasa sodara-sodara, militansi rakyatnya, ceria masyarakatnya ... wah ... cihuy sekali deh. Bahkan sampah-sampah yang bertebaran sepanjang Malioboro akan menjadi rejeki juga bagi rakyat. Tampak sudah siaplah kalau memang mau jadi negara sendiri he he he, meski aku tetep mikir "arep tilik mbah-e Anak-anak di Bagelen ndadak pake Paspor" ha ha ha ... Refleksi lainnya adalah menjadi rakyan jela(n)tah juga asyik, biar gak bisa motret manten-nya tetep cihuy he he he ... Royal Wedding jelas lebih asyik daripada Reshuffle

Jadi yang pengen melihat potret manten-nya silahkan cek album teman-teman anda yang lain ... he he he

diaplot di Fesbuk oleh Cuk Riomandha pada 18 Oktober 2011 jam 22:20

Stasiun Kalimenur: Penjual Tahu tak lagi menanti Sepur Grenjeng



Stasiun Kalimenur terletak di Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, tepatnya diantara Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates. Stasiun ini kini kondisinya lusuh dan kesepian, karena sudah sekitar 35 tahun lalu beroperasi. Stasiun berhenti beroperasi pada 1974 dan dianggap tak layak lagi meski hanya untuk pemberhentian kereta berkecepatan tinggi.




Stasiun ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan jalur rel Surabaya-Cilacap, sekitar 1876-1888. Hingga masa revolusi, Stasiun Kalimenur menjadi salah satu Stasiun yang riuh dengan penumpang menunggu Kereta Uap yang sering disebut sebagai Sepur Bumel atau Sepur Grenjeng. Yang Unik, Stasiun ini dulu juga disebut sebagai Stasiun Tahu, karena mayoritas penumpangnya adalah penjual Tahu dari Tuksono, Sentolo yang hendak jualan ke Yogyakarta atau Kutoarjo.




Pada masa revolusi sekitar 1948, Stasiun ini pernah dibom oleh Belanda, hingga hampir hancur. Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) kemudian membangun kembali, dan meresmikan Stasiun Kalimenur menjadi Stoplat (Stasiun Mini) pada 1954.




Stasiun ini kini merana dan tak terawat, tulisan Kalimenur +35m terlihat semakin lusuh. Entahlah, apakah Stasiun Kalimenur termasuk sebagai Bangunan Cagar Budaya, karena tak ada papan penanda resminya.


Jadi, kapan anda datang berbagi sunyi dengan Stasiun Kalimenur ?


ditulis ulang dari http://www.matarama.co.id/news/mari-menelusuri-kejayaan-kereta-masa-silam.html

Stasiun Purworejo: Kereta Itu Tak Lagi Singgah


Awalnya Pemerintah Kolonial Belanda hanya membangun rel dari Kutoarjo menuju Purworejo sepanjang 12 km dengan tujuan untuk mendukung mobilitas dan perekonomian. Hingga kemudian dirasa perlu dibangun sebuah Stasiun yang menghubungkan Kutoarjo-Purworejo, maka Stasdsspoorwagen pada 20 Juli 1887 resmi membangun Stasiun Purworejo dan selesai sekitar hampir 1910 dengan struktur beton 8 meter dengan luas sekitar 850 meter persegi.




Stasiun Purworejo letaknya di dekat Alun-alun Purworejo serta di dekat pusat perekonomian Purworejo yaitu Pasar Baledono. Dengan demikian, seperti Stasiun Kutoarjo yang juga terletak di pusat perekonomian, maka pembangunan Stasiun Purworejo diperuntukkan untuk mempercepat mobilitas perekonomian antara Kutoarjo-Purworejo.




Stasiun ini sempat mengalami beberapa kali status non-aktif, terakhir diaktifkan oleh Menhub era 1990an Haryanto Dhanutirto. Seperti Stasiun Wonogiri dan Cilacap, Stasiun ini hanya melayani satu rute saja tiap harinya, dari Purworejo menuju Kutoarjo dengan kereta Feeder. Itupun sejak November 2010, Kereta Feeder tak lagi beroperasi. Kini meski resmi menjadi Bangunan Cagar Budaya, Stasiun Purworejo selain hanya menjadi tempat pemesanan tiket kereta, ia justru lebih tenar sebagai lokasi Warung Soto Sapi yang enak. 


Mungkin akan menarik jika Stasiun ini digunakan sebagai tempat kegiatan Kebudayaan, bagaimana menurut anda?



Museum Perjuangan Bogor


Museum Perjuangan Bogor, terletak di Jalan Merdeka No. 56, sekitar 3km dari Stasiun Bogor. Museum ini diresmikan oleh Komandan Korem 061/Suryakencana Letkol Isak Juarsa pada 10 November 1957. Sebagai layaknya Museum "Perjuangan", museum ini menyimpan beberapa koleksi mata uang, senjata, pakaian para pejuang, mesin tik, mesin jahit serta beberapa artikel media massa pada jaman perjuangan.


Gedung Museum sendiri dibangun oleh pemiliknya Wilhelm Gustaf Wissner pada 1879, sebagai rumah tinggal. Pada 1935, bangunan ini digunakan sebagai tempat pergerakan nasional, dan kemudian tahun 1942 digunakan oleh Jepang sebagai tempat barang-barang pampasan dari Belanda.


Pada 20 Mei 1958 setelah bangunan telah resmi digunakan sebagai Museum Perjuangan, resmi pula bangunan ini dihibahkan ke Negara oleh pemiliknya yang terakhir: Umar Bin Usman Albawahab.